Mengikis Penyesalan

Standard

Dua tahun lalu, seorang kawan kehilangan bapaknya. Di satu kesempatan ketika saya berbincang dengan dia, keluar kalimat, “Sering-sering deh lo peluk, lo cium, dan lo bilang sayang ke orang tua. Mumpung masih ada. Jangan kayak gue, ngelakuin itu semua pas bokap udah meninggal. Nyesel.”

Saya cuma termenung. Pesan semacam ini bukan sekali dua kali saya dapatkan. Lewat berbagai pengalaman orang, kutipan-kutipan bijak yang berseliweran di media sosial, saya sering diingatkan akan pentingnya menunjukkan cinta ke mereka yang terkasih, selama nyawa masih di raga.

Tapi lucu bukan? Petuah tersebut acap kali tidak kita indahkan. Menyentuh? Tentu. Hanya saja yang namanya manusia, kerap baru menyadari sesuatu itu sangat berharga saat sudah kehilangan…

Mama saya meninggal di hari Jumat malam, 14 April 2017. Ketika dokter menyalami Papa sambil meminta maaf dan mengucap belasungkawa, saya berjalan pelan menghampiri Mama yang terbaring dengan wajah tenang. Serasa mimpi… Mama terlihat seperti tidur, namun dokter telah memastikan, Mama sudah tiada. Tekanan darah yang mendadak tinggi membawanya pulang ke pangkuan Tuhan.

Di ruang Unit Gawat Darurat itu, rentetan kilas balik memenuhi benak dan mengirim beragam kenangan. Menyedihkan, hampir semua yang saya rasa adalah penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Terngiang perkataan entah siapa, “Gue bersyukur pas ibu gue lagi payah-payahnya, gue selalu ada di samping beliau persis.” Sedangkan saya? Tidak. Saya malah ada di parkiran rumah sakit, duduk di mobil sepupu, bercerita tentang kolapsnya Mama sore itu.

Ada lagi, “Sebelum bokap meninggal, untungnya kita sekeluarga udah sempat jalan-jalan bareng.” Saya? Nggak. Empat tahun terakhir saya selalu menunda liburan dengan Mama, dan ketika tiket pesawat sudah dibeli, kesehatan Mama malah makin menurun sehingga di hari perjalanan, Mama batal ikut dan meninggal sehari setelah saya kembali dari liburan sendiri. Liburan yang harusnya jadi liburan kami berdua.

Saya melawan begitu banyak penyesalan sejak hari Mama pergi. Kekecewaan, amarah, ketidakikhlasan. Bisa dibilang, saya cukup merusak jiwa sendiri… sampai akhirnya satu malam saya berusaha mengingat hal-hal yang pernah saya lakukan dan mungkin sempat membuat Mama bangga dan bahagia, demi membikin hati saya sedikit lega dan tidak terlalu dimakan duka.

Momen demi momen saya runutkan. Berhasil masuk sekolah negeri, sudah tidak minta uang jajan lagi sejak lulus SMA karena saya kuliah sambil bekerja, bisa mengajak Mama ke luar negeri untuk pertama kali, kado ulang tahun pernikahan Mama Papa berupa video kisah cinta mereka, merayakan Hari Ibu dengan sekotak bunga segar, sampai akhirnya saya teringat bahwa mungkin, mungkin saya sedikit mengambil bagian dalam menyempurnakan pemakaman Mama karena kehadiran keluarga jauh yang tepat waktu, karena Traveloka.

Menjelang tengah malam kala itu, kakak sepupu saya di Medan menelepon. Dia minta dipesankan tiket ke Jakarta karena beberapa saudara Papa mau datang melayat. “Kalau bisa yang paling pagi,” pintanya. Jari saya mengetuk logo Google, mengetik http://www.traveloka.com dan segera melakukan pencarian. Nama Traveloka memang otomatis muncul di kepala tiap kali saya mau memesan tiket pesawat. Nggak perlu susah-susah cek website tiap maskapai, Traveloka akan bantu mendapatkan harga terbaik lewat fitur best price finder-nya. Di kolom “urutkan” selain pilihan harga terendah, ada juga waktu berangkat paling awal, paling akhir, waktu tiba paling awal, paling akhir, dan durasi tersingkat. Saya menyentuh “waktu berangkat paling awal” di layar.

Satu penerbangan paling pagi tersedia di pukul 5 dari Kuala Namu. Saya menghitung. Jika tidak ada penundaan, jam 7 pesawat tiba di Soekarno Hatta. Menunggu bagasi, menuju Depok akan memakan waktu 2.5 jam paling cepat. Saya resah, sempatkah? Mama rencana dimakamkan jam 9 tepat. Tapi berhubung memang penerbangan itulah yang paling pagi, kakak sepupu saya tidak berpikir dua kali. Hanya dengan beberapa kali sentuh, mengisi data nama dan gelar, pembayaran mudah lewat e-banking, kode tiket langsung masuk lewat SMS, keluarga Papa di Medan sukses mendapat tiket terbang ke Jakarta.

Mukjizat juga terjadi. Pagi itu pesawat lepas landas sebelum jam yang seharusnya, lantaran penumpang sudah checked in semua sedari dini; menjadikan om, tante, dan kakak sepupu saya sampai rumah tepat ketika kami bersiap mengantar Mama ke peristirahatan terakhir. Mereka sempat menatap wajah Mama untuk terakhir kali.

Ah… Andaikan tidak ada online travel agency 24 jam seperti Traveloka, yang memudahkan pembelian tiket pesawat kapan pun dan di mana pun, maka tak mungkin keluarga dari pihak Papa bisa hadir. Traveloka bikin pemakaman Mama #JadiBisa diiringi lebih banyak sanak saudara.

Mengingat itu semua, saya setidaknya bisa sedikit mengikis penyesalan. Setidaknya ada sesuatu yang saya lakukan saat akhir menutup mata Mama. Tinggal Papa yang saya punya, tentu tidak ingin saya ada penyesalan serupa.

“Desember nanti Tante Sumey datang ke Medan,” cerita Papa lima pekan lalu.

Tante Sumey adalah adik Papa yang tinggal di Amerika sejak tahun 1970-an. Sudah sepuluh tahun mereka tidak berjumpa.

“Papa mau ke Medan juga?” tanya saya, disambut anggukan.

Ibu jari ini pun bergerak sigap membuka aplikasi Traveloka yang kini telah terpasang di telepon genggam.

“Jadi, mau berapa lama di sana?”

Advertisements

3 thoughts on “Mengikis Penyesalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s