Rusia, Rumah Kedua

Standard

Mungkin, karena satu-satunya negara di luar Asia yang pernah saya kunjungi cuma Rusia, maka sampai sekarang masih terbayang semua yang pernah saya lalui di sana. Mungkin, kenapa visa Australia dan Amerika saya ditolak, karena Tuhan menakdirkan saya untuk jatuh cinta dulu pada Negeri Beruang Merah, yang musim panasnya pun terasa dingin sampai suhu 5 derajat Celsius, yang bahkan pernah mencapai minus 89 derajat Celsius di musim dingin tahun 80-an.

26bba410-35dd-479b-b665-8dee67935826

Tidak berlebihan jika saya menyebut Rusia sebagai rumah kedua. Di tahun 2017 dan 2018, karena saya sempat menjadi relawan Piala Konfederasi dan Piala Dunia FIFA selama masing-masing tiga minggu dan satu bulan di tiap tahun tersebut, maka di Rusia saya menjalani hidup lebih dari seorang turis. Kazan, Moskow, Saint Petersburg, Bolgar, Sviyazhsk, Novosibirsk; kota-kota yang menjadi tempat penugasan, transit, dan sedikit pelesir, adalah saksi bagaimana saya dihadiahi beragam pengalaman, pengalaman yang jadikan Rusia sebagai a place to remember, tempat untuk dikenang-kenang. Mengapa? Izinkan saya bercerita, sambil kamu menikmati foto-foto yang tersisip acak di sini dan di sana.

d27c60a9-f7d7-4961-a672-9cbe534a519c

Rusia menyadarkan saya, bahwa membaca tentang dunia saja tidak cukup.

Begitu mengetahui saya akan ke Rusia, beberapa orang menitip pesan. Hati-hati, kata mereka. Di sana rasis, apalagi kamu berhijab. Hati-hati, kata mereka. Orang-orangnya tidak ramah, mereka jarang tersenyum. Untunglah, saya tidak termakan kata-kata mereka. Semua yang mereka ucapkan, mungkin hanya berdasarkan propaganda media.

Di Kazan, yang jumlah Muslim dan Kristennya seimbang, saya selalu disapa dengan “Assalammualaikum” tiap kali melangkahkan kaki di banyak sudut kota. Ketika saya di Saint Petersburg yang mayoritas Kristen, saat itu bulan puasa, saya masuk ke warung makan kecil untuk berbuka. Si pemilik warung menggratiskan pesanan saya, dan bahkan membekali saya pizza untuk sahur.

Di Moskow, ketika saya tersasar karena mencari letak Red Square Kremlin, seorang remaja yang tidak bisa berbahasa Inggris membuka aplikasi penerjemahan di telepon genggamnya untuk memberi tahu saya cara menuju ke sana. Ketika saya kebingungan membeli karcis Metro, seorang bapak lewat gerak tubuh tanpa kata-kata, memandu saya masuk stasiun; sambil dikeluarkannya koin-koin, dia menolak mata uang Rubel yang saya sodorkan. Senyum hangat terkembang di bibirnya, memberi tanda kalau tiket saya itu dia yang bayar. Senyum saya? Lebih lebar lagi.

67fa5077-81c9-477f-89bc-9d7c412cffa5

Rusia membuka mata, membuka pikiran.

Kurang piknik, sering netizen berkata pada mereka yang dianggap tidak berwawasan luas. Eits, tidak, tentu saya tidak bermaksud ikutan julid. Namun memang, semakin kita jauh menjelajahi Bumi Allah, semakin kita melihat, bahwa dengan orang yang tinggal ribuan kilometer dari rumah, kita semua telah terhubung sejak pertama kali manusia berkembang biak. Pernah tahu camilan Indonesia yang namanya gabus manis? Di Rusia ada chek-chek, mirip dengan gabus manis. Kita mengenal kue dadar, di Rusia ada blini. Tak asing dengan kebab kan? Di Rusia ada juga yang serupa, namanya kuritza karthoskoi.

Selain itu, karena selama jadi relawan saya juga punya banyak teman internasional, saya mengetahui bahwa di Nigeria sana, mereka makan Indomie pakai nasi, Indomie sudah seperti makanan utama! Dan saya sempat jengkel karena teman saya Godwin mengklaim Indomie berasal dari Nigeria. Ish!

45e7269d-0d27-49f0-b6dd-d6e7f77b97ad

Rusia menjadi tempat berbagi mimpi.

“Gue pengen punya rumah di pinggir jalan, di kota kecil. Bertingkat. Lantai dua ada kamar buku, berjendela besar dengan dudukan luas. Jadi gue bisa baca sambil senderan, meluk bantal, dan kalau hujan gue bisa merenung sambil menatap ke jalanan di luar,” cerita saya pada Francesco, bocah asal Italia yang juga seorang relawan, kala kami makan siang di restoran Yunani.

“Gue juga!” responnya antusias.

Dan itu kawanku, bukan hanya satu-satunya saya bisa berbagi angan (dengan orang yang siapa sangka lahir di saat saya berumur 13 tahun) di negara jauh. Beragam angan berbeda lainnya juga saya bagi dengan teman-teman yang saya dapatkan di Rusia.

img_8960

Rusia mengubah pandangan saya tentang esensi liburan.

Empat minggu tinggal di negaranya Putin, tepatnya kota Kazan, membuat saya menjalani hidup seperti warga lokal. Ke mana-mana naik trem, bis, dan Metro. Ke mana-mana jalan kaki. Saya hafal di luar kepala, jalan-jalan kecil yang tidak umum dilalui. Belanja keperluan sehari-hari, makan di kedai kecil, melepas penat di taman, sesekali bergaul di mal dan main ke kota tetangga, dan tentu saja bekerja membantu jalannya pertandingan Piala Dunia di Stadion Kazan Arena. Karenanya, saya tidak mau lagi liburan cuma tiga hari atau seminggu. Kali ini saya mau libur besar. Menabung banyak selama setahun setengah, tahan cuti, lalu pergi ke negara yang jauh. Tinggal selama tiga minggu, hidup seperti penduduk asli. Saya ingin pulang sebagai manusia yang lebih luas pemikiran.

2d558aa5-aac4-4efa-810c-d4ee83fa4fbd

Rusia adalah di mana semua bisik pengharapan saya jadi nyata.

Di Rusia, beragam hal yang pernah saya sebut dalam hati, banyak terpenuhi. Menetap di asrama seperti anak-anak yang kuliah di luar negeri, check! Road trip sambil menikmati kanan kiri jalan dipenuhi pepohonan, padang luas tak berpenduduk, langit megah yang terasa rendah, check! Membawa bendera tim nasional favorit saya, Argentina, saat lagu kebangsaan berkumandang di pertandingan Piala Dunia, check!

424fd070-7b54-4f2b-9929-1bcfa8336863

Ahhh… Ingin sekali saya mengulang semua. Sayang, waktu yang lewat, tak bisa saya tarik lagi. Tapi, saya selalu bisa kembali ke Rusia, bukan? Dan untuk kamu yang juga ingin main ke Negeri Tirai Besi, saya rasa kamu perlu tahu ini:

Membuat visa Rusia tidak rugi. Kedutaan tidak akan meminta pembayaran sebelum semua syarat pendaftaran lengkap dan disetujui.

img_8963

Mata uang Rusia, Rubel, tidak mudah didapat di Indonesia, tapi kamu selalu bisa membawa Dolar Amerika untuk ditukar di bank di sana. Untuk yang tidak punya kartu kredit, bisa bawa kartu debit berlogo Visa atau Mastercard (beberapa bank sudah mengeluarkan kartu debit yang bisa dipakai di banyak negara, cek ke bank kamu ya).

Rusia tidak mahal. Kalau kamu pergi ke kedai kecil yang biasa didatangi warga lokal, satu porsi mengenyangkan yang terdiri dari sepiring pasta, semangkuk sup, sepotong ayam bisa ditebus seharga Rp. 25,000. Air kemasan mahal kalau kamu beli yang ukuran kecil. Ukuran 1,5 liter cuma Rp. 5000-an.

49be6c0e-ed6b-4576-85ba-4b6655594972

Tiket pesawat ke Rusia juga terjangkau! Kamu bisa mendapatkan tiket PP senilai Rp. 4,500,000 di saat ada promo.

Jangan lupa juga beli buah tangan khas Rusia yaitu Matryoshka, boneka kayu yang beranak pinak. Kalau badannya kamu buka, di dalamnya ada boneka lain. Buka terus sampai boneka kayu terakhir yang terkecil.

6b7f4eba-d015-4e65-8ec4-b1445d6b46fc

Terakhir, Rusia itu raksasa sekali! Jangan hanya mengunjungi Moskow atau Saint Petersburg kalau kamu punya waktu panjang. Blue Lake, Mesjid Qolsharif, akan memukau kamu di Kazan. Padang rumput terbentang luas akan menyapamu di Bolgar. Pedesaan kecil di pinggir sungai akan mencuri hatimu di Sviyazhsk. Kebun binatang besar dengan hewan-hewan yang belum pernah kamu lihat sebelumnya bisa kamu pandangi di Novosibirsk.

6497e336-2954-407b-90ba-33f30e6efbc2

Kesemuanya, begitu rupawan untuk difoto. Tidak perlu kamera berat canggih, cukup bawa smartphone yang mampu menangkap kecantikan Rusia. Kebetulan, smartphone idaman saya di tahun 2018 wajib punya kriteria kamera yang bisa bokeh depan belakang, dan memori minimal 64 GB. Salah satu merek, sebut saja HUAWEI nova 3i. Smartphone ini punya empat keunggulan yang siap memenuhi kebutuhan saya sebagai travel blogger.

  1. Kamera dual lensa baik di depan atau belakang. Hasil bokehnya otentik dan jernih. Kemampuan mengenali beragam lingkungan berbeda menjadikan foto lebih tajam serta optimal. Feeds Instagram saya makin kece deh.
  2. Penyimpanan memori besar. Wah, tak ingat berapa ribu foto dan berapa ratus video singkat yang saya ambil selama dua kunjungan ke Rusia dulu. Supaya jauh dari kekesalan gara-gara memori penuh padahal liburan masih panjang (sempat terjadi dan saya harus hapus beberapa aplikasi), saya perlu smartphone seperti HUAWEI nova 3i karena punya kapasitas 128 GB, melebihi kemauan saya.
  3. Desain premium nan elegan. Mau warna hitam untuk kesan jantan? Ada. Incaran saya jelas iris purple. Warna gawai cantik menggelitik saya untuk makin bersemangat menggunakannya.
  4. Powerful performance. Kinerja lambat tentu memunculkan frustrasi. Apalagi bagi saya yang hobi jepret, edit, posting; rekam, edit, posting; buka blog, tulis kisah, terbitkan. HUAWEI nova 3i memiliki performa luar biasa yang sanggup mendukung keperluan media sosial saya dengan lancar bahkan untuk kegiatan gaming sekalipun.

Alamak, membayangkan ada di Rusia sambil foto-foto dan ber-Instagram Story, mengenalkan belahan dunia di luar Indonesia ke para followers, saya dibuat rindu sekali sama negara satu ini. Semoga Tuhan akan mempertemukan saya dengan dataran di timur Eropa dan utara Asia kembali. Rusia, a place to remember… forever.

img_8964

===

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog www.nurulnoe.com.

Advertisements

8 thoughts on “Rusia, Rumah Kedua

  1. Wah saya jadi kepengen pergi ke Rusia..
    Kapan ya?
    Ya Allah..suatu saat insya Allah bisa kesana..amin..
    Aku orgnya ga begitu terobsesi harus pergi ke suatu tempat..tapi, Alhamdulillah tiba2 saja bisa pergi..😊😊
    Adem lihat view dan tempat2 di Rusia..

  2. Subhanalllah itu Rusia mbakk?
    cakep sekali pemandangannnya mbak, benerann dehhh huhuu
    Smoga bisa kesana lagi dan foto-foto sama kamera dari smartphone Huawei Nova 3 i nya yah mbak
    Salam kenal dari Bumi Jember ^_^

  3. Rusia termasuk salah satu negara yang masuk daftar impianku. Walaupun selama ini aku cuma berpikir akan ke Moscow dan St. Petersburg aja. Tapi setelah aku baca tulisanmu ini, aku juga akan masukkan Kazan ke dalamnya. Sepertinya menarik.

    Btw, supaya dapat gambar dan suasana yang kece seperti di foto-foto ini harusnya berkunjung di musim apakah? Ini pas musim panas ya?

    • Moskow dan Saint Petersburg memang terasa Eropanya banget sih ya kalo liat gedung-gedungnya. Terutama Saint Petersburg, aku merasa beda aja di kota ini dibanding Moskow. Sama-sama kota besar tapi Saint Petersburg lebih memuaskan untuk dijelajahi. Hehehe… Iya enak musim panas, awal Juni. Masih transisi dari dingin ke panas jadi enak aja cuacanya. Kalo udah masuk musim panasnya, main ke Kazan karena di sana terasa banget langitnya rendah. Dari Kazan tinggal naik boat aja trip sehari ke Bolgar. Aduh kangen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s