Wejangan Hidup Mami

Standard

Bukan hanya seorang pebisnis sukses yang layak dianggap inspirator, bukan pula mereka dengan gelar dan posisi tinggi. Setiap manusia sejatinya adalah pembawa inspirasi bagi manusia lain, tidak terikat batasan apapun.

Kita semua. Tidak terkecuali.

Sering kita mendengar, “Apalah gue cuma butiran pasir,” atau “Apalah gue cuma remahan kue nastar di pojok toples.” Sungguh, butiran pasir mencipta pantai yang indah, dan remahan kue nastar tetap jadi incaran. Jangan merasa kecil, karena saya dan kamu tanpa disadari pasti pernah menjadi seseorang yang membawa perubahan bagi orang lain. Dan berbicara inspirasi, ada wanita yang menjadi inspirasi saya sejak kanak-kanak. Beliau yang saya panggil Mami; nenek dari 6 anak, 13 cucu dan 13 cicit. Raganya sudah tidak ada, namun wejangan selama beliau hidup tertanam mantap di hati saya.

Nama aslinya Sukaesih, lahir di tahun yang sama dengan deklarasi Sumpah Pemuda. Saya panggil Mami karena terbiasa sejak kecil mendengar om dan tante memanggil beliau dengan nama tersebut. Ya, beliau adalah nenek saya. Hidup Mami sebagai wanita dewasa tidak mudah; namun menjadi janda saat anak-anaknya masih SD dan SMP, seorang diri membesarkan 6 anak yang masih kecil, tidak membuat beliau berkeluh kesah.

“Repot nggak Mi, kan Mami merawat anak-anak tanpa almarhum Papi?” tanya saya suatu saat. Kami berdua sedang asik duduk di dapur dengan secangkir teh menemani. Ritual Mami tiap sore.

“Repot, apalagi Om Iwan paling susah diatur. Kalo nggak suka sama masakan Mami, dia suka lempar piring,” jawabnya sambil terkekeh, tapi tetap nampak matanya menjadi berkaca-kaca mengenang masa lalu. “Mami akalin aja, Mami beli gelas dan piring kaleng, supaya awet,” lanjut Mami bersemangat.

“Kamu sebelum nikah puas-puasin dulu deh melakukan apa yang kamu suka, supaya kalo udah jadi orang tua, kamu nggak ada lagi penyesalan karena nggak punya waktu bersenang-senang. Mami waktu nikah sama Papi udah puas banget nonton film di bioskop, sampai rasanya udah nggak bisa dibohongi lagi sama cerita di film.”

Mami sendiri menikah di usia 25 tahun, cukup untuk membuatnya dilabeli “perawan tua” karena rata-rata wanita saat itu menikah di umur belasan. Dari sore-sore yang diisi minum teh itulah banyak sekali cerita Mami yang membuat saya merasa bangga bisa menjadi cucu beliau, dan merasa ingin sepertinya. Bukan apa, sebagai generasi yang tumbuh di jaman penjajahan, menurut saya Mami punya pola pikir yang cukup jauh dari kata tradisional.

“Bagus kalo perempuan bisa memasak dan bersih-bersih rumah, tapi kamu harus bisa lebih dari itu. Ini diisi,” Mami menunjuk ke kepala. “Perempuan tetap harus belajar, punya ilmu, itu akan bawa kamu lebih dari sekedar dapur. Kamu kan pendidik anak nanti.”

Bayangin, itu diucapkan seorang nenek kelahiran 1920-an.

Kilas balik ke tahun-tahun saya masih sekolah dasar. Satu hari saya menemukan majalah terbitan untuk anak TK yang Mami simpan. Saat membuka-buka halamannya, saya melihat satu cerita pendek ditulis oleh Sukaesih. Tentang anak yang takut lomba senam namun akhirnya berani tampil dan menang.

“Ini karangan Mami?” saya penasaran.

Beliau mengangguk. “Mami juga suka nulis diary,” ditunjukkan catatan bersampul coklat yang merekam kesehariannya. Dari situ saya jadi minta dibelikan buku harian bergembok dan bercita-cita bisa menulis seperti beliau. Sukses lah Mami menularkan hobi menulis setelah sebelumnya menularkan hobi membaca. Ya! Sering melihat Mami duduk santai di teras dengan novel di tangan, saya kecil jadi meniru kebiasaannya. Bahkan tiap Lebaran, kalau cucu lain dihadiahi uang, saya dibelikan buku-buku cerita. Tanpa gambar. Biar angan saya melayang, alasan Mami.

Mami juga sosok yang membuat saya si tubuh gemuk, tumbuh percaya diri. Orang lain mungkin cuma bisa menyarankan, “Kurusin badan. Diet.” Mami saya bilang, “Siapa yang nggak mau punya badan bagus? Tapi selama masih gemuk, jangan minder. Yang penting senyum, baju kamu rapi, gaya, badan kamu wangi, kulit kamu bersih. Orang tetap suka sama kamu.”

Itulah mengapa kamu jarang liat saya bermake-up, tapi sini deh dekat-dekat. Aroma harum pasti kamu cium. Sini deh salaman. Haluuus. Sepatu saya juga lucu-lucu kan? Senyum saya juga selalu terkembang. Haha! Namun, yang paling dahsyat dari semua, adalah ketika Mami berkata, “Mimpi bukan cuma punya anak muda. Kita sering nasehatin mereka untuk meraih mimpi, tapi ketika kita menua kita menimbun mimpi sendiri karena merasa untuk apa.”

Saya terpekur dan teringat. Mami yang lulusan sekolah guru, disebut Opleiding Voor Volg Onderwyzeres pada masa itu, telah berkarir sebagai pengajar sejak tamat pendidikan. Ketika Papi meninggal, dan butuh biaya besar merawat anak, Mami meninggalkan pekerjaan kesukaannya untuk menjadi agen asuransi supaya pendapatan lebih baik. Tetap disimpannya mimpi bekerja di dunia pendidikan. Sampai ketika akhirnya Mami sukses menyekolahkan semua anak dan tidak bekerja lagi, Mami mengembangkan satu taman kanak-kanak yang bisa dibilang adalah TK pertama di tempat tinggal kami. Hidup beliau didedikasikan untuk sekolah ini hingga akhir hayat.

Ah Mami… Betapa kami sangat dekat sebagai nenek dan cucu. Meski beberapa bulan sebelum Mami meninggal kami sempat bertengkar karena hasutan orang, dan sungguh hal itu membuat saya sangat menyesal, selalu tertutur maaf di tiap doa saya. Semoga Mami tahu, bahwa saya sangat menyayangi beliau. Sangat sayang. Terima kasih Mami, untuk menjadi orangtua kedua setelah Mama Papa, untuk selalu ada untuk saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s