The Highlights of My New York Trip

Standard

Meski sudah selesai di New York City, saya masih tetap berada di New York dan melanjutkan perjalanan ke kota lain. Kebetulan, kakak Papa tinggal di Niagara Falls. Beliau memegang dua kewarganegaraan, Amerika dan Kanada. Saya memanggilnya Tante Imey. Tante Imey tinggal bersama Om Kim An, dan anak mereka yang pertama, Cici Linlin, tinggal di New Jersey dan kebetulan memang akan menemui orangtuanya. Jadilah saya nebeng dia, road trip dari New Jersey ke Niagara Falls.

Continue reading

New York New York (2)

Standard

Agenda saya di New York memang free and easy. Saya ikut aja ke mana keluarga Papa saya ajak. Setelah di hari pertama saya jalan kaki sebanyak 7 jam keliling Lower Manhattan dan beberapa area New York City lainnya, sisa 4 hari ke depan saya menghabiskan waktu dengan nonton final Piala Dunia di pesta ulang tahun sepupu saya, Joey, ngeliat New York City di malam hari, makan-makan bersama keluarga, dan lihat patung Liberty gratis dari atas kapal ferry.

Continue reading

New York New York (1)

Standard

Kebangetan emang. Di hari ke-11 sejak saya tiba kembali di tanah air, saya baru mulai melanjutkan lagi tulisan tentang perjalanan saya di Amerika Serikat! Jetlag yang saya rasakan terasa lebih parah. Saya akan mengantuk sekali di siang hari, beberapa kali bahkan bablas tidur sampai tengah malam; lalu segar dari malam hingga pagi hari dan itu saya pakai untuk berjibaku dengan tesis S2 yang harus segera saya selesaikan. Menulis blog pun jadi tidak sempat. Alhamdulillah-nya, kemarin siang saya sudah daftar sidang tesis, sehingga sekarang saya bisa sedikit lowong untuk bercerita tentang pengalaman saya di New York, tepatnya New York City.

Continue reading

Kok Mau Sih Nggak Dibayar Jadi Relawan FIFA?

Standard

Di tulisan saya tentang cara jadi relawan FIFA, saya udah bilang nggak mau panjang lebar menjelaskan kenapa kok saya mau-mau aja keluar uang dari kocek sendiri untuk jadi relawan FIFA. Intinya, tiap orang memang pasti punya cara masing-masing untuk menilai sesuatu. Tapi geregetan juga sih ya, karena ada komen-komen yang mencibir. Dibilang, “Kalo nggak punya duit cuma mimpi.” Nggak, nggak, kalo emang kita niat pasti akan cari segala cara. Saya di Rusia dan Qatar mendapat sponsor untuk tiket pesawat, di Amerika mendapat bantuan dari teman dan keluarga dan bahkan orang-orang yang baru saya temui. Dibilang, “FIFA udah dapat keuntungan besar kok mau aja tenaga dan waktu dipake tanpa bayaran?” Well, saya mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mendapat timbal balik pengalaman yang luar biasa sebagai relawan internasional, untuk meningkatkan kualitas diri saya sendiri.

Continue reading

Keseharian Relawan FIFA

Standard

Agak kagets juga ya saya. Ada foto di Instagram yang likes-nya mencapai 22 ribu lebih. Kalah foto saya sama David Beckham. Kalah juga foto saya sama pelatih Bahrain yang isinya penuh hujatan sampe saya tutup kolom komentar. Haha. Bersyukur, karena masih bisa menjadi inspirasi di usia tua begini, bukan siapa-siapa juga saya kan. Kali ini saya mau sedikit bercerita tentang keseharian saya menjadi seorang relawan FIFA. Meski tiap area fungsi berbeda, kurang lebih secara garis besar sama.

Continue reading

Liburan di Seattle

Standard

Belasan tahun lalu saya kerja di Wall Street English Jakarta. Berteman dengan seorang guru nativ Amerika bernama Rafika. Nggak lama, Rafika naik jabatan jadi bos saya, dan meski beberapa bulan setelahnya dia balik ke Amerika, kami tetap berteman baik. Selama bertahun-tahun, dia menjadi orang yang selalu bawain saya hal-hal berbau Justin Bieber, mulai dari permen kesukaannya, sampai boneka Barbie Justin Bieber. Kebetulan Rafika nikah dengan orang Jakarta, jadi dia rutin juga ke Indonesia mengunjungi keluarga suami, dan oleh-oleh Justin Bieber pasti selalu dia bawakan. Atas desakan saya tentu.

Continue reading

Main-main ke Fort Worth Stockyards dan Meow Wolf

Standard

Gawat nih, saya keteteran lanjut nulis cerita perjalanan selama di Amrik. Haha. Terlalu banyak bersenang-senang, sampe nggak terasa besok udah pertandingan terakhir di Dallas Stadium, lalu pesta perpisahan, dan… selesai tugas saya sebagai relawan FIFA. Kali ini saya mau sedikit bercerita tentang tempat-tempat wisata yang saya datangi yaitu Fort Worth Stockyards dan Meow Wolf!

Continue reading

Mau Jadi Relawan FIFA di Piala Dunia?

Standard

Ini adalah tulisan ketiga saya terkait cara menjadi relawan FIFA. Waktu Piala Dunia 2018 dan 2022, saya udah pernah cerita juga dan untuk Piala Dunia 2026 kembali saya beberkan meskipun sebenarnya nggak ada yang berubah. Haha. Banyak yang nanya lewat DM Instagram, ya udah saya kasih tau lagi.

Secara proses, tahapan seleksi relawan FIFA cukup sederhana dan nggak ribet. Dimulai dari daftar, tunggu dapat email lolos seleksi, datang ke wawancara online, lalu tunggu lagi deh untuk penentuan diterima atau nggaknya (lolos seleksi pendaftaran bukan berarti sudah terpilih resmi). Di luar itu memang ada yang sedikit berbeda. Misal, untuk Rusia dulu, saya melakukan tes Bahasa Inggris online setelah submit pendaftaran, dan wawancaranya one-on-one. Untuk Qatar, tidak ada tes Bahasa Inggris dan wawancaranya berupa group interview (sekitar 12 orang). Untuk Amerika juga tidak ada tes Bahasa Inggris dan tidak ada wawancara. Kita cuma disuruh datang ke tryout lewat Zoom berisi 70-an kandidat, dan sesinya menurut saya lebih ke pengenalan terkait acara, kegiatan relawan, dan area-area tugas yang akan diisi oleh relawan. Yang menantang? Persaingannya. Rusia dulu ada lebih dari 150.000 pendaftar, Qatar lebih dari 500.000, dan Amerika Serikat – Kanada – Meksiko lebih dari satu juta!

Continue reading

Mampir ke Toko Senapan dan Pistol

Standard

Teman-teman baru saya di sini senang mendengar cerita kenorakan saya terkait kehidupan di Amerika. Kehidupan yang sebelumnya hanya pernah saya liat dari film atau serial TV. Beberapa waktu lalu, tiba-tiba mereka ngasih ide. “Lo harus ke Pro Bass Shops, di sana mereka jual senapan dan pistol. Pelurunya juga dijual begitu aja, ada di rak-rak. Tinggal ambil.” Kristi, kawan baru yang seorang guru terapi bicara menawarkan. “Lo mau ke sana? Ayo gue ajak.” Semua percakapan tersebut dalam dalam Bahasa Inggris ya gais. Diajak begitu, saya pun tentu saja tidak menolak. Mana mungkinnn, menolak ajakan menjelajah kota, dianter pula, di saat kalian tau sendiri saya jadi relawan hanya modal tiket pesawat dan penginapan Airbnb doang tanpa anggaran turis. Haha. Sepulang tugas, saya ikut Kristi naik mobilnya ke Pro Bass Shop yang letaknya sekitar 15 menit dari stadion.

Continue reading

Nongkrong di Toko Cerutu

Standard

Di tulisan sebelum ini, saya ada menyebut kalau saya dibawa jalan-jalan oleh Tante Ita, tante saya dari pihak Mama. Tante jauh tapi dekat. Jauh, karena kami tidak ada hubungan darah. Bapaknya Tante Ita adalah anak angkat dari eyang buyut saya. Dekat, karena bapaknya Tante Ita amat sangat disayang sampai-sampai eyang buyut saya ini bisa marah besar kalau ada yang menyebutnya sebagai anak angkat. Maka jadilah kami ini keluarga erat. Eyang Tono, begitu saya memanggil bapak Tante Ita, di masanya menikah dengan perayaan sangat meriah dan menjadi pernikahan mewah pertama di kampung kami. Sejak kecil, anak-anak Eyang Tono sering main ke rumah nenek saya. Yang paling saya kenal baik ya Tante Ita ini, karena Mama dan dia selalu jadi rekan masak ketika ada acara keluarga; serta Binto, adik Tante Ita yang tidak saya panggil om karena usia kami hanya terpaut 2 tahun.

Continue reading