Selamat Datang di Qatar!

Standard

Merhaba! Kalau di blog ini banyak tulisan seputar jalan-jalan, percayalah, sebagian besar adalah karena hoki saya gede, begitu kata orang. Bisa traveling ke negara tetangga, tentunya karena sukses berburu tiket promo seharga tiga lembar seratus ribuan, yang dibeli dari setahun sebelumnya. Bisa menginjakkan kaki di Nepal dan Hong Kong, itu karena menang lomba nulis. Bisa main jauh ke Rusia dan tahun ini Qatar, rejeki dari orang-orang baik yang mau mensponsori tiket pesawat saya untuk terbang menjadi relawan di Piala Dunia.

Alhamdulillaah.

Continue reading

Piala Dunia FIFA 2022: Saya Siap Datang!

Standard

Liburan kenaikan kelas bulan Juni dan Juli 1998. Hari-hari saya sebagai anak SMP diisi dengan bergadang nonton pertandingan-pertandingan di Piala Dunia Prancis lewat layar TV, Piala Dunia yang saya ikuti dari awal hingga akhir; berbeda dengan Piala Dunia Amerika Serikat 1994, yang mana ingatan saya sekedar diisi oleh gagalnya penalti Roberto Baggio di final melawan Brazil, tertunduk lesu tatkala tendangannya terlalu tinggi di atas mistar gawang Claudio Taffarel.

Di Piala Dunia Prancis 1998 itulah pertama kalinya saya melihat sekumpulan anak dengan bangga membawa bendera tim nasional masuk ke lapangan sesaat sebelum lagu kebangsaan dikumandangkan. Saya membatin, suatu saat saya mau ada di sana. Harapan yang secara ajaib terkabul 20 tahun kemudian, ketika saya terpilih jadi relawan Piala Dunia Rusia 2018. Saya menjadi salah satu yang beruntung menggenggam bendera raksasa Argentina saat laga melawan Prancis di 16 Besar. Meski tim favorit saya harus gagal melaju ke babak selanjutnya, dan saya hanya bertugas sampai perempat final saja, pengalaman menjadi relawan FIFA sungguh akan selalu saya kenang dan ceritakan.

Continue reading

The Sperms: Ngajak Ajojing Bareng Italy

Standard

Gais! (ini gue ngomong ke personel The Sperms ceritanya)

Bisa nggak sih kalian tuh jangan bikin single melulu. Harusnya sesuai sama nama band dong, keluarin semua. Satu album. Biar puas. Biar nggak abis nih kosakata saya kepake buat bikin esai nge-review lagu kalian yang rilisnya satu-satu. Ahaha.

Bukan apa-apa. Dulu pas Summer Rocking Darling tayang perdana di YouTube, saya pikir ini bakal jadi pemanasan sebelum menggarap album kedua ye kaaan. Eh taunya, Ochan sang bassist pindah pulau. Oke lah, saya paham kenapa akhirnya kembali menetaskan single Bomb of Silence. Mungkin biar rekamannya juga lebih gampang, Ochan cukup take untuk satu lagu, kirim ke Balikpapan, diracik di Kota Minyak, kelar. Apalagi masih pandemi juga. Cuma kenapa abis itu jadi hobi bikin single lagi? Keterusan weh! (Saya sempat ketemuan sama Ochan dan keluarganya di Semarang btw. Terima kasih sudah diajak keliling kota dan makan enak-enak!)

Continue reading

Best Concerts of My Life: Westlife and Greenday!

Standard

Dan terjadi lagi…

Saya punya komitmen dalam menulis di blog. Tiap bulan, harus ada minimal satu tulisan. April 2021, untuk pertama kali dalam 11 tahun saya memiliki blog ini, saya lupa! Saya masih inget gimana perasaan saat itu. Merasa “kok bisa sih?” sampe rasanya pengen jedotin kepala sendiri. Si agak perfeksionis emang. Lalu, 1 tahun 5 bulan kemudian, saya kembali lupa! September 2022 kosong tak ada tulisan. Tapi, kali ini saya sadar betul kenapa sampe nggak inget. Bulan lalu, saya sangat terserap oleh kesibukan kirim-kirim proposal sponsor untuk terbang ke Qatar. Alhamdulillaah saya terpilih jadi 1 dari 5,000 relawan internasional yang akan kerja di turnamen sepakbola terbesar di dunia: Piala Dunia FIFA! Ini ceritanya nanti aja; terpisah, spesial, khusus.

Continue reading

Warung Bu Rini: Seafood Enak di Bali

Standard

Saya suka seafood. Namun jenis makanan ini harus makan di tempat yang tepat. Bukan di rumah, karena kemampuan memasak saya belum cukup jago untuk mengolah masakan laut. Biasanya sih, saya mampir ke tenda pinggir jalan di daerah Fatmawati Jakarta. Ada warung seafood favorit saya di sana. Berhubung belum lama ini saya diajak liburan ke Bali untuk menemani satu keluarga, mereka ngajak saya makan di Warung Bu Rini daerah Denpasar.

Awalnya saya pikir, kok makannya di warung seperti rumah biasa ya, kalo di Bali bukannya ada Jimbaran? Tempat makan seafood yang sekaligus menawarkan pemandangan laut? Hmmm.

Continue reading

Liburan Edukatif di Dino Park Batu Malang

Standard

Melanjutkan cerita liburan saya di Surabaya akhir tahun 2021 lalu (wow udah setengah tahun lewat baru ditulis!), kali ini saya mau bahas sedikit tentang kunjungan singkat ke Malang. Semenjak jalan tol menuju Malang dibuka, wisatawan dari Surabaya makin gampang aja melakukan perjalanan ke sana karena cukup bermobil selama 1.5 jam, maka kita sudah tiba di Malang. Emangnya, ada apa sih di sana sampe saya mau bela-belain datang?

Continue reading

Oleh-Oleh Enak dari Surabaya

Standard

Ngomongin liburan rasanya kurang afdol kalo nggak ngomongin oleh-oleh. Minimal, pasti ada yang dibeli untuk diri sendiri. Meski sering ada “perdebatan” di media sosial tentang urusan buah tangan, saya sendiri juga suka beli oleh-oleh, terutama untuk orang-orang dekat dalam hidup saya yang memang nggak pernah jalan-jalan. Setidaknya mereka bisa ikut menikmati sesuatu yang khas dari tempat yang saya kunjungi.

Continue reading

Menikmati Kuliner Surabaya

Standard

Awal-awal saya punya uang sendiri sehingga bisa jalan-jalan, tujuan saya selalu untuk melihat pemandangan atau mengunjungi tempat wisata. Urusan menikmati kuliner lokal, jarang sekali masuk agenda, kecuali kalo memang kebetulan ketemu. Tapi, beberapa tahun terakhir ternyata saya cukup sering juga berlibur satu dua hari hanya untuk tujuan makan. Haha. Seperti ketika ke Surabaya untuk ke-dua kali, sebagian besar yang saya lakukan ya… jajan!

Continue reading

Mampir ke Tumurun Private Museum Solo

Standard

Saya bukan penggemar galeri seni. Menikmati, bisa. Tapi entah kenapa seperti tidak bisa melihat esensi dari karya-karya yang ada di sana. Komentar saya paling cuma sekedar “Bagus!” atau “Hmm…”. Yah, sekedar menambah pengetahuan saja lah kalo saya sampe datang ke galeri seni. Dan ngomongin galeri seni, galeri seni terakhir yang saya kunjungi, terletak di Solo. Namanya Tumurun Museum.

Continue reading

Lokananta: Museum Musik Satu-Satunya di Indonesia

Standard

Saya ingat, siang itu di Surakarta setelah makan Selat Solo, steak-nya orang Jawa, rasanya jadi pengen langsung balik ke hotel untuk rebahan karena kekenyangan. Tapi, berhubung tiket masuk ke Museum Lokananta sudah dibeli, saya pun tetap meluncur ke sana dan ternyata, itu adalah keputusan terbaik! Berdiri di atas lahan seluas 2 hektar, museum musik satu-satunya di Indonesia ini menyuguhkan ruang-ruang yang bikin saya seakan berada di masa ketika kakek nenek kita menikmati alunan lagu dari gramofon.

Continue reading