Aku, Budhy, dan Band Bernama Kelasik

Standard

Tempo hari waktu saya beberes kamar, saya menemukan satu kotak yang isinya memorabilia dari jaman saya remaja dulu; belasan tahun lalu lah. Salah satunya adalah stiker dari band indie bernama Kelasik. Kalo kalian tau mereka, kemungkinan kalian dan saya sama, demen dateng ke pensi atau gigs di Jakarta dari jam pertama buka.

Kelasik ini soalnya bukan band yang masuk jajaran main malem. Nggak sebanding dengan The Adams, The Upstairs, Club Eighties, Goodnight Electric, atau The Brandals di masanya. Kelasik, cuma band penggembira, band yang ngisi waktu sampe bintang tamu utama tampil. Tapi saya dan adik saya, Budhy, suka mereka.

Continue reading

3.5 Bulan “Dengan” Corona

Standard

Gokil! Udah masuk bulan Juli aja. Tahun 2020 sungguh terasa luar biasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Nggak banyak cerita, kita nggak leluasa ke mana-mana karena Corona Virus Disease 2019 atau biasa disingkat Covid19 makin merajalela. Barusan saya cek di Covid19 Global di Google, per kemarin 30 Juni 2020 Indonesia nambah kasus sebanyak 1.293. Yang artinya total kasus terkonfirmasi sudah mencapai angka 56.385. Duh makin panik! Soalnya sejak seminggu yang lalu, tiap hari rata-rata seribu kasus baru muncul.

Continue reading

Otak dan Hati

Standard

Aku tidak mengerti bagaimana otak dan hati bekerja. Aku tidak sepintar itu untuk menyeimbangkan logika dan perasaan; padahal kedua hal tersebut kadangkala tidak seiring sejalan.

Tapi aku bisa memastikan, ketika mereka berseberangan, mereka sebenarnya tengah menyakiti jiwa dan ragaku.

Otak dan hati. Mereka terus beradu. Tanpa mereka sadar, jiwa dan ragaku terganggu.

Mereka kira, dari mana datangnya gelisah ini? Aku itu resah memutuskan siapa yang perlu didengarkan.

Mereka kira, dari mana datangnya sakit kepala ini? Aku itu dimakan pikiran karena keduanya begitu ngotot berdebat.

Urusan logika dan perasaan, bisa lebih rumit dari rumus Matematika tersulit. Lalu aku, yang bahkan tidak lagi ingat apa itu Faktor Persekutuan Besar dan Kelipatan Persekutuan Kecil, diminta mampu menyelesaikan urusan mereka?

Tidak. Terima kasih.

Pada akhirnya, kubiarkan saja mereka terus berbeda pendapat. Sambil kuberharap dalam letih, semoga mereka tutup mulut.

#CeritaJamKosong #15 Dua Bulan Karantina

Standard

Kayaknya selama Covid19 belum ada obat atau vaksinnya, selama kerja di rumah masih diberlakukan, selama masih ada pembatasan sana sini yang bikin saya gak bisa ke mana-mana, blog TerongGemuk bakal cuma diisi sama curhatan-curhatan di #CeritaJamKosong. Ya abis gimana dong, gak bisa jalan-jalan, gak bisa ke restoran, saya harus nulis apa? Ahaha. Rencana liburan ke Makassar di ulang tahun saya Juli nanti pun nampaknya juga gak terwujud walaupun tiket pesawatnya udah dibeli dari jauh-jauh hari.

Gak terasa ya, udah dua bulan kita harus terbiasa dengan kehidupan baru. Kehidupan yang memaksa kita berkegiatan di ruang itu-itu saja, gak ketemu orang-orang, bentar-bentar cuci tangan, tiap hari bertanya-tanya kapan pandemi ini akan berakhir… Buat saya sendiri kerja di rumah memang terasa seperti liburan gratis di dua minggu pertama; setelahnya? Betapa saya merindukan kehidupan saya yang lama. Sesaknya kereta di perjalanan pulang pergi kerja pun jadi hal yang rasanya saya rela untuk jalani kembali.

Continue reading

#CeritaJamKosong #14 “Sekolah” Lagi

Standard

Beberapa hari yang lalu waktu ngajar materi berjudul “5-Year Planning”, kebetulan murid yang daftar cuma satu. Namanya Evan. Sesuai judul materi, kami ngobrol tentang rencana-rencana masa depan yang berhubungan dengan karir, keluarga, finansial, kesehatan, dan liburan. Pas lagi bahas pendidikan, saya nanya ke Evan apakah dia mau lanjut kuliah ke S3. Kebetulan anaknya emang udah kelar S2. Jawaban dia, gak. Lalu dia nanya balik ke saya. Jawaban saya, mau! Tapi sayangnya sampe sekarang saya belum menemukan kuliah S2 Bahasa Inggris yang ada kelas akhir pekan dan terjangkau secara jarak maupun biaya. Malah kalo ngomong impian muluk-muluk, pengen banget bisa S2 ambil Creative Writing di luar negeri. Namun ya, saya bisa menakar kemampuan otak ini. Ahaha!

Continue reading

The Sperms: Menghilang. Debut Single dari Band Punk Asal Balikpapan.

Standard

Kalo ibarat laci meja belajar, kategori “Buku Film Musik” di blog Terong Gemuk tuh semacam laci yang udah gak dibuka bertahun-tahun, gak ditengok lagi, terlupakan. Isinya catatan-catatan yang pas ditulis terasa akan jadi semacam masterpiece, tapi ternyata tidak seperti itu. Kecuali satu sih, ulasan album “Pulih”-nya Superego yang ditulis oleh Ade Fitrian. Gak saya sertakan link-nya, nanti saya gak pede kalo kalian baca. Saya udah nekat sok-sok nulis tentang musik lagi, eh malah kalian banding-bandingin. Jelas saya kalah kelas, kalah keren.

Saya emang gak se-pede itu ngupas ((ngupas~~)) tentang tiga hal berikut terlepas dari saya hobi banget baca, sering nonton film, dan selalu mendengarkan musik di perjalanan pulang pergi kantor. Terakhir bahas buku udah lebih dari 3 tahun lalu, kumpulan kutipan dari novel “Me Before You”. Gak berbobot (isi tulisan saya, bukan novelnya). Terakhir bahas film jamannya “Dilan 1990”. Norak (review saya yang norak, bukan Dilan-nya; Iqbaal CJR Dilan mah gemes). Lalu terakhir bahas musik, waktu drummer Superego minta diwawancara seputar rekomendasi band-band Kalimantan Timur. Asli, sok asik banget saya di sana.

Continue reading

Pengalaman Sakit Demam Berdarah

Standard

Saya nggak pernah sakit sampe nginep di rumah sakit tanpa rencana. Sekalinya dirawat, itu karena saya operasi amandel, dan itu kan sudah disusun jauh-jauh hari bahkan saya sampe sempat piknik dulu demi menenangkan diri. Dan jujur, saya itu selalu berdoa semoga saya nggak pernah sakit yang sampe harus dirawat. Doa saya, yah, tidak terkabul selalu. Saya dikasih cobaan lewat sakit Demam Berdarah, yang mengharuskan saya mendekam di kamar rumah sakit selama enam hari.

Sebelum lanjut, saya mesti bilang dulu kalo gejala dan pengalaman sakit Demam Berdarah tiap orang beda-beda. Jadi jangan jadikan ini patokan ya. Saya cerita, karena ini momen dalam hidup saya yang cukup perlu dikenang. Ehehe…

Continue reading

Satu Hari Kulineran di Yogyakarta

Standard

Awal Januari kemarin saya diajak Yuswo ke Wonogiri untuk mengunjungi Pak De. Bukan hanya kami berdua yang berangkat, keluarga kakak-kakak ipar saya juga pergi. Jadilah kami semua berkendara satu mobil van dari Yogyakarta. Waktu kami padat, hanya tiga hari. Dua hari kami pergunakan untuk keperluan temu kangen, lalu sisa hari terakhir saya paksa Yuswo untuk ngajak saya makan di Yogyakarta. Dengan menyewa motor, kami berdua menghabiskan waktu dari pagi sampai sore untuk memuaskan perut.

Continue reading

Menikmati Kuliner Khas Palembang

Standard

Palembang adalah nama kota yang sejak kecil sudah sering saya dengar. Papi, nama panggilan saya untuk kakek dari pihak Mama, memang orang sana. Tapi saya sendiri belum pernah ketemu Papi, beliau meninggal bahkan ketika Mama saya belum menikah. Kerabat di Palembang yang saya kenal hanya seorang tante bernama Yuk Kartini, dulu sekali waktu saya kecil, beliau rutin ke Depok. Harusnya sih, saya nggak manggil “Yuk” yang artinya “Mbak”. Hihi.

Kalo bukan karena satu dan dua hal, September tahun lalu saya seharusnya ke Palembang, memanfaatkan tiket promo AirAsia yang cuma Rp. 700,000 PP Jakarta – transit Kuala Lumpur – Palembang. Eh, ternyata saya harus sobek tiket, dan baru sempat menjejakkan kaki di Palembang akhir tahun 2019, karena undangan pernikahan teman saya Kenjrot.

Continue reading

Pot o’ Koffie Balikpapan

Standard

Dear Pot o’ Koffie,

Saya nggak pernah nulis surat untuk toko kopi. Ke artis cilik tahun 90an dulu, sering. Ke orang yang saya taksir, apalagi. Bisa dibilang, ini pertama kali saya menggoreskan pena untuk tempat yang bikin saya betah duduk berjam-jam. Sungguh, menunggu tidak pernah se-worth it. Tidak pernah senyaman ini. Baru kali ini saya ngabisin waktu sarapan dan makan siang di satu tempat yang sama.

Continue reading