Kok Mau Sih Nggak Dibayar Jadi Relawan FIFA?

Standard

Di tulisan saya tentang cara jadi relawan FIFA, saya udah bilang nggak mau panjang lebar menjelaskan kenapa kok saya mau-mau aja keluar uang dari kocek sendiri untuk jadi relawan FIFA. Intinya, tiap orang memang pasti punya cara masing-masing untuk menilai sesuatu. Tapi geregetan juga sih ya, karena ada komen-komen yang mencibir. Dibilang, “Kalo nggak punya duit cuma mimpi.” Nggak, nggak, kalo emang kita niat pasti akan cari segala cara. Saya di Rusia dan Qatar mendapat sponsor untuk tiket pesawat, di Amerika mendapat bantuan dari teman dan keluarga dan bahkan orang-orang yang baru saya temui. Dibilang, “FIFA udah dapat keuntungan besar kok mau aja tenaga dan waktu dipake tanpa bayaran?” Well, saya mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mendapat timbal balik pengalaman yang luar biasa sebagai relawan internasional, untuk meningkatkan kualitas diri saya sendiri.

Continue reading

Mau Jadi Relawan FIFA di Piala Dunia?

Standard

Ini adalah tulisan ketiga saya terkait cara menjadi relawan FIFA. Waktu Piala Dunia 2018 dan 2022, saya udah pernah cerita juga dan untuk Piala Dunia 2026 kembali saya beberkan meskipun sebenarnya nggak ada yang berubah. Haha. Banyak yang nanya lewat DM Instagram, ya udah saya kasih tau lagi.

Secara proses, tahapan seleksi relawan FIFA cukup sederhana dan nggak ribet. Dimulai dari daftar, tunggu dapat email lolos seleksi, datang ke wawancara online, lalu tunggu lagi deh untuk penentuan diterima atau nggaknya (lolos seleksi pendaftaran bukan berarti sudah terpilih resmi). Di luar itu memang ada yang sedikit berbeda. Misal, untuk Rusia dulu, saya melakukan tes Bahasa Inggris online setelah submit pendaftaran, dan wawancaranya one-on-one. Untuk Qatar, tidak ada tes Bahasa Inggris dan wawancaranya berupa group interview (sekitar 12 orang). Untuk Amerika juga tidak ada tes Bahasa Inggris dan tidak ada wawancara. Kita cuma disuruh datang ke tryout lewat Zoom berisi 70-an kandidat, dan sesinya menurut saya lebih ke pengenalan terkait acara, kegiatan relawan, dan area-area tugas yang akan diisi oleh relawan. Yang menantang? Persaingannya. Rusia dulu ada lebih dari 150.000 pendaftar, Qatar lebih dari 500.000, dan Amerika Serikat – Kanada – Meksiko lebih dari satu juta!

Continue reading

Sedikit Cerita tentang Papa

Standard

Papa saya orang biasa saja. Tapi dia punya kecenderungan untuk mengucap perumpamaan yang tidak biasa. Kalau orang lain menyebut “jauh panggang dari api”, beliau punya istilah sendiri: “jauh roti dari selai”. Kalau orang bilangnya “pantas pakai baju apa saja”, istilah Papa adalah “badan gantungan baju”. Dan saya tidak akan melanjutkan cerita ini dengan betapa saya menyayanginya, atau hal-hal yang telah beliau lakukan untuk keluarga. Tulisan ini ingin saya tuangkan, sebagai pengingat bahwa Papa saya pernah muda.

Continue reading

Selamat Tinggal “Terbenam”

Standard

(“Terbenam” adalah nama program sore di radio streaming Balikpapan bernama Domain Radio. Beberapa bulan lalu, tepatnya Kamis, 23 Januari 2025, program yang mengudara sejak Maret 2024 ini usai dan ini adalah surat yang saya bacakan ke Dede dan Erza, duo penyiar program tersebut.)

Continue reading

What I’m Feeling Now

Standard

Sesungguhnya ada rasa yang hilang di Ramadan tahun ini… Biasanya, saya siap dengan daftar rutinitas ibadah baru yang akan saya amalkan selama bulan puasa. Kalau bisa, jangan sampai ada waktu tak terpakai untuk mendapat berkah berganda. Waktu mengajar saya atur sedemikian rupa supaya saya bisa salat dengan nyaman dan tanpa diburu-buru seperti hari-hari biasa.

Continue reading

39

Standard

Some say that people towards the end of their 30s will experience many life struggles. People at that age are prepared to choose how they will live the rest of their lives: either living by only thinking about the pleasures of the world, enjoying what is there until death finally arrives, or living by improving spiritually, learning to feel enough, and feeling happy from small things that are worth being grateful for.

Continue reading

Wejangan Hidup Mami

Standard

Bukan hanya seorang pebisnis sukses yang layak dianggap inspirator, bukan pula mereka dengan gelar dan posisi tinggi. Setiap manusia sejatinya adalah pembawa inspirasi bagi manusia lain, tidak terikat batasan apapun.

Kita semua. Tidak terkecuali.

Sering kita mendengar, “Apalah saya cuma butiran pasir.” atau “Apalah saya cuma remahan kue nastar di pojok toples.” Sungguh, butiran pasir mencipta pantai yang indah, dan remahan kue nastar tetap jadi incaran. Jangan merasa kecil, karena saya dan kamu tanpa disadari pasti pernah menjadi seseorang yang membawa perubahan bagi orang lain. Dan berbicara inspirasi, ada wanita yang menjadi inspirasi saya sejak kanak-kanak. Beliau yang saya panggil Mami; nenek dari 6 anak, 13 cucu dan 15 cicit. Raganya sudah tidak ada, namun wejangan selama beliau hidup tertanam mantap di hati saya.

Continue reading

A Companion Bracelet from a Witch

Standard

I can’t wait. I just have to write it now. I don’t even want to wait until tomorrow when the sun shines perfectly bright so I can take better pictures. I’m too worried I will forget what I have in mind. I’m just too excited and too “Is this even real?” kind of feeling.

Okay let me just start.

January 2024 wasn’t nice to me. You have no idea how hard it was. I wrote a little about that here on this blog but it was still nothing compared to what I truly felt. I lost my spark. Getting out of bed was a challenge. At one point, I even questioned God…

Continue reading

Pengabdian? Atau Pekerjaan?

Standard

Akhir pekan lalu saat saya dan suami sedang ngopi di tempat favorit kami, saya nyeletuk kalo saya mau ada di kursi DPR. Itu tentu memang hanya celetukan semata, karena masih hawa-hawa PEMILU, jadi obrolan kami ya nggak jauh-jauh dari situ. Tak disangka, suami saya malah menimpali. Katanya saya bisa mulai dengan menekuni suatu hal, yang nantinya bisa saya jadikan program ketika maju jadi calon legislatif. Balik lagi ya, ini semua hanya obrolan ngalor ngidul semata. Haha.

Continue reading

Passport Planet PERSIB: Akses Istimewa Bobotoh Sejati

Standard

Kalian suka heran nggak sih sama penggemar K-Pop yang bisa segila itu memuja para idolanya, sampe beli merchandise yang harganya tentu nggak murah? Saya nggak heran lho! Ahaha. Sebagai Belieber, alias fans garis keras Justin Bieber, saya paham banget yang mereka rasain. Memang sih, sekarang saya nggak sefanatik dulu, tapi saya masih inget rasanya gimana harus punya semua yang berbau Justin Bieber. Albumnya, posternya, buku dan majalah yang ada dia, sampe apa yang Justin pake saya harus pake juga. Kolor Calvin Klein pun saya beli waktu dia iklanin itu. Tentu nggak saya pake, tapi saya kan nge-fans berat jadi wajib punya dong!

Continue reading