Sedikit Cerita tentang Papa

Standard

Papa saya orang biasa saja. Tapi dia punya kecenderungan untuk mengucap perumpamaan yang tidak biasa. Kalau orang lain menyebut “jauh panggang dari api”, beliau punya istilah sendiri: “jauh roti dari selai”. Kalau orang bilangnya “pantas pakai baju apa saja”, istilah Papa adalah “badan gantungan baju”. Dan saya tidak akan melanjutkan cerita ini dengan betapa saya menyayanginya, atau hal-hal yang telah beliau lakukan untuk keluarga. Tulisan ini ingin saya tuangkan, sebagai pengingat bahwa Papa saya pernah muda.

Suatu waktu, Papa dan teman-teman masa kecilnya di Medan dulu mengadakan reuni. Karena Papa yang menjadi tuan rumah, maka kami anak dan cucunya pun datang untuk menjamu. Layaknya orangtua pada umumnya, Papa memperkenalkan kami dengan bangga. “Ini anak saya, ini menantu saya, ini cucu saya.”

Di sela-sela acara, mereka saling bertukar cerita masa lalu. Saya mendengarkan dengan seksama, karena sungguh lucu cara mereka bercerita. Ketika ada yang mau disampaikan, mereka berdiri, dan berkisah dengan suara lantang. Seperti melihat orang pidato. Haha.

Dari kenangan-kenangan yang mereka buka kembali, saya jadi tau kalau sewaktu SMA, Papa dan sohib kentalnya adalah biang kerok di sekolah, suka membolos, dan mereka bahkan dikeluarkan dari sekolah. Lalu, ketika akhirnya Papa pindah ke tempat baru, ke SMA Yosua Medan, ternyata sohib kentalnya juga masuk sekolah yang sama! Jadilah hari pertama mereka… bolos bareng lagi!

Papa dan adik-adiknya. Papa yang paling kanan.

Bersama Om Parlin, nama sahabat Papa, mereka memiliki pengalaman yang tidak membanggakan, namun di usia tua menjadi kepingan kisah yang membuat terbahak-bahak. Kata Om Parlin, “Aku sama si Bulek nongkrong aja tiap hari liatin tukang jaga kambing. Aku hafalin kapan dia pergi ninggalin kambingnya. Kuambil pas dia nggak ada, jual ke bapak-bapak. Kubilang kami sudah 3 bulan nggak bayar uang sekolah. Dibelinya sama orang itu. Uangnya kuajak Bulek beli lontong Medan sama ganja.”

Lalu Papaku menyambung, “Itu juga si Jhon, dulu sempat dikira mati kan dia.” Jhon adalah nama teman Papa yang lain. Om Jhon pun nimbrung. “Dulu kerja jualan morfin, pas ketabrak mobil itu dikira orang aku mati karena ditabraknya bener-bener pas di badan. Tapi aku nggak ada rasa apa-apa, nggak sakit mungkin karena badanku kebanyakan morfin.”

“Nggak lah, orang bandel memang lama matinya,” timpal Om Parlin.

“Bersyukur kita masih dikasih kesempatan untuk jadi orang baik,” ujar Papa.

Dari obrolan-obrolan mereka di reuni itu, saya jadi sedikit tau kehidupan masa remaja Papa. Hidupnya nggak mudah. Lingkungan tempat tinggalnya bahkan sampai disebut gang yang dikutuk, karena kalau tetap tinggal di sana, hidupnya nggak akan maju-maju. Dan percaya nggak percaya, Papa dan teman-teman masa kecilnya yang satu per satu pergi merantau ke Jakarta, memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka yang masih tinggal di gang itu sampai sekarang. Saya jadi berpikir, jika Allah kasih saya umur panjang, cerita masa lalu apa yang bisa saya sampaikan ke generasi berikutnya?

Leave a comment