The Margo Hotel Depok

Standard

Ada apa sih di Depok? Begitu tau kalo saya lahir dan besar di Depok, orang-orang biasanya berkomentar:

“Oh yang ada Universitas Indonesia ya?” —Iyes. “Wah, lo Belanda Depok dong?” —Bukan, kakek saya Tole Iskandar aseli Jawa. “Kubah Emas tuh di Depok bukan sih?” —Ho oh!

Depok memang bukan kota spesial. Julukan tempat jin buang anak pun sempat melekat puluhan tahun lalu.

Mana ada orang mau beli tanah di Depok? Dari cerita yang saya denger, jaman dahulu kala Depok hutan semua. Cuma sekedar tempat persinggahan kalo orang Jakarta mau ke Bogor atau sebaliknya. Saya pun sempat merasakan Depok yang asri, yang masih banyak lapangan bola, sawah, pepohonan… Nggak kayak sekarang. Semuanya rumah, rumah, rumah dan tempat makan.

Anyway, Depok juga bukan kota wisata. Sampe beberapa tahun lalu, cuma ada satu hotel besar dan dua hotel kecil di Jalan Margonda. Eh namun, sejak September 2015, hotel baru nan megah mulai menghiasi kota berpenduduk hampir 2 juta ini. Namanya The Margo Hotel. Awal 2016, saya dan suami berkesempatan tidur di hotel yang mengklaim diri sebagai bintang 4 ini.

Lo kan orang Depok, masa nginep di Depok juga?

Pertanyaan bagus dengan jawaban cukup sederhana. Ketika kita liburan ke satu daerah dan berniat untuk keliling kota, maka buat apalah pesan kamar hotel berbintang 4 kalo cuma untuk memejamkan mata. Lah ini Depok, nggak ada apa-apaan. Maka niat saya dan suami pun satu: leyeh-leyeh gegoleran sepanjang hari.

Di rumah kan bisa!

Di rumah selimutnya bukan selimut bulu, nggak ada AC dan nggak ada kolam renang. Haha!! Well, mau tau lebih jauh tentang staycation kami di The Margo Hotel? Simak!

The Margo Hotel Depok

Awalnya saya dan si Bebeb tidak kepikiran untuk menghabiskan waktu di luar, tapi karena merasa penat setelah beres-beres rumah yang baru selesai direnovasi, kami pun memutuskan untuk santai ala orang kaya kelas atas. Cukup 15 menit dengan sepeda motor, kami tiba di parkiran hotel yang juga diperuntukkan untuk pengunjung Mall Margo City. Muka lusuh, tas punggung dekil, baju seadanya, menjelang sore kami masuk lobi dengan kepercayaan diri tinggi.

Rate kami hari itu sebesar Rp. 907,000 per malam. Kami mendapat kamar deluxe di lantai 15 dengan pemandangan kota dari ketinggian. Rasa-rasanya seperti bukan di Depok kalo dari atas sini. Oh iya, sedikit catatan, waktu check-in adalah jam 2 siang dan check-out di jam 12 siang. Deposit yang dikenakan sebesar Rp. 500,000 dan jangan lupa bilang kalo kendaraan pribadi kita nginep di parkiran mall, nanti dikasih kartu khusus sehingga biaya parkirnya gratis.

The Margo Hotel Depok

Begitu memasuki kamar, hal pertama yang saya cek adalah kamar mandi. Entah kenapa, saya senang memprediksi kenyamanan hotel lewat kamar mandinya. Kalo perintilan lengkap dan air yang keluar mengalir kencang dan deras, mood saya langsung meningkat. Apakah kamar mandi The Hotel Margo sesuai dengan standar saya? YES! Kurang sikat gigi aja sih.

Tidak ada yang terlalu istimewa dari desain kamar; lantai pun tidak sepenuhnya berkarpet. Tapi kami langsung merasa nyaman bahkan sebelum merebahkan diri di atas ranjang. Aromanya menenangkan. Sofa manis merah bersanding dengan bantal kecil hitam, cantik! Kamarnya sendiri bernuansa coklat dengan percikan hijau, putih dan marun. Nilai tambah: bantal ada 4! Dua dipakai untuk alas kepala, dua lainnya jadi guling! Ahhh… Saya senang. Tidur tanpa guling seperti sayur tanpa garam ya kan?

Sebagai hotel yang terletak tepat di depan mall terbesar di Depok, saya dan suami dimudahkan mencari makan. Banyak restoran untuk memuaskan perut yang keroncongan. Cukup berjalan kaki melewati lorong yang sisi kirinya merupakan ruang pertemuan, Mall Margo City hanya perlu ditempuh dengan jalan kaki singkat.

Tak lupa, kami mencoba arena olahraga yang tersedia. Alat kebugarannya cukup lengkap dan kolam renangnya pun menarik; infinity edge pool atau kolam renang tanpa tepian. Ada 2 jenis kedalaman: 1.2 meter dan 60 sentimeter. Sayang warna airnya kurang mengundang. Dibikin lebih biru bisa kali ya. Tetep sih saya dan si Bebeb menceburkan diri, tapi nggak lama. Serpihan-serpihan putih dari filter yang kurang baik bikin airnya terlihat kotor dari balik kacamata renang. Kami lihat di tempat buangan air ada beberapa puntung rokok juga.

Nah, bisa dibilang hal paling berkesan selama kami menginap di The Margo Hotel adalah… sarapannya! AH SAYA SUKA SEKALI DENGAN RESTORAN MEREKA! Luas! Dan seperti hotel-hotel lain, tersedia menu tradisional dan internasional; tapi beberapa hidangannya berbeda. Ada singkong, jagung dan pisang rebus; nasi kuning dan nasi hijau; wafel dan infused water… bahkan ada pojok khusus 11 jenis sambal. Semua cocok di lidah saya. Lidah orang Depok! And the good thing is, sarapannya terbuka untuk umum. Cuma mau ke The Margo Hotel dan makan pagi? Bisa dateng dari jam 6 dengan membayar Rp. 121,000 (dewasa) dan Rp. 60,500 (anak-anak).

Overall, it was a lovely stay and I will definitely come back. Nggak sabar nunggu grand launching-nya. Saya dan si Bebeb udah berencana mau coba kamar executive, yang menurut info baru akan siap saat pembukaan akbar nanti. Mudah-mudahan kolam renangnya pun dibikin lebih bersih lagi. Thank you for your hospitality, The Margo Hotel Depok!

Advertisements

20 thoughts on “The Margo Hotel Depok

  1. Hevi puspitasari

    Mba.. maaf
    Itu pintu masuk dari parkiran motor kudu lewat depan jalan raya g? Apa ada pintu khusus dari parkiran motor?
    Thx

  2. putri

    Waaah baru tauuu kalo sarapannya terbuka untuk umum. Makasih banyak Mba Mita infonya. Semoga masih berlaku lah ya sampe skrg 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s