Hiruk Pikuk Red Square Moskow

Standard

Berpisah dengan Kazan bukan perkara mudah. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak teman yang harus ditinggalkan. Selepas acara perpisahan untuk para relawan Piala Konfederasi FIFA 2017, saya tiba di asrama jam 3 pagi. Langit sudah terang, seperti jam 7 pagi di Indonesia. Saya memutuskan untuk langsung ke bandara meski pesawat saya baru jam 8 nanti. Berat… Dan saya sama sekali nggak mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman satu lantai asrama karena saya pasti akan nangis.

Continue reading

Advertisements

Blue Lake, Danau Cermin di Kazan

Standard

Kalau boleh memilih kemampuan super power, saya ingin bisa berkelana ke masa lampau. Waktu kecil saya sangat menikmati karangan Enid Blyton, kisah-kisah tentang para bocah Inggris yang mainnya ke hutan, ladang bunga, sungai dan danau. Kebanyakan kisah beliau ditulis tahun 1920-an sampai 1970-an, bikin saya berangan bisa berada di masa tersebut, berpetualang bersama anak-anak di buku cerita.

Continue reading

Portraits of a Town: Jejak Islam di Bolgar

Standard

Berbicara tentang jalan-jalan, ada beberapa negara yang ingin saya kunjungi karena alasan remeh temeh. Irlandia misalnya, selain karena ini adalah negara asal Westlife (band favorit saya waktu SMP), saya juga pengen menatap lapangan rumput hijau nan luas di pedesaan Irlandia. Kanada, obviously where Justin Bieber was born, tapi saya juga ingin bermobil jauh selama beberapa hari, sambil menikmati jalan panjang tak berujung. Lalu Amerika, tepatnya Georgia, bukan hanya karena di sana tempat syuting serial zombies The Walking Dead, saya pun kepincut sisi-sisi jalan sepinya yang ditumbuhi bunga liar.

Continue reading

Pesona Kremlin Kazan

Standard

Tujuan wisata paling utama di Kazan adalah satu kompleks berisi bangunan-bangunan bersejarah yang dikelilingi dinding tinggi, tebal dan putih. Kremlin namanya. Nama yang tidak asing bukan? Dulu saya pikir Kremlin hanya ada di Moskow, karena nonton film Mission Impossible yang Ghost Protocol. Ternyata kata “kremlin” itu sendiri artinya “benteng” dan ada banyak benteng di Rusia, salah satunya Kremlin di Kazan, tempat yang paling sering saya kunjungi selama tiga minggu menjadi relawan Piala Konfederasi FIFA di sana, selain stadion tentunya.

Continue reading

Kazan Yang Kurindukan

Standard

Why did you choose Kazan?” adalah pertanyaan yang lumayan sering dilontarkan ke saya oleh para relawan asal Rusia. Dan jawaban saya biasanya cukup simple, “Google.”

Dari awal saya memang tidak mau memilih Moskow atau Saint Petersburg. Dua nama yang padahal begitu populer, tapi saya yang memang bukan city girl sama sekali tidak tertarik. Rasanya ingin mencoba kota berbeda.

Continue reading

Terima Kasih FIFA, Terima Kasih Rusia

Standard

Tidak terasa petualangan tiga minggu menjadi relawan di Piala Konfederasi FIFA 2017 harus berakhir. Portugal melawan Chili jadi pertandingan penutup di stadion Arena, Kazan. Hari itu menjadi hari di mana perasaan saya campur aduk. Tidak rela berpisah dengan teman-teman, tentu saja. Kangen keluarga di Indonesia, iya juga.

Continue reading

Mengejar Cristiano Ronaldo

Standard

Siapa coba yang nggak kenal Cristiano Ronaldo? Pemain asal Portugal yang bermain untuk klub Real Madrid. Bukan penyuka bola pun pasti tau nama dan wajahnya.

Beberapa hari sebelum pertandingan Portugal lawan Meksiko diadakan di Piala Konfederasi FIFA 2017, saya pergi ke stadion tempat latihan tim Rubin Kazan Football Club. Dengan petantang-petenteng saya melewati barisan keamanan dan mendadak seorang petugas menyuruh saya berhenti dan melarang saya masuk.

Continue reading