[Catatan Relawan Piala Dunia] Bagaimana Cara Jadi Relawan FIFA?

Standard

Privet!

Sejak Piala Konfederasi 2017, saya banyak ditanya, “Kok bisa sih ikutan kegiatan kayak gini?” Ketika lulus kembali ke Piala Dunia 2018, pertanyaan semacam itu makin sering ditanyakan. Nih, saya cerita banyak ya.

Sebenernya, keikutsertaan saya di acara FIFA juga sesuatu yang kebetulan, meskipun ini adalah hal yang saya idam-idamkan sejak saya berumur 13 tahun (saat itu sedang berlangsung Piala Dunia 1998). Pertengahan tahun 2016, awalnya saya malah daftar untuk SEA Games di Malaysia, tapi sudah gugur sebelum berjuang karena Malaysia hanya menerima relawan asal negara mereka sendiri. Trus, di grup WhatsApp sempat ada yang membagi tautan untuk daftar jadi relawan Piala Dunia 2018, yang mana sebelumnya saya juga sempat liat postingan FIFA di fanpage Facebook mereka mengenai hal serupa.

Saya mendaftar dengan ketidakyakinan tinggi. Umur udah kepala 3, trus yang daftar juga dari seluruh dunia (terbuka untuk umum, kalangan apa saja, tanpa batas maksimal usia), ah apalah saya. Di bayangan saya tuh orang yang kepilih bakal orang yang mungkin udah punya banyak pengalaman jadi relawan, orang yang cerdas multi talenta, dan sebagainya. Tapi nekat aja deh. Nekat tambahin niat. Kita nggak akan tau kalo nggak nyoba kan?

Langsung saya bikin pasfoto baru, saya siapkan waktu satu jam tanpa gangguan untuk isi formulir (sebagian besar cuma data pribadi aja, tapi ada satu bagian esai tentang kenapa mau jadi relawan dan saya mengisinya dengan segenap jiwa), dan abis itu udah deh lupain, nggak ngarep tinggi biar kalo nggak kepilih nggak pait.

013e436a4540708c64deccf60611a235d6e64337b2

Minggu demi minggu berlalu, tau-tau masuk email dengan alfabet yang mencurigakan. Kirain virus, eh ternyata dari seleksi Piala Dunia. Ternyata itu alfabet Rusia, Kiril! Saya diundang tes Bahasa Inggris online. Asli biarpun udah jadi guru Bahasa Inggris, yang namanya denger kata tes mah tetep deg-deg-an. Saya memilih waktu yang lowong untuk mengerjakan soal, dan hasilnya dapet level Advanced (ini bukan patokan lulus seleksi, beberapa relawan ada yang diterima meski level Bahasa Inggrisnya di bawah itu).

Minggu demi minggu kembali berlalu, kali ini saya selalu hati-hati kalo ada email dengan alfabet unik, dan… enam bulan kemudian (sekitar akhir 2016) undangan untuk wawancara lewat Skype masuk ke inbox. Woohoo! Senang tapi sekaligus cemas. Udah sampe tahap ini saya nggak mau salah langkah. Saya mau nunjukin kalo saya niat ikutan event ini. Sooo… ketika wawancara saya pun memakai kostum kalo lagi nonton bola di Gelora Bung Karno; bendera Indonesia dililit di badan, dengan topi tinggi warna merah putih.

Bulan April 2017, saya mendapat email yang menyatakan saya lulus ke Piala Konfederasi, bagian ticketing di kota Kazan. Saya lagi berdiri di kereta dalam perjalanan pulang kantor malam itu. Meski senyum tersungging lebar, tapi saya diem-diem aja, takut hoax apa gimana kan. Saya ikutin terus prosesnya sampe keluar surat akreditasi dan diminta bikin visa. Ternyata beneran dong bok saya ke Rusia dan mendapat pengalaman jadi relawan di acara internasional untuk pertama kalinya. Luar biasa!

014b963678e9e650f6849ec8e148937dc656bd619d

Untuk yang relawan Piala Dunia itu sendiri, prosesnya sama dengan seleksi Piala Konfederasi. Hanya saja, karena saya udah terlibat di Piala Konfederasi, saya nggak melalui tahap tes dan wawancara lagi.

Nggak semua yang lulus Piala Konfederasi diterima kembali untuk Piala Dunia lho. Beberapa teman mendapat email penolakan. Mereka yang daftar relawan Piala Dunia pun ada yang dapat email dinyatakan lulus seleksi, tapi masuk tim cadangan, lalu pada akhirnya nggak diterima. Huhu…

Sedikit catatan, event internasional besar biasanya membuka pendaftaran jadi relawan 2 tahun sebelum acara berlangsung. Piala Dunia 2018 ini contohnya, pendaftaran dibuka Juli 2016 sampai Desember 2016.

Oiya waktu wawancara ditanya apa aja? Hal-hal semacam: Kenapa mau jadi relawan? Pilih kota apa dan kenapa? Kalo ada masalah dengan ketua tim, atau kamu nggak suka dengan manajer kamu, apa yang kamu lakukan? Hobi kamu apa? Bahasa apa yang kamu kuasai? Ukuran baju dan sepatu? Jadi bukan tentang bola ya! Lebih ke kesiapan dan niat kamu bekerja.

Dan kalau acara diadakan di negara yang tidak berbahasa Inggris, kamu jangan minder kalo cuma bisa Bahasa Inggris. Saya aja nggak bisa Bahasa Rusia sama sekali. Yang penting tunjukin inisiatif kalo kamu mau belajar frase-frase penting. Setelah wawancara, tahap selanjutnya adalah duduk manis menunggu sampai surat akreditasi keluar. Baru deh sah terpilih.

0172429b7577047e7f719df5425d9885746011e62b

Trus, biaya ditanggung nggak? Dapat bayaran nggak? Jujur, saya cukup mengernyitkan kening kalo dapet pertanyaan begini. Soalnya bukan apa-apa, namanya relawan ya pada dasarnya kan melakukan sesuatu tanpa berharap imbalan. Namanya relawan, pasti ada yang kita relakan. Meski demikian, pengalaman yang kita dapatkan jauh lebih berharga dari biaya yang kita keluarkan.

Untuk Piala Konfederasi 2017 dan Piala Dunia 2018, saya modal ongkos pesawat sama makan di luar jam kerja. Seragam, tempat tinggal, makan selama kerja, ongkos kendaraan umum dalam kota ditanggung Rusia. Jadi penting nih baca ketentuan apa-apa aja yang disediakan panitia. Karena ada juga beberapa event relawan internasional yang cuma nanggung seragam sama makan doang.

Wah, nggak punya uang? Eits, jangan nyerah. Kalo kita niat, pasti ada jalan. Saya mengirim proposal permohonan dana untuk beli tiket pesawat ke lebih dari 70 perusahaan; ditolak dan bahkan nggak ada respon. Sampai akhirnya beberapa hari sebelum hari terakhir konfirmasi kedatangan, Pak Prabowo Subianto memberi saya uang untuk membeli tiket! Jangan nyerah sampai penghabisan ya. Nih ceritanya saya ambil dari status Facebook saya dulu:

“Waktu kamu kirim proposal permohanan dana, saya kebetulan ada di samping Bapak (Prabowo). Bahkan sebelum saya memberi tahu ke beliau, saya yakin Bapak pasti setuju karena Bapak emang perhatian untuk hal-hal yang berhubungan dengan anak bangsa dan yang membawa nama baik Indonesia. Dan benar aja, saya cerita ke Bapak, “Pak ada yang terpilih seleksi untuk menjadi relawan di Piala Dunia Rusia. Di sana semua dijamin, tapi perlu ongkos pesawat. Anaknya udah kirim proposal ke mana-mana belum ada respon.” Jawaban Bapak langsung dan pasti. “Ya sudah dibantu kalo ada anak bangsa yang seperti ini”.”

Itu sepenggal cerita Mas Angga, mantan Sekpri Pak Prabowo yang saya temui di kantornya di Kemang tepat sehari sebelum batas maksimal pengiriman copy tiket pesawat ke Local Organising Committee Rusia, sebagai konfirmasi keikutsertaan menjadi relawan di ajang sepakbola bergengsi 4 tahunan ini.

Pertolongan menit akhir yang mendebarkan. Sejak 21 Februari 2018 ketika saya dinyatakan lulus, saya sudah gencar mengirim proposal permohonan dana ke mana-mana melihat harga tiket yang begitu tinggi. Maklum deh, yang temen saya pasti tau, saya liburan kebanyakan dari berburu tiket promo atau menang kuis. Sampai minggu lalu, sudah sekitar 70 perusahaan lebih saya hubungi. Belum ada yang nyantol. Walikota kelahiran saya, Kemenpora dan Pak Jokowi pun sudah saya coba kirimi, namun tanpa hasil (mungkin belum sampai atau tertutup banyaknya proposal lain).

Oleh adik saya, saya disarankan kirim ke partai politik yang saya pilih. Ya sudah, nama Pak Prabowo Subianto muncul di kepala. Lewat the power of networking, saya dapat nomor Mas Angga, yang langsung merespon pesan WhatsApp saya dengan sangat baik, sampe saya mikir ini beneran nggak sih? Haha…

Ternyata, ya benar! Saat ini saya sudah punya tiket menuju Kazan, kota tempat saya akan bertugas di bagian ticketing dari 13 Juni sampai 6 Juli, disponsori Pak Prabowo.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Kamu pasti diminta pilih beliau ya? Kamu diminta jadi kader ya? Kamu diminta jadi timses ya? Kamu diminta terlibat kampanye ya?”

Jawabannya, tidak. Sama sekali tidak ada pembicaraan bahwa saya harus melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Gerindra atau politik. Pak Prabowo mensponsori tanpa meminta apa-apa. Hanya saja beliau akan senang kalo saya bisa jadi kontributor untuk koran berbahasa Inggris “Independent Observer” dimana Mas Angga jadi CEO-nya, menulis tentang hal-hal menarik dari kegiatan relawan saya di Rusia, tentang budaya, wisata, atau dari sisi sepakbola.

Permintaan yang menantang, dan tentu tidak saya tolak karena ini adalah kesempatan untuk saya berkembang juga dalam dunia tulis menulis.

Doakan semua lancar ya teman-teman, jadi saya bisa berbagi cerita lewat “Independent Observer”, blog www.teronggemuk.com, dan Instagram @PsychoFat selama Piala Dunia nanti.

PS: Kita mungkin berbeda idola, tapi tetep saling sayang ya! Aku sih pegang Argentina, kamu apa?

*Oh, idola negara bola… Kirain idola tokoh politik.*

*Beda idola tokoh politik juga gak apa. Saling hormati aja.*

Eh lalu, seminggu sebelum keberangkatan, tiga perusahaan menjawab positif proposal yang saya kirim yaitu Telkomsel, PT. Pupuk Indonesia, dan PT. Bukit Asam. Segala upaya terbayarkan. Jadi kamu terus berjuang ya sampai penghabisan! Nggak ada kerja keras yang nggak terbayar. Semua mungkin. Selamat mengejar mimpi, teman-teman!

016cac9bcb1390193eb9366caa810e170306fef88e

Nantikan cerita saya selanjutnya ya! Dan cek hestek #CatatanRelawanPialaDunia di Instagram untuk melihat foto-foto kegiatan saya di Piala Dunia FIFA 2018 Rusia.

Dasvidaniya!

Advertisements

29 thoughts on “[Catatan Relawan Piala Dunia] Bagaimana Cara Jadi Relawan FIFA?

  1. haniefa

    Menginspirasi banget kak 🙂
    kirain biayanya ditanggung fifa..hehe
    Tadinya buat piala dunia 2022 mau daftar, eh pikir2 lagi deh soalnya masih pelajar
    Tetap semangat ya kak!

    • Hihi… Iya namanya relawan pasti ada yang direlakan tapi percaya lah kalo pengalaman yang didapet nanti itu tak ternilai. Dan kamu selalu bisa cari sponsor seperti aku.

  2. Noni

    yaampun pasti bahagia banget ya kak!!! menginspirasi banget! makasih kaak. aku jugaaa mau ah piala dunia 2022 xixixi aamiin.

  3. Anne besantyaa

    Kak.. Kalo untuk umur sekitaran 17-20 ..kira2 bisa nggak jadi bagian dari fifa world?..soalnya klo memang bisa , tahun 2002 mau ikutt aku..tapi bukan jadi relawan ny kak.. Maunya bgian lain yg biaya nya ditanggung kak hehe 😂😂

    • Minimal umur 18 tahun dan nggak ada batesan maksimal. Pendaftaran Piala Dunia 2022 kemungkinan besar di pertengahan 2020. Kalo untuk bagian di luar relawan aku nggak tau. Hehe… Karena FIFA buka pendaftarannya memang untuk relawan.

    • Aamiin!!! Semoga makin banyak relawan Indonesia di Piala Dunia. Untuk saat ini belum kepikiran. Sebenarnya ada Tokyo Olympics 2020 dan pendaftaran sepertinya di bulan September tapi aku sendiri belum memutuskan akan daftar atau nggak. Hehe…

  4. sangat menginspirasi! sebenarnya saya akan berencana mengikuti Olimpiade Tokyo 2020 dan sangat kebingungan bagaimana cara untuk mendapat biaya ke sana mengingat saya masih freelance dan akan membutuhkan biaya yang sangat banyak sebagai relawan, sedangkan pendaftaran sudah sangat dekat. Walaupun saya masih ada waktu untuk prepare saya ingin menggali ilmu lebih dalam soal sponsor ini. Mungkin saya akan kulik by PM Instagram ya. Also wish me luck!

    • Halo, kalo untuk daftar, daftar aja nggak usah mikirin biaya dulu. Cuma memang namanya relawan, sebaiknya kita juga jangan berharap bisa 100% mendapat sponsor. Saya sendiri juga menyiapkan uang sendiri sejak daftar hingga masa penerimaan, untuk jaga-jaga. Ketika akhirnya ternyata tabungan saya nggak cukup, di situ saya mencari proposal. Di proposal saya meminta biaya pesawat + hotel ketika transit saja. Sisanya yaitu makan di luar jam kerja dan untuk ke tempat wisata, pakai uang sendiri. Untuk tempat tinggal, transport dalam kota dan makan selama kerja ditanggung Rusia kalo untuk Piala Dunia 2018 kemarin. Ada waktu 2 tahun, yang bisa dipakai untuk nabung dulu. Hehe… Semangat ya!

  5. gabby

    halo kak, saya rencana mau daftar volunteer Tokyo 2020, sayangnya fasilitas yang diberikan tidak termasuk tiket pesawat PP bahkan penginapan.. kalau boleh saya ingin lihat contoh proposal yang kakak ajukan kepada tokoh2 atau perusahaan2 tersebut sebagai referensi saya, terimakasih kak..

  6. Dira

    Ounch banget, sampe gue merinding bacanya. Pengen juga jadi relawan atau peneliti.
    Dari dulu, tapi sampe sekarang tidak ada keberanian. Nggak ada teman yang punya keingin seperti gue.
    Pengen mengunjungi banyak negara, menulis apa yang gue temui biar jadi inspirasi buat kaum muda agar tidak malas belajar.
    Berkeinginan tinggi untuk mengetahui segala sesuatu keindahan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s