Cerita Eyang

Standard

Ada yang berbeda di atas meja makan depan kamar. Bukan, bukan taplaknya yang baru. Taplaknya masih yang lama. Tapi saya tau persis, ada yang beda. Pasfoto. Saya tidak serta menerta menengok pasfoto siapa gerangan… Sampai kemudian saya menyadari bahwa di balik taplak transparan tersisip foto dan KTP Mami -sebutan saya untuk Nenek dari pihak Mama. Tak tahan saya menatap kedua benda itu lama-lama, langsung saya berpaling… Selalu ada rasa sedih mengingat almarhumah, bahkan hanya dengan melihat fotonya.

==

DSC_0103

Namanya Sukaesih. Lulusan OVVO (Opleiding Voor Volg Onderwyzeres) atau dikenal sebagai Sekolah Guru di masa Belanda dulu. Seorang wanita yang membesarkan keenam anaknya dengan penuh perjuangan saat suaminya meninggal tatkala anak-anak beliau masih remaja. Nenek yang jago membuat cross stitch atau kristik, serta hiasan dinding dari kain-kain perca; Nenek yang memarahi cucu-cucunya dalam Bahasa Belanda. Hobinya membaca dan selalu mengutamakan kebersihan. Satu lagi, beliau senang memanggang kue. Gambaran nenek-nenek dalam kisah klasik.

DSC_0094

DSC_0097 DSC_0096 DSC_0095 DSC_0092

Saya dekat dengan Mami. Bisa dibilang saya cucu satu-satunya yang paling sering menemani. Mami saya tersayang, dengan segudang pesan-pesannya yang bijaksana. Katanya, “Gendut gak apa, yang penting kamu bersih dan wangi.” Sarannya, “Nikah kalo kamu udah puas sama kesendirian kamu, bersenang-senang. Mami dulu nikah juga sudah tua, setelah Mami puas nonton bioskop sampai rasanya udah nggak bisa lagi dibohongi sama film.” Kelakarnya, “Jangan menikah dengan orang militer, nanti ditinggal mati muda.” Yang terakhir ini mungkin karena kakak beliau, Tole Iskandar, yang seorang pejuang di masa Belanda dulu gugur dalam perang di usia belia.

Ah Mami, hancur hati saya ketika Mami tiada. Banyak rasa sesal menghinggapi, terutama karena kita sempat berselisih paham sebelum Mami meninggal, dan juga karena saya tidak banyak menemani Mami di rumah sakit. ūüė¶ Tapi Mami pergi dengan meninggalkan banyak kebiasaan baik yang saya jalani. Membaca, menulis, menyimpan foto-foto untuk kenangan, beres-beres… Sayangnya saya tidak belajar membuat kue ya Mi, karena terlalu sering dimanja dengan kue-kue buatan Mami, saya jadi senangnya hanya menikmati.

==

Beberapa hari setelah saya melihat¬†foto dan KTP Mami yang mendadak ada di atas meja makan, saya bertemu Eyang Heru. Nama yang saya dapat di tengah¬†bincang-bincang kami. Eyang Heru menepuk pundak saya, dan ternyata dia salah orang. “Saya pikir orang lain, tapi tadi sebenarnya sudah ragu karena sepatu dan jam tangannya beda,” ujarnya. Saya tersenyum. Beliau tetap mengajak saya ngobrol, yang dengan senang hati saya ladeni. Karena saya tahu, orang tua butuh teman bicara.

Eyang Heru bilang dia mau menemui temannya di Rumah Sakit Siloam. Dia pergi sendiri naik bis Deborah AC. Dari situ mengalirlah beragam cerita darinya.

Saya punya geng waktu sekolah dulu. Dan sampai sekarang kita masih kontak-kontakan. Yang satu masih sama juga kelakuannya, masih manja padahal udah jadi nenek-nenek. Kalo kumpul sama teman lama, senangnya ngobrol masa lalu. Masa sekolah. Saya suka jadi penggerak untuk kumpul-kumpul.

Wah! Sama lho Eyang! Saya juga kalo bertemu teman lama, yang dibicarakan kebanyakan kejadian di masa sekolah dulu. Rasanya lebih menarik dibanding tetek bengek urusan pekerjaan.

Saya ini udah lewatin banyak jaman. Jadi nggak heran dengan kenaikan ini itu seperti sekarang. Dulu tahun 60-an, pagi harga beras 4,000 lalu siangnya 7,000 dan malemnya jadi 10,000. Ya memang selalu rakyat yang susah. Saya dulu pernah punya uang 10,000 yang ukurannya besar, hasil panen kelengkeng. Tau-tau nilai 10,000 turun jadi 1,000. Kita harus tukar ke kantor pos dan hanya dapat 900 aja.

Saya jadi teringat cerita Mami, di masa itu paman beliau sempat terpukul karena simpanan hartanya jadi tak berarti apa-apa…

Kalau ada teman yang kurang mampu, jangan dibilang dia tidak sukses. Dia hanya tidak beruntung. Kalo sukses, tiap orang punya pengertian berbeda. Saya orang biasa saja, tidak kaya, tapi saya berhasil mendidik kesebelas anak saya. Saya anggap itu sukses.

Ah, malu rasanya. Seringkali saya menganggap kesuksesan itu adalah hal-hal mentereng yang bisa dilihat. Lalu, terjadilah percakapan yang membuat saya agak terhenyak.

Maaf,” ucapnya tiba-tiba. “Saya Kristen.” Dalam hati saya sempat berpikir jangan-jangan beliau mau mencoba mengenalkan saya dengan kepercayaannya, seperti yang sempat heboh beberapa waktu lalu.¬†“Dulu saya kebaktian pernah ada ular masuk ke dalam rumah. Itu lho di rumah yang sekarang jadi Margo City.

DUAR! Malu saya kembali malu. Saya ini terkadang suka berpikir negatif. Ternyata di bagian maaf-nya itu, adalah kerendahhatian beliau karena agamanya berbeda dengan saya yang berhijab. Toleransi. Hal yang saya catat dalam hati. (Oh! Please jangan penasaran dengan kisahnya tentang ular.)

==

Saya turun lebih dahulu. Saya letakkan tangannya di jidat saya. Siang itu di bis Deborah AC, sepertinya Allah mengirimkan sosok Mami yang saya cintai lewat Eyang Heru…

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Eyang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s