Terbang Bersama Batik Air

Standard

Tepat tiga minggu yang lalu, ibu mertua saya meninggal dunia. Ibu yang saya dapatkan di hari saya menikah dengan Yuswo, suami saya yang juga merupakan anak kesayangan beliau. Sakit Hepatitis yang diderita telah membawanya menemui Sang Khalik. Sesaat setelah saya mendengar kabar duka tersebut, saya langsung memesan tiket penerbangan paling pagi di keesokan hari. Saya ingin melihat beliau sebelum dimakamkan, saya ingin berada di Balikpapan untuk mengikuti Tahlilan.

Selama empat hari lamanya saya menginap di kampung halaman suami, menemaninya dalam kesedihan. Sehari sebelum kembali ke Depok, suami memesan tiket lewat salah satu agen tiket online.

“Pulang naik Batik ya Beb,” ujarnya.

Saya ragu.

“Itu punya Lion ya Beb? Nanti delay ah.”

“Nggak, ini premiumnya. Harga sama kayak maskapai lain, tapi kamu enak dapet makan dan pesawatnya juga baru,” suami mencoba meyakinkan.

Yah, berhubung saya juga belum pernah naik Batik Air, dan juga saya pikir ini bisa jadi bahan menulis di blog, saya pun mengiyakan kemauan suami. Toh bandaranya juga di Halim, yang lebih dekat dengan Depok.

Sabtu, 5 September 2015. Setelah mengambil oleh-oleh Kepiting Dandito di Bandara Sepinggan lama, saya dan suami bergegas menuju Bandara Sepinggan baru untuk mengejar check-in. Untungnya counter bagasi juga masih buka; terlihat mewah berhampar karpet. Di tiket yang saya dapat, tertulis kalau waktu boarding jam 13.20. Merasa pesawat tidak mungkin tepat waktu, saya mendatangi gate di jam 13.30 dan ternyata… udah last call!!! Saya penumpang terakhir yang masuk pesawat. Aduh malu banget! Rupanya Batik Air tepat waktu, pesawat pun lepas landas di jam 13.50 sesuai tiket.

image

image

Duduk di kursi dengan seat belt terpasang kencang, kaki saya bergerak leluasa. Jarak dengkul saya dengan kursi di depan jauh, sehingga saya bisa meluruskan kaki dengan nyaman. Fasilitas TVnya pun membuat penerbangan tidak terasa lama. Terbahak-bahak saya menonton serial The Big Bang Theory dengan headset yang saya beli dari pramugari seharga Rp. 25,000. Ya, Batik Air tidak menyediakan headset kalau kita mau nonton TV. Jadi bawa sendiri dari rumah ya.

image

image

image

image

image

“Mau menu apa, Bu? Nasi Udang Manis atau Nasi Goreng Hijau?” tanya pramugari berkebaya putih dan berkain rok batik. Tak terasa sudah waktunya makan. Saya berpikir sejenak.

image

Nasi Goreng Hijau pun menjadi pilihan saya, dilengkapi kue bolu, air mineral dan soda. Tiket seharga Rp. 800,000 terasa murah dengan beragam fasilitas yang saya dapat di dalam pesawat Batik Air. Penerbangan siang itu pun lancar dan cepat, hanya 1 jam 40 menit saya sudah mendarat mulus di Jakarta. Terima kasih Batik Air. Sepertinya saya akan memilih maskapai ini untuk penerbangan berikutnya ke Balikpapan.

image

image

Advertisements

2 thoughts on “Terbang Bersama Batik Air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s