Merindu

Standard

Beberapa waktu lalu, selagi makan malem bareng duo sobat saya Chris dan Mike, mendadak kami mulai berpikir-pikir bahwa menjadi dewasa itu nggak asik. Terlalu banyak tanggung jawab, urusan dan bikin ruang gerak kita untuk bersenang-senang terbatas.

Contohnya nih, si Mike pengen banget selesaiin main Metal Gear Solid V, game PlayStation yang kalo kata dia ditujukan buat orang yang kehidupannya cuma di depan monitor, secara itu game emang penuh lika-liku. Tapi Mike kudu kerja, ngatur jadwal dan ngadepin komplain; berangkat jam 11 siang pulang jam 9 malam. Jadi kemajuan dia main game tersendat. Dia kesel. Dia kangen jaman dulu waktu hidup nggak serumit sekarang.

Lalu Chris pun menimpali. Dia pengen bisa dengan sesuka hati bangun tidur, nyalain komputer, melukis seharian tanpa direcokin masalah nyari rejeki. Ya tapi kan mau nggak mau harus nyari, harus kerja. Nggak ada tuh “minta uang orangtua” di kamus hidup orang dewasa. Dia kesel. Dia kangen jaman dulu waktu hidup nggak serumit sekarang.

Saya? Ah, saya merindu ketika hidup saya cuma urusan masuk kelas, belajar, ujian. Sisanya? Ngabisin uang jajan buat beli majalah bola, nonton bola semalam suntuk, berdebat bola sama temen-temen, hafal semua nama pemain bola, nemenin tim bola kelas ngadu sama anak kampung sekitar sekolah… Sekarang? Mana bisa. Saya udah jadi budak korporat. Saya kesel. Saya kangen jaman dulu waktu hidup nggak serumit sekarang.

Advertisements

3 thoughts on “Merindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s