Satu Hari Kulineran di Yogyakarta

Standard

Awal Januari kemarin saya diajak Yuswo ke Wonogiri untuk mengunjungi Pak De. Bukan hanya kami berdua yang berangkat, keluarga kakak-kakak ipar saya juga pergi. Jadilah kami semua berkendara satu mobil van dari Yogyakarta. Waktu kami padat, hanya tiga hari. Dua hari kami pergunakan untuk keperluan temu kangen, lalu sisa hari terakhir saya paksa Yuswo untuk ngajak saya makan di Yogyakarta. Dengan menyewa motor, kami berdua menghabiskan waktu dari pagi sampai sore untuk memuaskan perut.

Continue reading

Menikmati Kuliner Khas Palembang

Standard

Palembang adalah nama kota yang sejak kecil sudah sering saya dengar. Papi, nama panggilan saya untuk kakek dari pihak Mama, memang orang sana. Tapi saya sendiri belum pernah ketemu Papi, beliau meninggal bahkan ketika Mama saya belum menikah. Kerabat di Palembang yang saya kenal hanya seorang tante bernama Yuk Kartini, dulu sekali waktu saya kecil, beliau rutin ke Depok. Harusnya sih, saya nggak manggil “Yuk” yang artinya “Mbak”. Hihi.

Kalo bukan karena satu dan dua hal, September tahun lalu saya seharusnya ke Palembang, memanfaatkan tiket promo AirAsia yang cuma Rp. 700,000 PP Jakarta – transit Kuala Lumpur – Palembang. Eh, ternyata saya harus sobek tiket, dan baru sempat menjejakkan kaki di Palembang akhir tahun 2019, karena undangan pernikahan teman saya Kenjrot.

Continue reading

Pot o’ Koffie Balikpapan

Standard

Dear Pot o’ Koffie,

Saya nggak pernah nulis surat untuk toko kopi. Ke artis cilik tahun 90an dulu, sering. Ke orang yang saya taksir, apalagi. Bisa dibilang, ini pertama kali saya menggoreskan pena untuk tempat yang bikin saya betah duduk berjam-jam. Sungguh, menunggu tidak pernah se-worth it. Tidak pernah senyaman ini. Baru kali ini saya ngabisin waktu sarapan dan makan siang di satu tempat yang sama.

Continue reading

Holy Smokes Slow-Smoked BBQ Jakarta

Standard

Hai hai, saya balik lagi dengan ulasan seputar perdagingan. Kalo minggu lalu sempet bahas sedikit tentang Biggies BBQ Jakarta, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman makan di Holy Smokes Slow-Smoked BBQ Jakarta. Restoran ini ada di 2 lokasi yaitu Wolter Monginsidi (081211792123) dan Rukan Garden House PIK (081314412276), dengan jam buka cukup unik: Senin-Kamis 11.30-15.00 dilanjut jam 17.00-22.00; lalu untuk Jumat-Minggu dan hari libur nasional jam 11.00 lanjut terus sampe 22.00.

Continue reading

Biggies BBQ Jakarta

Standard

Comfort food saya itu lontong, gorengan, dipotong-potong trus disiram sambal kacang. Itu versi seadanya, versi hemat. Kalo versi mewah, daging-dagingan jadi pilihan. Setidaknya sekali dalam sebulan, saya menyempatkan diri makan steak dan kawan-kawannya. Beberapa waktu lalu saya mencoba makan siang di Biggies BBQ Jakarta. Dari menu yang ada, saya memilih Combo Set yang terdiri dari 2 ala carte ditambah 2 side dishes, yang artinya saya bisa memilih dua jenis daging asap beserta dua jenis makanan pendamping seharga total Rp. 120,000.

Continue reading

#CeritaJamKosong #13 Jadwal Kereta Baru

Standard

Pagi ini mood saya berantakan banget karena jadwal kereta yang berubah. Biasanya, saya naik kereta jam 09.40. Keretanya mulai dari Stasiun Depok, tempat saya tinggal, jadi bisa dipastikan selalu kosong. Saya selalu dapat duduk, bisa baca, dengerin musik, atau tidur; lalu sampai Stasiun Tanah Abang saya pun segar dan siap menghadapi hari. Tau-tau nih, sejak 1 Desember kemarin, jadwal kereta tersebut menghilang. Yang tersedia ada di jam 09.05 pagi. Males banget kan?

Continue reading

Once There Was A Boy

Standard

Once there was a boy. Who played the guitar and banjo. He serenaded songs with joy. He wrote lyrics while sipping espresso.

There was one thing though. He thought his music was cheapo. He completely didn’t know. When he sang he had this glow.

Continue reading

Masjid Istiqamah. Masjid Cinta.

Standard

Sepertinya saya lagi nggak kreatif deh beberapa bulan terakhir ini di urusan per-blog-an. Ya emang anaknya juga nggak sekreatif itu siiih, cuma kalo kalian ngeh, dua tulisan terakhir ngomongin kopi lagi kopi lagi; trus sekarang, judul tulisan ini, pake kata-kata “cinta” juga sama kayak tulisan sebelumnya. Elah! Tapi gimana dong, sudah berusaha mencari judul lain, hati ini tetap pengen judulnya begitu, mengutip lagu The Adams yang “Mosque of Love”.

Ngomong-ngomong sebelum lanjut, saya cuma mau bilang kalo saya anaknya nggak relijius. Iya, punya agama, tapi bukan hamba Allah yang 100% menjalankan ajaran-Nya. Trus, sok sok nulis tentang masjid maksudnya apaaa? Nah justru! Kalo sampe ada masjid yang bisa menggetarkan hati orang yang nggak relijius macem saya, itu masjid penting untuk diceritain. Ye kan?

Continue reading

Shackeratto: Jatuh Cinta di Son’s Coffee Balikpapan

Standard

Kalo saya tiba-tiba jadi nulis tentang kopi lagi, padahal bulan lalu blog ini juga udah diisi tulisan tentang kopi; bukan, bukan karena saya ngerti kopi. Saya cuma ngerti minum kopi. Dan awas aja kalo sampe bilang saya norak, baru kenal kopi trus jadi nulis tentang kopi mulu. IYA. Bener sih emang gitu kenyataannya, tapi plis nggak usah dibilang di muka saya. Cuma saya doang yang boleh bilang diri saya ini norak.

Continue reading