Kalau bulan Februari lalu saya nggak ada tulisan… Heitsss… Bukannya lupa dengan komitmen satu tulisan dalam satu bulan seperti yang sudah-sudah ya. Dari awal, saya sudah merencanakan akan rilis tulisan saya yang dimuat di salah satu zine skena Balikpapan. Tapi, terbitnya agak ngaret, jadilah malah baru bisa saya posting di Maret ini, which is kebetulan juga, emang bulan ulang tahunnya Justin Bieber, bahasan saya di artikel zine tersebut. Enjoy!
Begitu melihat judul, mungkin kalian langsung berpikir, “Apaan nih Klamonski Zine ada tulisan tentang Justin Bieber segala?” Kenalin, saya Mita, mantan manajer pertama Superego; waktu mereka belum jadi om-om seperti sekarang. Ketika Rendy sang drumer minta saya nulis tentang Bieber, saya cukup mengernyitkan kening. “Zine kamu kan skena banget, indie banget. Haha!” Begitu balasan saya untuknya. Dijawab lagi, “Aduh Mit, yang punya Klamonski lho aku, Freyke, Dyaz. Kamu ya bagian orang dalam juga.” Oh, enak juga ya punya privilege. Wk.
So here I am. Writing a piece about my thoughts of Justin Bieber. Doi udah jadi idola saya sejak 2009; rambutnya masih poni lempar, YouTube menjadi panggungnya; sampai akhirnya doi sekarang udah jadi bapak anak satu yang secara musikalitas nggak lagi nyanyi lagu cinta-cintaan bocah.
Now keep reading, it will get more interesting. Let me take you on my journey of following Justin Bieber’s career and how I think he has grown.
Pertanyaan ini buat kalian cewek-cewek pembaca Klamonski Zine. (Ada kan?) Kalian pernah nggak sih, naksir sama seseorang yang jauh lebih muda, but not in a romantic way. Kayak, gemes aja gitu. Ibarat zaman sekolah dulu, ada adik kelas cowok yang ganteng dan cute, trus tiap papasan bawaannya pengen nyapa-nyapa sambil godain; naksir tapi bukan buat dijadiin gebetan atau bahkan pacar. Dan karena kita merasa sebagai kakak kelas, kita berani dan nggak tau malu untuk lakuin itu. (Wow! Begini rasanya punya power.)
Itu yang saya rasain sama Justin Bieber.
Tahun 2009, waktu saya lagi suka-sukanya nonton video dia di YouTube, dia baru berusia 15 tahun. Saya? Dawg, I was 24 years old!! Cukup terasa ilegal tergila-gila sama bocah kelahiran Kanada, 1 Maret 1994 ini. But again, like I said, not in a romantic way. Beda dengan nge-fans-nya saya sama Teddy Sheringham, mantan pemain lawas Manchester United. Waktu saya 13 tahun, dia sudah 32 tahun, and in my wildest teenage dreams, I imagined doing everything with him.
Oke, balik ke Justin. Belieber menjadi nama yang kami para penggemarnya sematkan ke diri sendiri. Ketika orang lain bilang “Oh my God”, kami bilang “Oh my Bieb”. Orang lain sakit butuh antibiotik, kami butuh antibieberiotik. Kalian sebut Kanada, kami menyebutnya Bieberland. Yep, se-alay itu. Di masanya. Meski istilah Belieber tak lekang oleh waktu.
Juga, di masanya, pilihan hidup saya di beberapa aspek dipengaruhi oleh Justin. Sepatu yang saya kenakan adalah sepatu yang juga dia kenakan. Nggak cuma merek, harus sama persis modelnya. Supra dan Adidas jadi pemain utama kala itu. Circa 2011-2015, parfum saya adalah parfum yang dia iklankan. Bahkan, ketika Justin menjadi model kolor Calvin Klein, yang tentu tidak bisa saya pakai, saya tetap beli untuk dipakai suami (yang lalu hilang di laundry waktu beliau dinas di laut).
Jangan tanya apa lagi yang saya koleksi. Semua album, lengkap; termasuk yang nggak keluar di Indonesia. DVD filmnya? Ada. Buku? Tentu. Selimut Justin Bieber juga punya (dan waktu Mama saya meninggal, sebelum dipindah ke ambulans dari rumah sakit, selimut itu dipakai untuk menyelimuti badan beliau…).
Justin Drew Bieber. Kalo ngomongin zaman dia masih remaja, rasanya “dipuja dan dihina” cukup tepat untuk menggambarkan karirnya. Jutaan remaja berteriak histeris hanya dengan melihatnya nampang di poster bonus majalah. Di saat bersamaan, dia juga dibenci karena terlalu cute. Gokil banget kan? Orang nggak suka sama kamu karena kamu ganteng. Isu kalo Justin Bieber menghamili wanita dan gosip kalau dia aslinya adalah kakek-kakek berusia 50 tahun yang memakai topeng juga menjadi beberapa berita yang menerpa.
Saya ingat di suatu wawancara, sambil tertawa renyah Justin menyebut bahwa video “Baby” di YouTube adalah video yang paling banyak disukai sekaligus paling banyak dibenci. Dia menyampaikan dengan kedewasaan yang melebihi usianya. Seakan-akan paham bahwa jalan untuk sukses di bisnis berskala dunia memang harus berani menghadapi kepopuleran dan juga caci maki.
Kalo dipikir-pikir, Justin era “Baby” cuma branding semata nggak sih? Sosoknya dibalut image cowok manis dengan lagu cinta yang manis, ritme yang cerah dan optimis, warna ungu juga digadang-gadang sebagai warnanya Justin, padahal warna kesukaan dia sesungguhnya adalah biru. Justin was building a fanbase, being commercial was his ride. Sama kayak Taylor Swift yang mulai dari country-pop, Coldplay yang awalnya radio-friendly, baru kemudian mereka makin eksperimental; pun The Weeknd yang meski di awal udah underground, tapi sempet masuk pop dulu sebelum balik “gelap”. Karena jelas, industri musik itu pasar, bukan ruang aman untuk berkarir. You gotta sell what people wanna buy.
Baru ketika suaranya mulai berubah, di album “Believe” Justin menunjukkan warna musik yang lebih eksploratif: pop dengan EDM, dance, dan electronic. Vokalnya lebih kuat; ada ambisi dan ego di lirik-liriknya yang lebih reflektif. Selanjutnya? Justin nggak hanya sekadar bikin diskografi. “Purpose”, “Changes”, “Justice”, “SWAG”, dan “SWAG II” menjadi rekam jejak kedewasaan emosional. Musiknya semakin jujur, makin dalam, dan bahkan makin less performative. Setiap album membawa pendengarnya ke tiap fase hidup berbeda: teenage dream, teen idol, pembuktian diri, pencarian makna hidup, hingga integritas diri.
Di luar itu semua, Justin juga merilis “Journals” dan “Freedom” yang bisa dibilang semacam dokumen batin. Khusus “Journals” malah ada cult-nya sendiri karena nggak semua telinga Belieber bisa nerima, mau dipaksa seperti apa juga. Terlalu gelap, urban, dan moody. Tapi makna yang dia bawa di 2 album itu, bisa jadi jauh lebih jujur dari album-album besarnya. Raw emotions, chaotic, Justin was being authentic. Sedangkan “Freedom” menunjukkan kedewasaan spiritual dan fase berserah. Dalam penampilan, Justin juga berevolusi menjadi diri sendiri. Mulai dari warna ungu yang ikonik, sepatu chunky, kalung rantai emas, tato, kumis dan jenggot yang sempat menuai kontroversi, hingga piyama dan hoodie oversized yang nggak ragu-ragu dia pakai ke acara-acara formal.
So, ngomongin Justin dari sisi musikalitas, nggak bisa dipungkiri, dengan dia masih ada di industri musik sampai detik ini, Justin tumbuh, berkembang, dan mendewasa. Mulai dari tema yang hanya berpusat pada cinta monyet dibalut pop yang catchy, kini dia menjelajahi makna tentang menjadi seorang ayah, perjuangan rumah tangga, keyakinan, sampai kesehatan mental. Musiknya? Lebih soulful.
Dan dari segala pemujaan terhadap Justin Bieber, personal branding sebagai Belieber menjadi salah satu pencapaian receh saya dalam hidup. They see Bieber, they remember me. Pernah denger cerita anak dikasih nama Jastin Biber karena plesetan dari Jaja sama Titin bikinnya di Jember? Atau lihat Instagram reel orang India yang gaya rambutnya seperti dia? Tentu tidak luput dikirim ke saya oleh teman-teman. Justin ditangkap masuk penjara, Justin putus dari Selena Gomez, Justin nikah, Justin sakit sampe mukanya nggak bisa digerakin sebelah, Justin ketangkep kamera lagi pake baju kayak gembel, Justin punya anak, semua berita itu dikirim ke saya. Harusnya, mereka tau saya pasti tau kan? Jadi kenapa masih harus kirim-kirim lagi? Ini yang mengharukan. Mereka peduli. Seakan-akan, Justin Bieber memang seseorang yang menjadi bagian dari hidup saya.
The Bieber Fever has always lived in me. Seventeen. Helluva. Years.