Pohon Kenangan

Standard

Waktu kecil saya, Budhy -adik saya, Mama dan Papa tinggal di rumah besar milik Mami -nenek saya. Sekarang, hanya saya yang masih di rumah itu. Sedangkan Budhy dan orangtua saya sudah menetap di rumah milik sendiri. Di sebelah rumah Mami adalah tanah dari saudara kami juga, dan ada sepupu kami yang bernama Edmond tinggal di situ. Umur kami tidak terpaut jauh dan kami selalu main bersama. Halaman luas di tanah milik nenek Edmond, ada satu pohon yang nama jenisnya tidak pernah saya ketahui sampai sekarang.

Pohon itu bisa dibilang salah satu tempat favorit kala kami main di sore hari. Kerimbunan daunnya memberikan kami kesejukan saat bermain kelereng di bawahnya. Cabang-cabangnya sesekali dijadikan tempat burung menyimpan telur-telur. Satu waktu, kami pernah memanjat pohon ini dan Budhy menemukan sarang burung. Rasa penasaran seorang anak kecil membuat dia memecahkan telur tersebut. Kami tersentak, kaget karena di dalamnya melihat bayi burung yang merah, basah dan kami yakin, sudah tidak bernyawa… Itu mungkin pertama kalinya saya melihat “pembunuhan” dan merasa takut adik saya berdosa, masuk neraka, disiksa seperti telur burung yang dia pecahkan. Saya masih sangat ingat bagaimana saya memaksa Budhy berdoa dan meminta maaf, dan Budhy melakukannya di atas pohon tersebut, sambil tangan menengadah.

Seiring kami beranjak dewasa, pohon itu tergantikan oleh halaman rumah tempat kami bisa bermain bola dan layangan, teras rumah tempat kami mengadu permainan Tazos, jalan raya dimana kami bersepeda, rumah-rumah teman sekolah, Pizza Hut, bioskop… Di usia remaja saya, sempat saya sesekali menatap pohon tersebut seraya tidak percaya betapa kecilnya tubuh kami saat usia TK dan sekolah dasar.

Kini, pohon tersebut akan hilang. Akan dicabut paksa. Keluarga besar nenek saya membeli setengah dari halaman di mana pohon itu tepat berdiri di tengahnya. Gambar yang saya pasang ini, adalah gambar terbaru setelah Papa dan Om Eken melakukan banyak pemangkasan. Dulu, daun-daun di pohon ini membentuk rimbunan bulat penuh. Pohon ini meski tak akan ada lagi, rasa-rasanya akan tetap terselip dalam kisah-kisah masa kecil yang akan kami ceritakan ke anak-cucu nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s