[Review] Album Superego “Pulih” oleh Mr. Ade Fitrian

Standard

Sepertinya tahun 2015 ialah akhir dari kemurungan akan pasifnya band-band lokal yang memproduksi rilisan mereka secara otonom. Setelah Pointless Peace berhasil menghancurkan stigma negatif atas ke-non-produktifan scene berskala mikro dengan mengeluarkan album baru mereka, Friends And Resistance, dalam format tape dan CD; terbukti para penggiat scene di kota Balikpapan ini tidak begitu peduli dengan paradigma negatif diatas. Nampaknya begitupun yang dirasakan dengan Superego.

Superego yang dilakoni oleh Yuswo Hadi Saputro (vokal, gitar), Anton D. Andrijanto (bass), kakak beradik Sendy Agari Asra (gitar) dan Rendy Asra (drum) mempertegas bahwa pergerakan musik bawah tanah ini tidak layak untuk terhenti barang sejenak pun. Mereka mengeluarkan album bertajuk “Pulih” di bulan November 2015, tepatnya empat bulan setelah hancurnya stigma mengenai adanya stagnansi di tubuh scene. Album “Pulih” mampu merepresentasikan bahwa skeptisme terhadap scene yang seakan dilihat sebagai sebuah borok dengan perih yang tak berujung lah yang lebih layak dikatakan utopis. Superego memperlihatkan aksi nyata yang digagas para pelaku kolektif dengan menjadi bagian di dalam perlawanan ini.

Superego merekam 7 tracks di 2 studio yang berbeda. Lagu “Koloni”, “Satir”, “Apalagi Papua” dan “Terdengar Tangguh” direkam di Backstage Studio, yang terletak di Samarinda, oleh Arie Wardana. Sedangkan lagu “Arus Utama”, “Sekencang” dan “Unsur” direkam lebih dulu di studio MIA Records oleh Qandiyas Achmad dan Isnhu Dwi Handoko, yang keduanya ialah kontributor band metal asal Balikpapan, Zwageri Buceros.

Album “Pulih” ini seakan mengingatkan kejengahan anak muda terhadap musik rock di era 80-90an yang identik dengan celana ketat, rambut gondrong dan rockstar syndrome yang berlebihan. Seiring jaman, kejengahan dengan sendirinya berevolusi sesuai tempat dan waktu. Selain rockstar syndrome yang semakin menggila, kini mata kita lebih terbelalak dengan munculnya scenester qwerty, merchandise Gildan-sentris, gampangnya menilai seseorang melalui apa yang mereka gemari, serta tuntutan untuk kompromi terhadap dunia kerja. Lirik berbahasa Indonesia di keseluruhan album ini tertutur dengan jujur dan lantang. Penyampaian yang nyaman dalam setiap kosakata lirik Superego membuat pendengar seharusnya mengerti bahwa kejujuran tidak hanya datang dari mereka yang memakai sorban dan dasi. Kejujuran juga dapat disampaikan oleh mereka yang lebih nyaman mengenakan sweater bulu yang didapat dari pasar secondhand, jeans belel dan Chuck Taylor butut.

Dalam tiap aksi panggung Superego tak pernah merasa tua untuk menyajikan distorsi 90an dan melodi tajam namun kasar, dari gigs ke gigs yang sudah mereka hampiri. Lirik berbahasa Indonesia selalu membuat penasaran bagi mereka yang ingin tahu apa pesan yang terbungkus dalam lagu-lagu yang mereka bawakan. Itulah kenapa rilisan fisik yang disertai lirik memiliki peran penting demi mengantarkan pendengar untuk merasakan nikmatnya menafsirkan lirik-lirik lagu secara bebas.

IMG_0326

Saat kali pertama CD album “Pulih” berada di genggaman, anda akan merasa seperti memegang sebuah puzzle bergambar potret Kim Thayil yang ingin segera dibawa pulang untuk diselesaikan di rumah dalamĀ kesendirian. Track pertama yang berjudul “Koloni” membujuk kita untuk lebih bersahabat dengan kesendirian, selama kesendirian itu tidak melulu mendatangkan perkara pelik. Kutipan kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer menggaris bawahi bahwa sampai di titik kematian pun akan kita hadapi sendiri. “Koloni” idealnya sebuah lagu dengan satir dan komposisi yang pas secara keseluruhan, baik instrumen maupun kejelasan vokal yang lugas dan lantang. Namun track yang berjudul “Satir” justru muncul di track kedua, yang semakin memperjelas kejengahan terhadap keadaan ditengah zaman yang serba kompromis. “Satir” ialah track yang paling terdengar nakal, terutama saat sinergi tempo dan riff gitar yang cepat seketika saling meyakinkan satu sama lain bahwa Superego ialah band yang patut diperhitungkan dalam memberangus selera musik kalian yang membosankan. Perhatikan ketika vokal mulai mengisi verse di lagu ini; lagu “Satir” mengingatkan bentuk awkward moment saat sajian programĀ  humor di layar TV tertangkap garing di benak kita. Anthem yang cocok untuk menghancurkan televisi seperti Abraham menghancurkan berhala. Korelasi antara televisi dan kehidupan manusia sangat memerlukan perhatian serius, terutama saat anda mendeteksi adanya skenario yang dibuat oleh negara dalam mengalihkan isu internal melalui pemberitaan di televisi sebagai kendaraan syiar mereka. TrackĀ “Satir” berhasil membuat kita membenci sajian televisi yang kita anggap berkiblat pada orientasi rating yang tinggi serta slapstick murahan. Tapi ingat, pengalihan isu jauh lebih menyedihkan.

Barang siapa yang dengan sengaja alpa pada upacara 17 Agustus di setiap tahunnya di Indonesia ialah orang-orang yang mengerti apa arti dari kebebasan yang sesungguhnya. TrackĀ “Apalagi Papua” menggambarkan bagaimana kemerdekaan tidak dapat diimani oleh siapapun yang menelisik kehidupan di Papua pada saat ini. Hari ini Papua seperti seorang tuan rumah yang mengundang tamu dan kemudian tamu tersebut mengambil alih rumah mereka bahkan secara perlahan menjadikan mereka budak di rumah mereka sendiri. Siapapun yang dianggap sebagai bagian dari Gerakan Papua Merdeka diseret ke terali besi sampai pada waktu yang tidak jelas. Jangankan vonis lamanya hukuman, hak untuk mendapatkan pengacara serta pengajuan banding bahkan tak bisa diraih dengan proses yang mudah. Bahkan beberapa tahanan mengaku tak boleh sekalipun bertemu dengan anggota keluarga mereka. Singkatnya, jika anda dengan kehidupan anda yang serba berkecukupan dan setiap harinya merasakan nikmatnya berkumpul bersama orang-orang yang anda sayangi saja masih mempertanyakan kemerdekaan macam apa yang berlaku ditengah kita, apalagi Papua?

Belum hilang di kepala ini mengenai Papua, trackĀ “Terdengar Tangguh” langsung mengalihkan ironi dengan hentakan drum yang dideru riff gitar ala Superego. Lagu ini gambaran keadaan anak muda jaman sekarang. Lagu yang hebat dan jujur. Tahukah anda bahwa tidak semua anak yang mengenakan kaos Mogwai mendengarkan Mogwai?Ā  Tahukah anda bahwa playlist di iTunes dapat menentukan harga diri seseorang? Tahukah anda bahwa seorang scenester dengan followers Instagram yang lebih banyak cenderung lebih disegani dan dihormati daripada scenester yang pernah menunggu dini hari tiba demi mengibarkan banner besar bertema Buy Nothing Day di jembatan penyeberangan depan Plaza Balikpapan hingga diturunkan sendiri oleh aparat? Citra kalian seakan lebih penting daripada mengetahui bahwa vokalisĀ The Flaming Lips pernah mencium kaki Miley Cyrus saat mereka mengkover “Lucy In The Sky With Diamonds”. Oh, dan band sekaliber Crytopsy tidak selalu membawa cacing tanah kemana-mana.

Superego dikelilingi oleh karib-karib terbaik. Hal ini diamini mereka dengan mengajak beberapa sohib untuk berkolaborasi pada 2 lagu yang berbeda: “Arus Utama” dan “Sekencang”. Taqeem Grunge (ex vokalisĀ Superego) yang pada sesi rekaman ikut mengisi vokal pada lagu “Arus Utama” menjadi pembuktian dari sebuah band asal Balikpapan bernama Superego bahwa tiada yang mustahil dalam merekonstruksi komponen-komponen yang tersimpan berdebu namun tak pernah usang untuk didengarkan. Superego berhasil mengadopsi distorsi dan keterasingan band-band rock/grunge era 90an sebagai benang merah yang menyatukan materi keseluruhan album ini. Drum yang terdengar rough nan groovy bisa membuat anda kembali merasakan nikmat ritma remaja bagi siapapun yang merindukannya. Hey, entah darimana aroma The Vines tiba-tiba tercium saat dinamika drum pada tengah verseĀ “Arus Utama” terdengar. Lagu ini semakin bersinergi dengan vokal Taqeem yang bertutur dengan penyampaian yang jujur dan nakal. Tiap kata dari lirik “Arus Utama” menjelma jadi puing-puing toleransi yang tertinggal bagi siapa saja yang merasa adanya kenyamanan konkrit dalam membuat lirik yang masa bodo namun ear-catching, bahkan saat dibawah pengaruh substance.

Begitu juga pada track “Sekencang”, kontribusi suara Adji RROARRR dan penguasaan gitar Arif (ARCH Guitar) seakan mendengarkan Floorpunch meneriakkan fatwa haram untuk memperlihatkan ketaqwaan di layar kaca ataupun memposting kenikmatan ber-Tuhan di social media. Mungkin maksud lagu ini sebagai ungkapan kehati-hatian kepada umat yang telah mendapatkan petunjuk agar senantiasa menghindar dari fitnah riya dan sombong, tanpa harus mengesampingkan hak prerogatif seseorang terhadap apa yang mereka percaya, tekuni dan jalani.

Track terakhir Superego pada album ini bertajuk “Unsur”, diciptakan oleh seorang sahabat bernama Firman Kurniawan pada tahun 1999 silam. Bayangkan bagaimana mereka mempertahankan keutuhan lagu ini, dalam tiap nada dan temponya, menyanyikannya dari gigs ke gigs, hingga membutuhkan waktu yang cukup lama sampai akhirnya lagu ini bisa diperdengarkan kepada pendengar mereka pada saat ini dan menjadi warisan berharga yang bisa dipamerkan ke anak cucu mereka kelak. Tak salah bila menisbatkan album “Pulih” milik Superego ini sebagai album yang collectible. Dibalik fenomena runtuhnya industri rilisan dalam skema penjualan kapital dan stigma kurang menjanjikannya rilisan untuk menjadi penyokong keseriusan band untuk tetap berada pada jalurnya, Superego membuktikan bahwa metode self-release bukan hanya sekedar cara alternatif (budaya tandingan) dari pasar musik kapital. Langkah Superego berhasil membuka mata peminat rilisan fisik bahwa hancurnya industri musik kapital sekalipun tidak akan memberikan imbas apa-apa terhadap kelangsungan band yang memilih menggunakan metode self-release dalam pendistribusian album mereka, terutama jika konten yang disajikan berseberangan dengan kelaziman-kelaziman yang saat ini mudah didapati pada pelaku musik berorientasi profit makro belaka.

(Penulis adalah H. Ade Fitrian yang merupakan vokalis Anarpot dan Pointless Peace.)

IMG_1597 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s