Teman-teman baru saya di sini senang mendengar cerita kenorakan saya terkait kehidupan di Amerika. Kehidupan yang sebelumnya hanya pernah saya liat dari film atau serial TV. Beberapa waktu lalu, tiba-tiba mereka ngasih ide. “Lo harus ke Pro Bass Shops, di sana mereka jual senapan dan pistol. Pelurunya juga dijual begitu aja, ada di rak-rak. Tinggal ambil.” Kristi, kawan baru yang seorang guru terapi bicara menawarkan. “Lo mau ke sana? Ayo gue ajak.” Semua percakapan tersebut dalam dalam Bahasa Inggris ya gais. Diajak begitu, saya pun tentu saja tidak menolak. Mana mungkinnn, menolak ajakan menjelajah kota, dianter pula, di saat kalian tau sendiri saya jadi relawan hanya modal tiket pesawat dan penginapan Airbnb doang tanpa anggaran turis. Haha. Sepulang tugas, saya ikut Kristi naik mobilnya ke Pro Bass Shop yang letaknya sekitar 15 menit dari stadion.
Di jalan, Kristi sempat menunjukkan foto kamar senjata milik temannya. Jadi, karena di Texas bebas memiliki senapan dan pistol, dan biasanya juga diwariskan turun-temurun, maka wajar kalau di satu generasi bisa punya banyak banget senapan dan pistol. Ada yang disimpan di brankas khusus, ada juga yang bikin kamar khusus, seperti teman Kristi itu. Saya terkedjoettt tentu.
Pro Bass Shops sesungguhnya adalah toko untuk menjual perlengkapan kegiatan luar ruangan seperti naik gunung, kemping, mancing, naik perahu, sampai berburu. Tokonya besar banget dan dari luar saja sudah terasa vibes the great outdoor-nya. Bentuk tokonya pun cantik seperti bayangan saya akan rumah-rumah jaman Amerika masih dibangun oleh pionir. Aksen kayunya kental. Seperti rumah di buku Little House on the Prairie kalo kalian pernah baca.
Begitu masuk, saya langsung terkagum-kagum. Luas dengan langit-langit yang tinggi. Di dindingnya banyak dipasang kepala Elk, yaitu rusa raksasa. Pokoknya sering ada deh di film-film luar negeri. Menariknya, itu bukan cuma pajangan belaka tapi Elk beneran yang udah diawetkan! Bahkan, ada juga versi utuh sebadan-badan. Gede banget! Tau deh di Indonesia ada atau nggak, karena meski Elk bentuknya seperti rusa atau kijang, tapi secara fisik jauh lebih besar! Tingginya mencapai 1.5 meter, bahkan kalau diukur dengan tanduknya, bisa sampai 2.7 meter!
Dari pintu masuk, saya berjalan ke arah kiri toko. Ada tulisan HUNTING dengan lagi-lagi, beragam binatang buruan yang diawetkan. Kristi lalu menunjuk ke arah rak yang dipenuhi kotak-kotak kecil. Kotak peluru. Dipampang gitu aja. Mau beli tinggal ambil. Peluru tajam, yang emang bisa membunuh. Bukan peluru bulet-bulet macem airsoft gun. Ya gimana ya, yang diburu aja macem Elk bahkan beruang juga…
Makin ke kiri, terlihatlah pemandangan yang bikin saya makin menganga. Berderet-deret senapan dan pistol dipajang rapi. Beragam merek, model, dan harga (pistol ada yang 400 dolaran, ada juga yang seharga motor NMax). Dari ujung ke ujung saya berjalan pelan untuk melihat-lihat semua senapan dan pistol yang dijual. Gokil! Dijual gitu aja gaisss!
Pas lagi asik foto-foto, tiba-tiba saya disamperin seorang pegawai. Dari name tag yang terlihat, namanya Brandon. Kaget, saya kira nggak boleh foto-foto, ternyata Brandon cuma penasaran dengan seragam relawan FIFA yang saya dan Kristi kenakan. Akhirnya kami ngobrol banyak. Saya cerita kalau saya datang dari Indonesia untuk jadi relawan, dan betapa saya sangat bersenang-senang berada di Texas. Tak lama, Brandon meminta saya untuk menunggunya sebentar. Dia pergi, dan kembali sambil membawa boneka beruang maskot Bass Pro Shops. Hadiah untuk saya katanya. Makin-makin terkedjoet deh. Sungguh, kalo mengingat kebaikan yang saya dapat dari orang-orang di sini (ada di tulisan-tulisan sebelumnya), saya nggak bisa berhenti bersyukur. Saya sempat berfoto dengan Brandon sebelum meninggalkan toko.
Wah, sebagai orang Indonesia, datang ke toko seperti Bass Pro Shops rasanya kayak nggak nyata. Haha. Senapan sama pistol dijual gitu aja gais! Tuh, sampe 3x kan saya nyebut gitu. Tapi saya harus balik lagi sih, karena ketika saya kembali tugas di stadion beberapa hari setelahnya, saya baru tau kalo saya boleh pegang pistol dan senapan yang ada!! Nyoba-nyoba enak nggak digenggamnya, berat nggak, trus boleh juga sok-sok membidik asal jangan diarahin ke orang! Haha.
Jadi, kalo kalian mungkin bertanya-tanya kenapa di serial Netflix Stranger Things Steve dan Nancy bisa semudah itu masuk toko untuk milih-milih senjata dan peluru lalu membelinya, tanpa si penjaga toko curiga dua anak remaja beli senjata api, itu karena di Amerika Serikat kepemilikan senjata memang hal yang lumrah dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sedangkan saya, waktu nonton Steve dan Nancy, ini dalam hati ngoceh sendiri, “Duh gais jangan terlalu keliatan ntar ketauan gimanaaa?” Wk.











