Di tulisan sebelum ini, saya ada menyebut kalau saya dibawa jalan-jalan oleh Tante Ita, tante saya dari pihak Mama. Tante jauh tapi dekat. Jauh, karena kami tidak ada hubungan darah. Bapaknya Tante Ita adalah anak angkat dari eyang buyut saya. Dekat, karena bapaknya Tante Ita amat sangat disayang sampai-sampai eyang buyut saya ini bisa marah besar kalau ada yang menyebutnya sebagai anak angkat. Maka jadilah kami ini keluarga erat. Eyang Tono, begitu saya memanggil bapak Tante Ita, di masanya menikah dengan perayaan sangat meriah dan menjadi pernikahan mewah pertama di kampung kami. Sejak kecil, anak-anak Eyang Tono sering main ke rumah nenek saya. Yang paling saya kenal baik ya Tante Ita ini, karena Mama dan dia selalu jadi rekan masak ketika ada acara keluarga; serta Binto, adik Tante Ita yang tidak saya panggil om karena usia kami hanya terpaut 2 tahun.
5 tahun lalu Tante Ita berangkat ke Amerika untuk bekerja. Kami cuma sempat komunikasi beberapa kali saja lewat WhatsApp. Sampai ketika saya mau berangkat ke Dallas, Papa saya memberi tahu kalo Tante Ita juga tinggal di Texas. Saya pikir, Texas itu luas, jadi saya nggak kepikiran kalau ternyata dia tinggal di Plano, 40 menit berkendara dari Arlington tempat saya tinggal.
Saat ini Tante Ita bekerja sebagai manajer toko cerutu bernama Dallas Discount Cigars. Ada satu hari di mana Tante Ita membawa saya ke tempat kerjanya yang terletak di Richardson tersebut. Dia bekerja, saya dibiarkan sesuka hati mau apa saja, dan bisa dibilang Dallas Discount Cigars menjadi tempat nongkrong paling nggak biasa yang pernah saya datangi.
Dallas Discount Cigars tidak hanya menjual cerutu. Memang, begitu kita masuk, kita akan langsung melihat rak, lemari, serta ruangan berisi mungkin ribuan cerutu dan ratusan kotak cerutu. Ruangan yang berisi cerutu disebut humidor, temperaturnya harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak merusak koleksi cerutu yang ada. Di sini, pelanggan bebas masuk dan melihat-lihat cerutu yang ingin dibeli. Harganya mulai dari $5.
Yang menarik, Dallas Discount Cigars juga menjual pengalaman dan kenyamanan. Kalo kita makin masuk ke dalam, ada ruangan yang diperuntukkan untuk pembeli mencoba dan mengisap cerutunya. Lalu, ada pintu yang khusus bisa diakses oleh anggota saja. Di ruangan inilah saya menghabiskan waktu seharian.
Disebut Cigar Private Lounge, anggota Dallas Discount Cigars saling berkumpul dan ngobrol di sana, sambil menikmati cerutu mereka tentu. Pertemanan mereka sangat kental dan bahkan puluhan tahun lamanya. Cigar Lounge diisi oleh sofa empuk dan juga recliner (itu lho, sofa nyaman La-Z-Boy yang kayak di serial TV FRIENDS), TV besar yang biasanya diputar untuk menonton pertandingan olahraga, serta tersedia juga beragam minuman soda hingga bir, serta makanan ringan seperti cheese balls, kacang Pistachios, kue kering pretzel isi selai kacang, dan kue-kue lainnya yang bikin saya bisa semudah itu makan 3.000 kalori dalam sehari!
Bos Tante Ita bernama Kale, dulunya seorang pimpinan panti wreda. Usianya sudah hampir 80 tahun. Beliau adalah orang yang sangat ramah. Obrolan saya dengannya mengalir begitu mudah. Di sela-sela percakapan, beliau senang memberi saya Dr. Pepper Cherry (minuman soda asli Texas) serta macam-macam coklat. Wah, coklatnya enak-enak semua! Kale juga memiliki wawasan yang luas; banyak cerita tentang Texas yang keluar dari mulutnya. Beliau bercerita tentang bisnis cerutu yang dijalani (misal, cerutu Kuba itu ilegal untuk dijual, atau cerutu terlaris di tokonya adalah Sumatra blend) dan dia menyebut Tante Ita sebagai pegawai terbaik yang pernah ia miliki.
Siang itu anggota Dallas Discount Cigars banyak yang datang. Kami menonton pertandingan Piala Dunia. Asap cerutu mengepul memenuhi ruangan, tapi entah kenapa saya bisa tahan dengan aromanya. Beda dengan asap rokok yang biasanya membuat saya sesak. Oh iya, di lounge tersebut juga ada satu dinding yang disebut House of Ash; diisi foto-foto anggota Dallas Discount Cigars yang telah meninggal dunia. Di hari itu juga ada kabar datang, salah satu anggota mereka terkena stroke dan saat ini sedang dirawat intensif.
Di tengah obrolan saya dengan Kale, datang anggota bernama Brent, seorang chief officer. Dia rupanya menonton pertandingan Belanda melawan Jepang, dan ketika tau saya suka bola, memberikan Fan ID yang dimilikinya untuk saya. Fan ID merupakan kartu fisik yang diberikan ke pemegang tiket pertandingan Piala Dunia. Fungsinya sebagai kenang-kenangan dan ada QR code yang bisa kita buka untuk mendapat pengalaman digital interaktif.
Hal menarik lain yang saya temukan dari Dallas Discount Cigars, adalah tulisan di dalam toilet. Intinya, boleh bawa senjata, boleh dipake kalo butuh, tapi pastikan nembaknya tepat sasaran. Haha. Ya, kepemilikan senjata adalah hal lumrah di Texas. Bahkan, untuk membeli peluru aja semudah berbelanja di supermarket. Tidak diletakkan di tempat khusus atau terkunci. Nanti, saya ceritain deh waktu saya mampir ke toko yang menjual senapan dan pistol.
Menghabiskan waktu seharian di Dallas Discount Cigars menjadi pengalaman unik tersendiri bagi saya. Di penghujung jam kerja Tante Ita, Kale berjanji akan mengajak saya ke tempat koboi tinggal! Tentu saja saya menerima dengan antusias ajakan tersebut. Rasanya belum ke Texas kalau belum melihat koboi. Iya kan?!











