Selamat Datang di Amerika Serikat!

Standard

Tumbuh dengan masa kecil dan remaja nonton Sesame Street, Home Alone, Barney, FRIENDS, Dawson’s Creek, Gilmore Girls, dan berbagai budaya Barat lain, tentu saya sering membayangkan berada di Amerika Serikat! Tahun 2018, sebenarnya saya pernah mencoba membuat visa Amerika untuk jadi relawan di Piala Dunia Rugby di San Francisco, namun sayangnya, ditolak! Saya mencoba sampai 2 kali. Lalu, ketika saya beruntung bisa terpilih jadi relawan Piala Dunia FIFA 2026 di Dallas, melewati seleksi lebih dari sejuta pendaftar, hati ini pun ketar-ketir. Bisa nggak ya dapat visanya? Karena berbeda dengan program relawan FIFA di Rusia dan Qatar, yang mana relawan mendapat fasilitas lebih seperti visa gratis, akomodasi gratis, dan transportasi dalam kota gratis; program relawan FIFA di Amerika Serikat mengharuskan relawan untuk mengurus semua sendiri layaknya turis. Berat? Iya. Tapi menjadi relawan FIFA adalah hal yang teramat sangat suka saya lakukan, jadi semua saya jalani dengan senang hati tanpa keluh kesah. Ya paling deg-deg-an karena takut ditolak aja.

Singkat cerita, saya melewati proses yang cukup penuh drama, mulai dari jaringan IndiHome dianggap nggak aman oleh website visa Amerika (saya kena blocked terus saat mendaftar, tapi kalau pakai jaringan lain bisa) sampai dikasih kertas kuning setelah wawancara di kedutaan (tandanya masih perlu pengecekan latar belakang lebih lanjut). Duh, saya masih ingat jelas, di hari pengambilan paspor, petugas tanpa berkata apa-apa cuma menyodorkan paspor, nggak ada kasih tau diterima atau ditolak. Sambil berjalan keluar gedung, saya membolak balik halaman, keringat dingin karena belum nemu juga itu visa di tiap lembaran yang saya buka. Sampai akhirnya di tengah halaman, saya melihat visa Amerika tertempel di paspor hijau saya!! Lega. Papa adalah orang pertama yang saya kabari.

Tapi eitss! Perjuangan nggak cuma sampai di situ. Saya masih membutuhkan sponsor untuk bisa berangkat; seperti yang saya bilang di atas, semua harus diurus sendiri. Tahun 2018 dan 2022 ketika menjadi relawan Piala Dunia FIFA, hal termahal yang perlu saya penuhi hanyalah tiket pesawat, yang alhamdulillah-nya dibelikan oleh Pak Prabowo dan Pak Erick Thohir. Untuk 2026, selain harga tiket yang hampir 2x lipat lebih tinggi dari Rusia dan Qatar, saya juga harus punya dana untuk menyewa tempat tinggal. Perjuangan mencari sponsor tidaklah mudah mengingat angka yang saya taruh di proposal besar sekali. Dari awal Maret hingga akhir Mei, belum berbuah manis terlepas dari 110 proposal yang sudah saya sebar. Saya hampir putus asa dan membayangkan tidak jadi berangkat.

Barulah di detik-detik akhir semua terpenuhi. Lewat bantuan keluarga dan teman yang sangat paham betapa pentingnya perjalanan jadi relawan FIFA ini untuk saya, saya berhasil punya tiket pulang-pergi dan menyewa tempat tinggal. Sudah, cukup 2 hal itu saja dulu yang paling utama. Makan, saya terbiasa puasa. Makan sehari sekali pun tak mengapa. Transportasi? Saya terbiasa juga jalan kaki. Dan ya… Senin, 8 Juni 2026 jam 6 sore waktu Dallas, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri Paman Sam… Saya sampai sempat menitikkan air mata saking nggak percaya-nya.

Proses imigrasi saya berjalan sangat mulus. Saya hanya ditanya tujuan dan berapa lama akan di Dallas. Setelah mengambil bagasi dan keluar bandara, saya celingukan. Petugas keamanan yang saya duga masih berusia anak kuliahan, menawarkan bantuan dengan gaya acuh tak acuh, sambil makan keripik, dan ngomongnya juga nggak jelas. Haha! Dia bilang, nggak ada kendaraan umum, saya harus naik taksi. Dia membantu saya mencarikan taksi dan berangkatlah saya menuju Arlington, area tempat tinggal saya berada. Sambil ngobrol dengan Gabriel, si supir taksi, saya menikmati pemandangan di luar. Jalan raya yang lebar, hamparan rumput yang luas, sangat memuaskan mata. Tapi, begitu saya tiba dan harus membayar taksi, rasanya saya mau nangis aja. Total perjalanan 30 menit itu memakan biaya $70! Yang kalau di-Rupiah-kan, lebih dari 1.2 juta!! Udah gitu, Gabriel bilang memang opsi kalo mau ke mana-mana ya cuma naik mobil sendiri, atau naik taksi, atau semacam GoCar seperti Uber dan Lyft! Jalan kaki sangat tidak direkomendasikan karena teriknya matahari musim panas. Wkwk panik gak tuh! Gimana saya berangkat kerja nanti?? Uang jajan $100 dari Maminya Jason, murid privat saya yang memang ibunya baik sekali, pun berpindah ke tangan Gabriel; uang yang tadinya untuk beli bahan makanan, cuma tersisa $25, karena $5-nya saya kasih sebagai tip. Haha!

Turun dari taksi, kepanikan saya mereda dan berganti dengan perasaan girang yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lingkungan tempat tinggal saya, White Way Drive Road, terasa seperti perumahan di film-film keluarga yang saya tonton! Rumah-rumah beratap pendek namun luas, ranch-styled house seperti di film koboi jaman dulu! Kamar tidur saya ada klosetnya. Itu lho, semacam ruangan kecil isi pakaian yang kalau di film horor atau action, suka jadi tempat persembunyian ketika hantu atau orang jahat masuk ke rumah. Dapurnya bener-bener kayak dapur di film-film juga! Ada mesin cuci dan mesin pengering sendiri (asli kering dan hangat kayak habis dijemur!). Wah, pokoknya saya norak banget deh! I really need to calm down!

Beli telur dan telurnya warna putih aja, saya girang. Air bisa langsung diminum dari keran, saya girang. Ngeliat bus sekolah warna kuning, saya girang. Bahkan sekedar buang sampah ke luar (mereka ada hari khusus untuk buang sampah di Arlington, hari Rabu, dan tempat sampah semua berjejer di pinggir jalan), saya girang! Saya pesan sesuatu dari supermarket dengan online delivery, yang nganter cuek banget pake celana dan singlet ketat sampe perut dan pantatnya ke mana-mana, saya girang. Meskipun, toilet yang nggak ada semprotannya lumayan merepotkan dan saya harus pake botol minum untuk bersih-bersih setelah buang air kecil, dan menggunakan shower setelah buang air besar, I still love living the American life!

Well, welcome to the United States of America, Mita Yulian Sasmita!

Leave a comment