New York New York (1)

Standard

Kebangetan emang. Di hari ke-11 sejak saya tiba kembali di tanah air, saya baru mulai melanjutkan lagi tulisan tentang perjalanan saya di Amerika Serikat! Jetlag yang saya rasakan terasa lebih parah. Saya akan mengantuk sekali di siang hari, beberapa kali bahkan bablas tidur sampai tengah malam; lalu segar dari malam hingga pagi hari dan itu saya pakai untuk berjibaku dengan tesis S2 yang harus segera saya selesaikan. Menulis blog pun jadi tidak sempat. Alhamdulillah-nya, kemarin siang saya sudah daftar sidang tesis, sehingga sekarang saya bisa sedikit lowong untuk bercerita tentang pengalaman saya di New York, tepatnya New York City.

Baiklah. Secara resmi, tugas saya di Piala Dunia 2026 berakhir ketika Dallas Stadium menjadi tempat perhelatan semifinal antara Prancis melawan Spanyol. Dua hari setelahnya, saya berangkat ke New York City, mendarat di bandara La Guardia, dijemput oleh sepupu saya, Christina. Ya, New York menjadi tujuan setelah Dallas dan sebelum pulang ke tanah air karena banyak keluarga Papa tinggal di sana. Sebagian di New York City, sebagian di Niagara Falls. Mereka hijrah ke Negeri Paman Sam di tahun 80-90an, dan kini sudah berstatus warga negara Amerika. Tentu ini adalah perasaan girang yang berbeda dengan ketika saya berangkat ke Dallas. Saya akan bertemu dengan saudara-saudara yang sudah lama tidak saya jumpai, sekaligus melihat kota yang selama ini hanya saya lihat lewat serial TV atau film!

Begitu sampai, karena hari sudah malam, Christina langsung mengajak saya ke apartemennya di area Flushing. Di perjalanan, kami mampir sejenak untuk takeaway makanan Korea. Selesai makan, saya mandi, mengeluarkan beberapa pakaian yang saya butuhkan, dan langsung tidur karena esok saya akan seharian jalan-jalan!

Apartemen Christina jaraknya hanya 2 menit jalan kaki ke Stasiun Broadway. Dari situ kami naik kereta, lalu lanjut naik subway. Pagi itu saya beruntung karena subway yang saya naiki tidak bau pesing. Haha. Karena katanya, subway di New York City tuh kotor dan harus jaga-jaga pake masker untuk menghalang aroma tak sedap.

Kami turun di Stasiun Wall Street dan saya pun langsung terkagum-kagum melihat gedung-gedung pencakar langit yang langsung menyambut begitu saya keluar stasiun. Rasanya benar-benar seperti di film Spiderman! Christina lalu berangkat ke kantor, sedangkan saya sarapan dulu di kafe bernama Joe & The Juice. Kebetulan, saya juga ada janji wawancara dengan salah satu program di Metro TV terkait kegiatan relawan FIFA, jadi saya butuh tempat yang kondusif. Segelas Americano dingin dan blueberry muffin menemani.

Usai wawancara, karena sudah masuk jam makan siang, saya menunggu Christina datang untuk makan siang bareng. Ada toko pizza di sebelah kafe. Saya makan sebanyak-banyaknya karena saya butuh energi yang besar untuk menjelajah kota dengan berjalan kaki. Sekitar 30 menit kami makan sambil ngobrol; Christina kembali bekerja, saya pun memulai petualangan.

Tempat pertama yang saya datangi adalah The Charging Bull. Rame banget antrian di sini; bukan cuma untuk foto-foto dengan bagian depan si patung banteng, tapi juga antri untuk memegang testisnya. AHAHA. Jujur gak ekspek. Seakan-akan testis si banteng tuh bawa keberuntungan makanya orang rela antri. The Charging Bull itu sendiri melambangkan optimisme finansial, kemakmuran, dan ketangguhan ekonomi Amerika setelah jatuhnya pasar saham pada tahun 1987. Sosok banteng yang kuat dan agresif menggambarkan semangat untuk bangkit kembali serta keyakinan bahwa perekonomian akan terus tumbuh dan maju.

Lanjut, saya mendatangi patung The Fearless Girl yang menghadap gedung New York Stock Exchange. Konon, patung anak kecil perempuan ini menjadi simbol keberagaman gender di dunia kerja dan menggambarkan pentingnya memberikan lebih banyak ruang dan kesempatan bagi perempuan. Posisinya, dia berdiri dengan kedua tangan di pinggang dan dagu terangkat, menunjukkan keberanian dan kekuatan.

Trinity Church menjadi persinggahan saya berikutnya. Dikelilingi pepohonan hijau, berada di sini terasa sangat adem dan kontras dengan cuaca hari itu yang panas cerah. Saya melihat ada banyak makam di halaman gereja dan patung seseorang bernama John Watts. Oh iya, katanya sih George Washington dulunya sering hadir ke gereja ini.

9/11 Memorial adalah titik kunjungan selanjutnya. Dua lahan yang tadinya tempat Twin Tower berdiri sebelum tragedi terorisme 9 September 2001, diubah menjadi dua kolam raksasa yang sekelilingnya tergrafir nama-nama para korban. Melihat air di kolam yang mengalir ke bawah, laksana sumur gelap tak berujung, cukup membuat saya tersirap.

Tidak jauh dari situ, ada Oculus Transportation Hub, gedung dengan bentuk seperti sayap yang merupakan hub untuk banyak jalur subway dan juga toko-toko. Kebetulan, hari itu ada pameran Concacaf. Saya mampir untuk melihat display piala, sepatu bola, hingga bermain bola dan menikmati es krim gratis.

Puas di Oculus, saya berjalan ke Battery Park City, taman di pinggiran Sungai Hudson yang sayangnya, sedang direnovasi sehingga saya cuma bisa duduk-duduk aja sambil melihat New Jersey di seberang sana. Kalo tidak ada renovasi, saya bisa tuh jalan-jalan di sepanjang sungai.

Sore hari, ketika Christina selesai kerja, dia menemani saya melanjutkan perjalanan keliling kota. Ini nih yang paling gong! Saya mampir ke Bedford Street, tempat apartemen serial TV FRIENDS berada!! Ya memang sih, syutingnya nggak di sini, tapi ini adalah lokasi yang selalu dijadikan tayangan apartemen Monica. Dulu waktu kecil, kalo nonton FRIENDS saya suka berangan-angan tinggal di apartemen di New York City, bekerja di sana, dan punya teman-teman seperti Joey, Chandler, Ross, Monica, Rachel, dan Phoebe!

Saya juga sempat mendatangi Madison Square Garden! Dulu Justin Bieber konser di sini dan tiketnya sold out dalam waktu 30 menit!

Sesungguhnya, saya itu bingung menyampaikan perasaan saya saat jalan-jalan di New York City. Gimana ya? Terserah deh mau dibilang lebay, tapi kota ini rasanya sudah begitu dekat dengan diri saya sejak kecil. Mungkin karena memang saya banyak nonton tayangan anak-anak, serial TV, dan juga film Amerika. Makanya begitu berada di sini, semuanya terasa begitu familiar tapi juga asing. Rasanya, kalo bisa, saya pengen mata saya ini jadi alat perekam saja. Jadi apapun yang saya lihat, terekam otomatis semua; karena rasanya, saya tidak mau memilih mana yang patut disimpan. Saya pengen semuanya! New York City, indah dengan caranya sendiri. Bukan indah karena alam, bukan indah karena bersih… It’s just the whole city. The buildings, the people, the stories, the rush… The city itself is its own attraction.

Leave a comment