Kok Mau Sih Nggak Dibayar Jadi Relawan FIFA?

Standard

Di tulisan saya tentang cara jadi relawan FIFA, saya udah bilang nggak mau panjang lebar menjelaskan kenapa kok saya mau-mau aja keluar uang dari kocek sendiri untuk jadi relawan FIFA. Intinya, tiap orang memang pasti punya cara masing-masing untuk menilai sesuatu. Tapi geregetan juga sih ya, karena ada komen-komen yang mencibir. Dibilang, “Kalo nggak punya duit cuma mimpi.” Nggak, nggak, kalo emang kita niat pasti akan cari segala cara. Saya di Rusia dan Qatar mendapat sponsor untuk tiket pesawat, di Amerika mendapat bantuan dari teman dan keluarga dan bahkan orang-orang yang baru saya temui. Dibilang, “FIFA udah dapat keuntungan besar kok mau aja tenaga dan waktu dipake tanpa bayaran?” Well, saya mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mendapat timbal balik pengalaman yang luar biasa sebagai relawan internasional, untuk meningkatkan kualitas diri saya sendiri.

Sekarang bayangin, untuk bisa masuk ke universitas impian, kita rela belajar supaya bisa lolos seleksi. Setelah diterima, kita juga rela bayar uang semester untuk bisa mengenyam pendidikan di sana, beserta uang-uang lain yang akan mendukung kegiatan pembelajaran kita. Tujuannya? Kita tau bahwa ilmu dan pengalaman yang didapat akan membantu kita mendapat karir yang lebih baik, atau membentuk kita jadi orang yang nantinya siap bersaing.

Menurut saya, jadi relawan FIFA kurang lebih seperti itu. Jadi relawan FIFA kita bersaing untuk bisa terpilih dari sekian banyak pendaftar dari seluruh dunia. Rusia ada lebih dari 150.000. Qatar lebih dari 500.000. Amerika Serikat – Kanada – Meksiko lebih dari sejuta; dan relawan internasional yang terpilih hanya beberapa ribu saja. Ditambah lagi, Piala Dunia FIFA adalah perhelatan olahraga terbesar sedunia. Cukup menjadi prestasi kan? Uang yang kita keluarkan untuk pesawat, tempat tinggal, transport dalam kota, dan makan, anggap saja uang kuliah dan biaya kos. Haha.

Tapi, emang kalo jadi relawan FIFA, sertifikatnya bisa bikin kita dapat kerjaan bagus? Lagian uang sebanyak itu, mending juga buat liburan.

Sertifikatnya ya nggak langsung kasih kita karir bagus dong. Emang, ada ijazah kuliah yang menjamin itu? Ehe. Plus, menjadi relawan FIFA bukan soal mencari keuntungan finansial, melainkan investasi pada pengalaman, karakter, dan jaringan yang nilainya jauh melampaui biaya yang kita keluarkan. Selama ini sih, kalo saya itung, misal uang tersebut saya pakai untuk liburan, paling cuma bisa untuk kenang-kenangan berkunjung ke suatu tempat saja. Saya nggak dapat kesempatan bekerja di balik layar ajang olahraga terbesar di dunia, belajar dalam lingkungan internasional, membangun jejaring dengan orang-orang dari berbagai negara, melatih kemampuan beradaptasi, komunikasi, problem solving di situasi nyata, hingga menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan bisa datang dari orang-orang yang bahkan baru kita kenal beberapa menit. Itu semua tidak bisa dibeli.

Ah, tapi itu mah nggak perlu jauh-jauh. Dari kehidupan sehari-hari juga bisa.

Betul! Nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab bisa kita pelajari dari kehidupan sehari-hari. Namun, menjadi relawan di ajang seperti Piala Dunia memberi ruang untuk menguji nilai-nilai itu di skala yang jauh lebih besar, bersama orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan budaya, di bawah tekanan sebuah acara yang ditonton miliaran orang. Ini agak sulit kayaknya kalo didapatkan dari kehidupan sehari-hari.

Tetap aja, setidaknya dihargai lah orang yang sudah membantu. Relawan di Indonesia aja dibayar.

Di Indonesia, saya sering melihat posisi yang disebut relawan memiliki tugas, jam kerja, dan tanggung jawab yang sebenarnya mirip staf operasional berbayar. Yang saya apresiasi dari FIFA Volunteer Program adalah kejelasan sejak di awal. Bahwa tugas kita adalah sebagai pendukung (nggak boleh tuh diminta kerja angkut-angkut barang berat misalnya) dan sebagai gantinya mereka menawarkan pengalaman, pelatihan, seragam, makan di jam tugas, dan kesempatan menjadi bagian dari ajang olahraga besar.

Sukarelawan. Saya suka, jadi saya rela. Rela keluar waktu, tenaga, dan bahkan uang. Di situ saya mendapat kebahagiaan. Jadi relawan FIFA membuka perspektif baru, memperkaya cerita hidup, dan menjadi nilai tambah dalam karir maupun kehidupan pribadi. Saya diajarkan bahwa dunia jauh lebih ramah daripada yang sering kita bayangkan. Ini adalah tentang pelajaran, hubungan, dan kenangan yang akan terus tinggal bersama saya.

Dan kini, Piala Dunia FIFA 2026 berakhir sudah. Semoga saya masih akan terus menjadi relawan FIFA di Piala Dunia selanjutnya, seterusnya. Sampai saya tua, kulit saya keriput, dan rambut saya memutih. Ya, tidak ada batasan usia untuk berkontribusi sebagai relawan FIFA. Satu hal lain yang membuat saya begitu menyukai FIFA Volunteer Program. Semua orang dengan beragam kondisinya, bisa berdaya.

Leave a comment