Agak kagets juga ya saya. Ada foto di Instagram yang likes-nya mencapai 22 ribu lebih. Kalah foto saya sama David Beckham. Kalah juga foto saya sama pelatih Bahrain yang isinya penuh hujatan sampe saya tutup kolom komentar. Haha. Bersyukur, karena masih bisa menjadi inspirasi di usia tua begini, bukan siapa-siapa juga saya kan. Kali ini saya mau sedikit bercerita tentang keseharian saya menjadi seorang relawan FIFA. Meski tiap area fungsi berbeda, kurang lebih secara garis besar sama.
Jam tugas relawan FIFA rata-rata berkisar 5 jam ditambah 1 jam untuk istirahat. Ada yang bertugas sebelum pertandingan, ada juga yang bertugas saat pertandingan. Ada yang bekerja di stadion, ada juga yang bekerja di luar stadion seperti hotel, bandara, atau FIFA Fan Festival tempat para fans nonton pertandingan.
Waktu di Rusia dan Qatar, saya mendapat area fungsi Ticketing. Tugas saya adalah membantu penonton terkait kendala tiket. Misal, ketika tiket tidak dapat dipindai, tiket tidak muncul di aplikasi, sampai mencari tiket yang hilang. Selain itu, saya juga membantu mencari akses termudah untuk penonton yang sudah lanjut usia atau memiliki disabilitas.
Di Amerika, tugas saya berganti menjadi Broadcast Services. Saya bertugas di Stadium Media Center, membantu menjawab pertanyaan dari jurnalis dan fotografer; menjaga Presentation Platform bersama petugas keamanan, karena di sini tempatnya legenda sepakbola dan orang terkenal siaran; serta Media Tribune tempatnya media menonton jalannya pertandingan, memastikan mereka duduk di kursi yang tepat. Saya juga sempat ada di Mixed Zone, tempat pemain diwawancara.
Di kedua area fungsi tersebut, saya bertugas di stadion. Itu pun tidak selalu di dalam stadionnya ya. Menurut saya, FIFA Volunteer Program tidak menjadikan suka bola sebagai kriteria relawan, khawatir niatnya hanya untuk nonton bola, dan akhirnya malah mangkir tugas karena tidak ditempatkan sesuai harapan. Intinya kita harus punya jiwa menolong tinggi dan memang niatnya adalah jadi bagian dalam menyukseskan acara. Oiya, relawan diminta berada di lokasi kerja antara 2-4 jam sebelum pertandingan, dan 1-2 jam setelah pertandingan. Pada saat bertugas, kita biasanya mendapat suvenir yang khusus dibuat untuk relawan, dan sudah pasti mendapat makan.
Alurnya kurang lebih seperti ini: Tiba di lokasi tugas, check-in di Volunteer Center, menunggu sampai ada instruksi menuju area tugas masing-masing, menjalankan tugas, istirahat (bisa di tengah tugas atau setelahnya, tergantung kondisi), lalu selesai deh. FIFA Volunteer Program sangat adil dalam memberikan relawannya tugas. Kita ada sebagai pendukung pekerjaan staf berbayar, jadi tugas kita ringan. Tapi, ini adalah pengalaman yang membawa banyak sekali manfaat dan keuntungan. Keahlian kita dalam komunikasi dan problem solving sangat diasah, karena kita akan berhadapan dengan orang dari beragam negara. Koneksi dengan orang-orang yang kita temui, tinggal seperti warga lokal di negara tuan rumah, akan memberikan kita perspektif hidup yang berbeda. Kita jadi terus belajar dan bertumbuh.
Hari ini usia saya 41 tahun. Bagi saya, menjadi relawan FIFA adalah cara saya sesekali keluar dari rutinitas yang sudah terlalu mudah saya jalani, cara saya kembali belajar hal-hal baru di saat pekerjaan saya terlalu mudah diprediksi, dan ada rasa bangga karena bisa berkontribusi di olahraga yang sangat saya minati. Bagi kalian yang masih muda, lebih-lebih, saya yakin ini adalah kesempatan besar untuk membangun keahlian dan kemandirian.
Sampai jumpa di Piala Dunia 2030 ya! In syaa Allah.





