Liburan di Seattle

Standard

Belasan tahun lalu saya kerja di Wall Street English Jakarta. Berteman dengan seorang guru nativ Amerika bernama Rafika. Nggak lama, Rafika naik jabatan jadi bos saya, dan meski beberapa bulan setelahnya dia balik ke Amerika, kami tetap berteman baik. Selama bertahun-tahun, dia menjadi orang yang selalu bawain saya hal-hal berbau Justin Bieber, mulai dari permen kesukaannya, sampai boneka Barbie Justin Bieber. Kebetulan Rafika nikah dengan orang Jakarta, jadi dia rutin juga ke Indonesia mengunjungi keluarga suami, dan oleh-oleh Justin Bieber pasti selalu dia bawakan. Atas desakan saya tentu.

Tadinya, saya berencana memilih Seattle sebagai kota untuk bertugas jadi relawan FIFA. Rafika bilang saya boleh tinggal di rumahnya. Rencana itu berubah karena saya melihat Dallas punya pertandingan paling banyak. Rafika sempet bete tuh. Haha. Karena kebetulan dia juga diterima jadi relawan FIFA dan katanya dia mau daftar cuma supaya bisa kerja bareng saya lagi.

Siapa sangka, begitu betenya selesai, dia malah ngundang saya ke Seattle, dibayarin pula. Saya yang datang ke Amerika dengan modal tiket pesawat dan Airbnb doang, mana pernah terpikir untuk bisa jalan-jalan jauh? Tentu nggak saya sia-siakan tawaran itu! Setelah cek agenda, Rafika memilih hari-hari ketika di Dallas ada jeda waktu sebelum semifinal. Total 6 hari, penerbangan ke Seattle di Senin pagi buta, 6 Juli 2026; lalu pulang ke Dallas Sabtu tengah malam, 12 Juli 2026.

Seattle itu cantik banget! Sebelum mendarat, saya sempat melihat gunung es! Dan saat berkendara, deretan pepohonan menjadi pemandangan di sepanjang jalan, dengan langit biru sebagai latarnya. Yang paling nggak saya sangka, udaranya sejuk! Beda dengan Texas yang panas banget bahkan bisa sampe bikin sakit kepala. Oiya, nama pohon yang banyak tumbuh di Seattle namanya Evergreen, alias pohon Cemara. Pohon yang bahkan nggak rontok di musim gugur. Nggak heran kalau Seattle dijuluki Emerald City, karena memang dikelilingi pepohonan yang lebat dan subur sepanjang tahun.

Liburan saya di rumah Rafika sangat menyenangkan. Pagi hari saat Rafika dan suaminya kerja, saya menjaga anak-anak mereka: Affan dan Alia. Ada juga Ariz dan Ayman tapi mereka biasanya dititipkan ke daycare. Affan dan Alia harus pergi ke klub musim panas untuk tenis dan renang. Jaraknya 20 menit jalan kaki dari rumah, saya antar pulang pergi. Rafika biasanya juga meninggalkan pesan berisi apa-apa saja yang anak-anak harus lakukan, mulai dari cuci piring, cuci pakaian, metik buah raspberry, beresin kamar, sampai mempersiapkan keperluan kegiatan olahraga mereka. Saya cuma perlu ingetin dan memantau, karena Affan dan Alia udah mandiri dan bisa lakuin itu semua.

Baru deh, di sore hari, saat Ariz dan Ayman sudah kembali dari daycare dan Rafika juga udah pulang kerja, kami pergi ke luar rumah untuk jalan-jalan keliling Seattle dan makan enak! Kadang saya suka kaget kalo lihat harga di buku menu, secara otomatis pasti menghitung berapa Rupiah nilainya. Haha. Saya bilang, saya makan nasi sama Indomie telor aja. Tapi Rafika selalu mau traktir! “Mumpung lo di Seattle,” katanya. Ya udah, Rafika kaya. Wk. Saya aja dibeliin buah Rainier cherries, ceri warna oranye yang ternyata masuk kategori ceri mahal dan premium.

Di hari pertama, karena Rafika, Althaf suaminya, dan Affan nonton pertandingan di stadion, saya menghabiskan waktu sampai malam main dengan Alia, Ariz, dan Ayman. Mereka punya banyak banget kartu Pokemon dan dengan sabar ngajarin saya cara bertarung dengan kartu-kartu tersebut. Baru deh di hari kedua saya dibawa ke tempat Alia latihan sepakbola, lanjut ke Alki Beach, makan es krim dan fish n chips di pinggir pantai, jalan menyusuri pantai sambil ngemil elotes (jagung bakar ala Meksiko), lalu lanjut ke Downtown Seattle melihat gemerlapnya kota di malam hari.

Hari ketiga, Rafika mengajak saya menikmati makanan yang masih belum saya coba di Amerika. Seperti jajanan di Trader’s Joe (toko kelontong populer karena punya produk dengan label sendiri dan harganya terjangkau), burger Arby’s yang di tahun 90an cuma bisa saya nikmati gambarnya di majalah, sampai buah zaitun yang sering saya lihat dinikmati oleh karakter di serial TV atau film. Saya nggak suka zaitun ternyata. Rasanya asin pahit aneh. Saya mencoba kerang yang di-oven hari itu. Lezat!

Keesokannya, petualangan berlanjut ke Seattle Waterfront, kawasan rekreasi luas banget tapi sangat mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. Letaknya di teluk, banyak deretan dermaga. Kami naik Seattle Great Wheel. Melihat Seattle dari ketinggian, gedung perkantoran, laut, jembatan, stadion Piala Dunia Lumen Field, dan gunung es di kejauhan, duhhh saya jatuh cinta dengan kota ini.

Saya juga sempat ke Starbucks pertama di dunia, mampir ke The Gum Wall (ini gokil sih, “seni” yang nggak sengaja terbentuk dari permen karet yang ditempel sama orang-orang yang di tahun 90an dulu ngantri buat masuk nonton pertunjukan, lama-lama makin banyak dan menutupi penuh satu tembok, aroma permen karetnya bahkan masih tercium), dan gong-nya… Rafika mentraktir saya makan di restoran mewah menikmati seafood khas Seattle!

Udangnya padat, renyah, manis. Kepitingnya lembut dan juicy. King Salmon-nya pun beda banget dengan rasa salmon yang biasa saya beli di Indonesia. Buttery dan teksturnya meleleh di mulut. Dan untuk pertama kali, saya makan tiram mentah. Dihidangkan segar di atas es, cara makannya adalah dengan dikasih sedikit lemon dan saus khusus, langsung di-lep tiramnya dari cangkang.

Sisa dua hari, kami habiskan dengan datang ke pertandingan bisbol Affan, makan di Korean Barbecue, minum milkshake tradisional di toko Dick’s (enak bangettt!), melewati Capitol Hill yang nuansanya kental dengan dunia malam, beli croissant di tokonya bakedbynech (cek Instagram atau TikTok, dia mungkin pernah masuk FYP kalian), mengunjungi rumah orangtua Rafika untuk makan siang, dan datang ke summer street fair yang merupakan acara tahunan di musim panas: hanya tiga hari saja dari Jumat sampai Minggu, diisi dengan beragam makanan, pertunjukan, tenda usaha kecil, sampai kegiatan seperti mandi busa!

Sabtu malam, dengan perasaan berat hati, saya berpamitan dengan Rafika dan keluarga. Liburan saya usai, saya harus kembali ke Dallas untuk melanjutan tugas sebagai relawan FIFA. Terharu banget dengan kebaikan Rafika selama saya di Seattle. Semoga suatu saat saya bisa mengembalikan kebaikannya. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke Seattle. Oiya, kalian penasaran nggak kenapa kok namanya Rafika? Kenapa namanya nggak bule padahal dia orang Amerika? Soalnya bokap Rafika itu orang Indonesia, keturunan India dan Jambi. Yang orang Amerika ibunya.

Leave a comment