Kisah Legenda Kuliner Nusantara: Festival Jajanan Bango Depok 2011

Standard

Tok! Tok!

Jumat malam kemarin jendela kamar saya ada yang mengetuk. Rupanya adik saya datang.

“Dut! Besok mau ke Festival Jajanan Bango nggak?” ajaknya.

Woww!!! Nggak nyangka bisa kedatengan pusat Kisah Legenda Kuliner Nusantara di Depok. Dengan senang hati saya menerima ajakan dia karena kebetulan saya dapat jatah libur Sabtu ini. Adik saya bilang dia kemungkinan akan pergi dengan seseorang, jadi saya disuruh pergi bareng sepupu-sepupu yang lain. Nggak masalah, yang penting saya punya teman jalan untuk menikmati kuliner Nusantara yang beragam. Sekilas saya sempat melihat brosur Festival Jajanan Bango yang dibawa adik saya. Tertulis acara akan dimulai pukul sebelas siang sampai selesai, di Lapangan Merpati Depok 1. Harga jajanan serba Rp. 12,000 dan akan mendapat Kecap Bango ukuran 85 ml. Asik!! Murah meriah dan saya akan bisa menikmati beragam masakan di Festival Jajanan Bango yang udah lama terkenal sebagai tempatnya Kisah Legenda Kuliner Nusantara.

Siang ini saya janjian dengan sepupu saya untuk pergi ke Festival Jajanan Bango. Setelah menunggu hampir 2 jam, sepupu saya belum siap juga. Bahkan, ketika dia akhirnya menyuruh saya ke rumahnya untuk berangkat bareng, dia tetap belum siap. Wah! Kesal sekali rasanya. Sengaja saya nggak makan siang supaya bisa makan macam-macam legenda kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango. Akhirnya saya pergi dengan adik saya. Seseorang yang katanya akan pergi bareng dia ternyata tinggal dekat Lapangan Merpati, jadi kami pun pergi bertiga.

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraMemasuki gerbang Festival Jajanan Bango, saya melihat beragam stand kuliner Nusantara berdiri di segala penjuru lapangan. Tapi, pemandangan pertama yang terlihat adalah Kampung Bango. Saya kurang tertarik mampir karena sudah tergiur duluan oleh banyaknya stand kuliner Nusantara yang pastinya punya kisah legenda masing-masing. Adik saya kebetulan kerja di BRI dan baru saja menabung sejumlah uang yang slip-nya bisa ditukar dengan 5 voucher untuk menikmati Kisah Legenda Kuliner Nusantara, jadi kami pun mampir menukar voucher terlebih dahulu. Selain itu, saya juga menambahkan 3 voucher makan. Dari tiap voucher yang ada, kami dikasih bonus 1 kantong Kecap Bango ukuran 85 ml. Mama saya pasti senang nih punya persediaan Kecap Bango. Beliau memang hobi masak menu dari Kisah Legenda Kuliner Nusantara, dan kecapnya harus Kecap Bango.

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraHmmm… Kisah Legenda Kuliner Nusantara apa ya yang harus saya cicipi pertama kali? Pastinya harus yang beda. Yang jarang ada. Pilihan saya jatuh pada Sate Kuda. Antriannya panjang dan baru sejam kemudian saya berhasil mendapatkan satenya. Selama saya antri, adik saya –Budhy– dan teman spesialnya –Arum– asik menikmati kuliner Nusantara bernama Sup Iga Bakar. Rasa Sate Kuda enak, walaupun dagingnya sedikit keras. Bumbunya agak pedas tapi justru menambah nikmat rasanya. Setelah itu, saya mampir ke kios Bakso Bakar. Hmmm… Saya agak merasa rugi karena cuma mendapat satu tusuk berisi 4 Bakso Bakar. Tapi, rasanya memuaskan!

Kisah-Legenda-Kuliner-Nusantara

Kisah-Legenda-Kuliner-Nusantara

Kisah Legenda Kuliner Nusantara pun berlanjut sampai sore. Arum tertarik menikmati Tahu Petis. Saya kurang suka. Rasa tahunya hambar dan petisnya berwarna hitam seperti warna oli. Tapi buat Arum, dia suka banget sama jajanan satu ini. Hahaha… Yah, tiap orang memang punya lidah yang berbeda dalam menilai kuliner. Berhubung yang saya makan dari awal hanya kuliner dengan porsi kecil, itu pun berbagi dengan Budhy, akhirnya kuliner Nusantara berikutnya yang saya santap adalah Lontong Sayur Spesial Kari Ayam. Satu piring penuh berisi lontong, tahu, telur rebus, suwiran ayam, bawang goreng dan kuah kari ayam cukup membuat saya kekenyangan. Tapi masih ada 2 voucher yang tersisa. Karena haus, saya pun beli Es Pocong dan Es Voodoo Sunshine. Ahhhh! Segarnya! Saya suka Es Voodoo Sunshine, rasa jeruk bercampur soda. Rasanya jadi tambah bersemangat menikmati Kisah Legenda Kuliner Nusantara yang lain!

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraNgomong-ngomong, saya juga sempat berfoto di depan papan besar bertuliskan “Resep Dapur Bango Legenda Kuliner Nusantara“. Mmmm… Anak-anak yang ada yang di dekat saya itu bukan anak saya ya! Mereka pastinya penikmat Kisah Legenda Kuliner Nusantara juga yang datang bersama orangtuanya.

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraHari makin gelap dan beberapa kios Kisah Legenda Kuliner Nusantara sudah ada yang tutup, seperti Sate Jamur dan Kerak Telor. Saya menukar voucher terakhir dengan Mie Jawara alias Mie Hijau yang terbuat dari sawi. Perut saya benar-benar sudah penuh dengan kuliner Nusantara. Akhirnya Budhy-lah yang menghabisi Mie Hijau sampai tuntas.

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraKami memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan kami di Festival Jajanan Bango si pusat Kisah Legenda Kuliner Nusantara. Tapi sebelumnya kami mampir dulu ke gubuk Kampung Bango yang saya lihat di awal kedatangan. Di situ kami menemukan fakta mengenai salah satu Kisah Legenda Kuliner Nusantara.

Kalian pasti tau Semur kan? Kuliner yang bercita rasa rempah-rempah ini ternyata sudah dikenal sejak jaman dahulu lho! Semur merupakan kuliner Nusantara asli yang pengembangan rasanya dipengaruhi campur tangan masyarakat Belanda dan Indonesia. Dalam Bahasa Belanda kuliner Nusantara ini disebut “Smoor” yang artinya kuliner ini telah direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan.

Semur ini wajib masuk ke dalam Kisah Legenda Kuliner Nusantara karena telah dikenal turun-temurun sejak tahun 1600-an dan tiap daerah di Nusantara punya cara sendiri dalam menyajikannya. Jadi jangan pernah berhenti mengolah Semur, ya! Karena Semur adalah Kisah Legenda Kuliner Nusantara Indonesia dan jangan sampai resepnya diakui oleh negara lain. Resep Semur harus tetap jadi warisan legenda kuliner Indonesia.

Kisah-Legenda-Kuliner-NusantaraSenangnya saya hari ini banyak mendapat pengalaman kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2011. Terima kasih telah membuat event di Depok dan tetaplah menjadi pusat Kisah Legenda Kuliner Nusantara!

Kisah-Legenda-Kuliner-Nusantara

Advertisements

18 thoughts on “Kisah Legenda Kuliner Nusantara: Festival Jajanan Bango Depok 2011

  1. Yandi Egan

    OMG, jam brapa kesana Bu? gw ksana jam 11an, macet gila, panas and rame abis
    malas, akhir kata cuma makan 1 macam doang. sate kelinci …
    wah coba bareng, it’ll be nice…i’m alone @_@

  2. Amelia Deasy

    hhhmm…thanks yah, klo kamu mang senang dengan rasa sate kuda yang dah kami berikan……kami tunggu loch kedatangannya di warung kami, btw skedar informasi nti mlai tgl 5-17 agustus kita akan mengadakan festival lagi di La piazza klapa gadin….ditunggu kedatangannya….. 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s