Dombrut: Kurban Pertama

Standard

Hari Raya Idul Adha kemarin merupakan kali pertama saya berkurban. Awalnya saya sempat kepikiran untuk ikut program Tebar Hewan Kurban yang ditawarkan Dompet Dhuafa; lebih mudah, tinggal transfer dan nantinya akan dikirimi dokumentasi pemotongan. Tapi suami saya berkata, “Ini kan kamu pertama kali, Beb. Emangnya nggak mau nganterin kambing dari rumah ke mesjid?”

Saya pikir lagi, wah seru juga kayaknya! Singkat cerita sehari menjelang Idul Adha saya pun pergi mencari kambing. Diantar oleh Papa, beliau mengajak saya ke tempat penjualan hewan kurban dekat rumah. Di sana, saya berubah pikiran. Kambing tak jadi saya beli, malah domba hitam berambut putih yang saya bayar. Saya beri dia nama: Dombrut.

Tepat di hari Idul Adha, Pak Aang si penjual datang ke rumah mengantarkan si Dombrut. Baru saya tau, kalau tidak ada kawanannya domba lebih susah digiring daripada kambing. Pak Aang sampai sempat menggendong domba saya ke halaman rumah. Saya sempat kesal sama Papa, karena ketika si Dombrut nggak mau jalan, sama Papa saya diseret paksa. Kejam!! Kan kasian lehernya sakit ditarik gitu! Parahnya lagi si Dombrut sampai terguling. Sedih saya!

Pak Aang pulang, Dombrut istirahat sejenak. Kembali saya dapat pengetahuan baru. Suara mengembik domba rupanya lebih nge-bass daripada suara kambing. Hahahaha…

Ketika Papa dan suami saya menggiring si Dombrut ke mesjid, untungnya dia nggak terlalu mogok jalan. Perjalanan cukup lancar meskipun Dombrut sempat takut mendengar suara mobil dan motor, dan harus sedikit susah payah diiming-imingi rumput. Sesampainya di mesjid, sudah banyak kambing, domba dan sapi yang akan dikurbankan. Total ada 12 kambing/domba dan 3 sapi. Ada satu kambing besar yang sepertinya stress! Masa ya dia horny, penisnya kencang dan dia mau kawin sama kambing di sebelah yang tampangnya memelas. Mereka kan sama-sama jantan! Coba deh! Yang bikin emosi, ada kambing tanduk super menyeruduk kepala dan badan domba saya! Apa-apaan!!

Dombrut dapat giliran dipotong pertama lho! Oleh beberapa orang dan Pak Ustadz, Dombrut digiring ke tempat penyembelihan. Saya, suami dan adik saya mengikuti di belakang. Melihat proses Dombrut disembelih, saya merasa deg-deg-an. Ternyata prosesnya cepat. Domba saya ditidurkan miring, dan kepalanya diletakkan di atas papan kecil yang mana di bawahnya ada lubang untuk tetesan darah. Setelah membaca doa (nama saya disebutkan dalam doa), Pak Ustadz dengan pisaunya yang tajam memotong urat leher Dombrut. Dombrut menggelepar. Dan kematiannya diiringi oleh takbir… Saya pun terharu…

Walaupun urat leher sudah diputus, tapi bukan berarti Dombrut langsung kaku tak bergerak. Perlu beberapa menit untuk itu. Baru setelahnya Dombrut digantung, kepalanya digolok sampai putus, kulitnya disayat dan dipotong-potonglah dagingnya. Sebagai pengkurban saya dapat bagian paha kiri kaki depan. Alhamdulillaah

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan rezekinya kepada saya, supaya tahun depan saya bisa berkurban lagi. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s