Jangan Marah

Standard

Hembusan kipas angin menerpa wajah saya yang basah. Saya melamun dalam penyesalan. Menyesal karena tidak bisa menahan amarah, yang akhirnya berujung pada perdebatan tak bermakna. Hanya sekadar buang-buang tenaga. Lawan bicaranya orang gila pula!

Teringat satu kisah, sahabat Nabi meminta wejangan hidup. Dijawab Rasulullah, “Jangan marah.” Lalu, sahabat itu meminta wasiat lainnya. Dijawab yang sama, “Jangan marah.”

Akh! Benar sekali ya Nabi. Saya marah, saya malah jadi kayak orang gila juga. Padahal ada sahabat Nabi yang membatalkan perang hanya karena sedang dirasuki amarah. Dan bukankah Rasulullah menyarankan untuk menjauhi perdebatan? Harusnya saya cuek aja ya. Salah banget meladeni orang sakit jiwa.

Syetan akan berusaha keras bikin anak Adam menumpuk dosa. Syetan punya banyak anak buah di muka bumi. Mereka akan mengutus siapa pun untuk bikin anak Adam hilang kendali. Termasuk juga urusan marah-marah. Kalo kita gagal menahan amarah, berarti kita sama saja meladeni syetan. Maafkan saya ya Allah… Nabi saja pergi meninggalkan Abu Bakar kala dia gagal menahan kekesalannya. Kata Nabi, “Ketika kamu membalas dia yang sudah menyakitimu, di situ ada setan. Maka saya tidak mau ada di sana.”

…maka apabila salah seorang diantara kalian marah hendaklah ia berwudhu.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

#EdisiBerbenahDiri

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s