Interview: Konser Sinestesia Efek Rumah Kaca

Standard

Sinestesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan indera yang dipakai untuk objek atau konsep tertentu, biasanya disangkutkan dengan indera lain.

Contoh: Bimo menyesal telah terbuai rayuan manis dari wanita yang hanya mengincar uangnya.

“Rayuan” berkaitan dengan indera pendengar. “Manis” berkaitan dengan indera pengecap.

===

Rabu, 13 Januari 2015. Hari di mana konser tunggal Efek Rumah Kaca berjudul Sinestesia berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Memegang tiket VIP yang susah payah dibeli dari Omuniuum, dengan drama tanda beli hilang dan harus dikirim ulang dari Bandung, seorang pria beserta dua temannya duduk menikmati persembahan nan menawan oleh Cholil, Akbar dan Adrian.

===

Wo. Lelaki, menikah, berusia 34 tahun. Insinyur proyek yang nyambi jadi gitaris-vokalis Superego, band yang namanya mulai dikenal di kota minyak Balikpapan.

Wo malam itu datang dengan niat untuk menikmati musik. Tidak sibuk mengambil gambar atau mencatat lagu-lagu apa yang dibawakan. Ya, dia memang tidak berpikir untuk menuliskannya di blog atau media sosial. Namun sayang, istrinya cukup bawel bertanya. Sehingga saat konser usai, dia harus menunda lelap dalam kenyamanan tempat tidur karena harus menjawab keingintahuan wanita tercinta.

image

Gimana konser ERK-nya Beb?

Bagus.

Diam sesaat. Si istri paham suaminya memang tidak jago menggambarkan sesuatu lewat kata-kata.

Panggungnya?

Hmmm… Panggungnya minimalis tapi terlihat keren karena, pake apa sih itu namanya, ya mirip terowongan warna putih. Trus bisa berubah warna.

image

Senyum si istri mengembang. Usahanya memancing jawaban mulai berbuah.

ERK bawain berapa lagu?

Nggak inget. Tapi ada dua sesi. Sesi satu mereka bawa lagu-lagu dari album pertama dan kedua. Sesi dua baru dari album Sinestesia.

Kamu menikmati konsernya?

Banget! Tiap lagu. Arasemennya keren karena pake kayak orkestra biola biola gitu. Apalah namanya. Pokoknya jadi terasa megah, sound-nya mantap. Terasa eksklusif juga nonton ERK di gedung begini.

image

Senyum si istri makin mengembang. Senyum yang selalu hadir karena melihat antusiasme si suami.

Sebanding sama harga tiketnya dong ya?

Kemurahan. Ini satu-satunya konser yang pernah aku datangi di mana harga tiketnya terlalu murah untuk konser sekeren ini.

Udah yuk Beb, aku ngantuk.

image

Si istri mengangguk. iPod dinyalakan dan tak lama mereka berdua pun terbuai dalam balutan lagu “Merah”.

Politik terlalu iblis…
Dan kita teramat manis…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s