Satu Jam Mengenal Thailand

Standard

Namanya Pak Hengky. Topi anyaman ala koboi, dan kacamata hitam gaya yang terselip di kaitan kancing kemeja menjadi ciri khasnya. Kalo bukan karena perkenalan diri, saya tidak menyangka beliau adalah orang Thailand asli. Bahasa Indonesianya bagus sekali!

“Tidak ada les khusus, saya belajar sendiri dan juga dari turis Indonesia yang liburan ke sini,” ungkapnya.

Processed with VSCO with e3 preset

Pak Hengky pribadi yang ramah, lucu dan menyenangkan. Beliau bekerja sebagai pemandu wisata di Plachiva Transport, agen perjalanan yang digunakan oleh Wisata Thailand (otoritas wisata Thailand untuk Jakarta) dan YukMakanCom (portal makanan berslogan “Yang penting enak!”) untuk menemani kami para pemenang lomba menulis bertema kuliner Thailand. Selain saya dan kesembilan penulis lain, perwakilan dari Wisata Thailand, YukMakanCom dan 12 anggota YukMakanCom juga ikut meramaikan liburan 4 hari 4 malam kami di bulan Februari yang lalu.

*Kebiasaan banget late post.*

*Elah, kan udah dibilang terlalu banyak drama kehidupan yang hamba harus lalui.*

Balik ke topik.

Ini adalah pertama kali saya jalan-jalan dalam kelompok besar beserta pemandu. Ternyata asik juga meski kadang nggak bisa santai-santai di satu tempat karena harus mengejar destinasi selanjutnya. Apa yang asik sih? Salah satunya adalah bisa mendengar cerita unik langsung dari penduduk lokal seperti Pak Hengky, terasa beda lho dibanding membaca artikel atau berita. Nih, beberapa hal yang berhasil saya catat tentang Thailand di satu jam pertama sejak rombongan meninggalkan bandara Don Mueang siang itu, untuk menuju Hua Hin.

Jamaah piknik yang berbahagia.

Sebelum Bangkok, rupanya Thailand (dulu dikenal lewat nama Siam) memiliki 3 ibukota: Sukhothai, lalu Ayutthaya, kemudian Thonburi. Pergantian ibukota terjadi tiap kali ibukota pada saat itu mengalami kekalahan perang. Dalam Bahasa Thailand Bangkok disebut Krung Thep Maha Nakhon, atau biar lebih akrab… panggil saja Krung Thep.

Processed with VSCO with e3 preset

Di Bangkok, pembangunan tetap berlangsung di antara sisa-sisa masa lalu… kamu kapan move on? #eh

Siapa sangka Bangkok yang kita kenal padat, memulai pertumbuhan dari sekedar kampung kecil di pinggiran sungai Chao Phraya. Kalo pernah main ke Wat Arun, pasti tau sungai ini. Sungai terbesar di Bangkok yang jadi jalur transportasi utama di zaman dahulu, kala Thailand belum punya jalan raya seperti sekarang.

Processed with VSCO with e3 preset

Niat hati naik ke atas menara Wat Arun untuk melihat sungai Chao Phraya, apa daya Wat Arun masih direnovasi.

Buat kita orang Indonesia, Bangkok identik dengan durian. Mengunjungi Thailand di bulan Juli sampai September? Selamat! Itu adalah bulan-bulan terbaik untuk makan durian Bangkok karena memang sedang musim.

Processed with VSCO with e3 preset

Tetap hore meski datang di bukan musim duren!

Kita memang nggak punya durian Bangkok, tapi ada lho produk Indonesia yang orang Thailand suka, terutama perokok. Coba tebak? Rokok kretek! Negara ini memang tidak menanam cengkeh.

Processed with VSCO with e3 preset

Kayaknya sabi buka warung rokok kretek di pasar terapung Damnoen Saduak.

Oh ya, setuju kan kalo asiknya liburan di Thailand tuh karena apa-apa serba murah? Ya makanan, penginapan, barang… Namun, harga bensin mereka jauh lebih tinggi dari di Indonesia. 1 liter bisa mencapai 40 Baht atau sekitar Rp. 16.000. Wow!

Processed with VSCO with e3 preset

Sesungguhnya harga bensin di Thailand tidak semahal harga emas patung Golden Buddha. Kata Pak Hengky ada 3 ton, kata Wikipedia 5 ton.

Dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, akhir pekan di Thailand merupakan hari yang ramai untuk beribadah. Budaya ibadah mereka cukup unik, dalam sehari mereka harus berdoa di sembilan Wat (kuil) berbeda. Ayutthaya jadi wilayah yang paling sering dikunjungi warga Bangkok karena di sana banyak terdapat Wat yang jaraknya berdekatan satu sama lain.

Processed with VSCO with e3 preset

Bukan di Ayutthaya, tapi tiap daerah di Thailand pasti punya banyak Wat.

Saat ini Thailand masih dalam keadaan berkabung karena wafatnya Raja Bhumibol Adulyadej di Oktober 2016. Sedikit cerita, ternyata Raja Bhumibol Adulyadej tidak pernah sekali pun bepergian ke luar negeri sejak umur 25 tahun. Beliau menjadi raja di usia 19, dan dikenal dekat dengan rakyat. Para petani Thailand mendapat anggaran cukup untuk bercocok tanam karena beliau menyadari bahwa agrowisata menjadi salah satu daya tarik Thailand. Terdengar kabar, sebelum menghembuskan napas terakhir, Raja Bhumibol Adulyadej sempat stress memikirkan banjir di daerah Ayutthaya yang tak kunjung reda setelah 3 bulan lamanya.

Processed with VSCO with e3 preset

Yang seperti ini juga menjadi daya tarik Thailand. Cantik kan saya bangunannya?

Raja menjadi sosok yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Maka tidak heran jika film “The King and I” (konon dianggap menggambarkan raja keempat Thailand) menjadi film yang dilarang tayang. Jika ketahuan memiliki atau menonton film tersebut, siap-siap menerima hukuman potong kepala.

Processed with VSCO with e3 preset

Area terbuka berisi patung-patung ayam yang didedikasikan untuk Raja Taksin karena beliau hobi adu ayam. Raja Taksin adalah satu-satunya raja ketika Thailand beribu kota Thonburi.

Processed with VSCO with e3 preset

Penduduk Thailand juga menghormati para biksu. Di Wat Huay Mongkol ada monumen untuk menghormati biksu yang tinggal 400 tahun lalu.

Nah, ada satu daerah bernama Makassan di Bangkok yang menyimpan sejarah berkaitan dengan orang Makassar. Iya, Makassar di Indonesia. Ceritanya pada abad 16, 200-an orang Makassar tiba di Siam. Mereka berdagang, dan juga menjadi prajurit untuk Raja Siam. Pemimpin orang Makassar saat itu terlibat konflik dengan penasihat Raja Siam, yang berlanjut pada perang antara kelompok orang Makassar dengan Kerajaan Siam. Perang yang membuat keberanian Makassar dikenal karena mereka berhasil membunuh ribuan tentara, meski pada akhirnya kalah juga. Kini Makassan, tempat bermukimnya warga Makassar dulu, telah menjadi wilayah pabrik rel kereta api.

Processed with VSCO with e3 preset

Selain warga Makassar, seorang Amerika bernama Jim Thompson juga kepincut oleh negara dan budaya Thailand. Ini saya berfoto di depan rumah Pak Thompson. Beliau sendiri sudah tidak ada, mendadak menghilang. Rumahnya kini menjadi museum.

Gimana? Gimana? Menarik ya kisah-kisah yang diceritakan oleh Pak Hengky? Mau baca cerita lain selama saya melancong di Negeri Gajah Putih? Nantikan tulisan #TerongGemuk selanjutnya. Mwah!

Advertisements

7 thoughts on “Satu Jam Mengenal Thailand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s