40 Hari Tanpa Mama

Standard

Dear Mama,

Ma, ada satu hal yang Mama nggak tau tentang Lian. Papa, Budi, Yuswo dan semua orang yang dekat Lian juga nggak tau ini. Mereka yang tau justru orang-orang asing, yang mana Lian berani cerita karena Lian tidak akan bertemu mereka lagi, jadi Lian nggak perlu merasa malu.

Lian takut mati. Semua bermula ketika Lian masih kecil. Lian lagi main sendirian di kamar Om Pipin, dari jendela ada arak-arak membawa keranda ditutupi kain hijau dan untaian bunga. Lian penasaran, lalu keluar rumah dan melihat lebih dekat dari pinggir jalan. Dari situ Lian menyadari, akan ada masa orang mati, tidak bisa kembali, dikubur dalam tanah. Pemikiran sederhana Lian sebagai anak-anak adalah kematian mendatangi mereka yang lebih tua. Terbayang Papa akan meninggal duluan, lalu Mama, lalu Lian, lalu Budi.

Lian ketakutan. Lian nggak mau mati, atau mengalami ada anggota keluarga yang mati. Kenapa kita semua nggak hidup sama-sama selamanya, atau hidup sampai sangat-sangat tua bersama? Mungkin Mama ingat, waktu kecil Lian pernah bilang Lian mau berumur sampai seribu tahun. Mama tertawa dan bilang nggak mungkin. Lian balas, kok Nabi Adam bisa? Mama bilang Nabi Adam adalah manusia pilihan.

Ma, sejak saat itu Lian selalu sesak napas setiap mendengar suara ambulans, melihat bendera kuning, atau mendengar berita orang meninggal. Itulah kenapa Lian nggak pernah berobat ke rumah sakit kecuali terpaksa. Lian juga hampir tidak pernah menjenguk orang sakit. Meski Lian tau kematian adalah pasti, Lian selalu membayangkan kita semua akan berumur panjang. Maka ketika hari Allah memanggil Mama untuk selamanya, Lian tidak pernah mempersiapkan hari itu akan datang. Karena Lian selalu berpikir Mama akan ada sampai Lian punya anak, Mama akan ada saat Omar melangsungkan pernikahan.

Ma, tanda-tanda Mama akan pergi memang sudah terasa. Lian sempat mimpi menandatangani surat cuti berduka beberapa hari sebelum Mama meninggal. Mama juga sempat titip pesan siang hari sebelum Mama masuk rumah sakit, supaya Lian dan Budi akur-akur saja. Pesan yang aneh karena Lian dan Budi nggak pernah ribut. Bahkan Om Eken sempat bercerita ketika membonceng Mama di motor, mendadak beban berat Mama serasa hilang di tengah perjalanan. Namun tentu saja kami tidak terpikir apa-apa saat itu.

Jumat, 14 April 2017 jam 20.50. Kalau bukan karena ucapan dokter yang bilang Mama sudah nggak ada, Lian akan mengira Mama cuma sedang tidur sejenak. Tidak ada raut menahan sakit di wajah Mama setelah tindakan pompa jantung yang tim dokter lakukan. Begitu tenang. Seperti sedang tertidur saja. Lian ciumi Mama, Lian peluk, serasa mimpi bahwa malaikat telah menggendong roh Mama pergi. Sejak hari itu, ada lubang kosong menganga di dalam hati Lian. Lubang yang kata Dini bakal terus ada dan nggak akan pernah tertutup oleh waktu. (Dini ini temen Lian Ma, dia kehilangan bapaknya 10 tahun lalu.)

Tidak ada satu pun hari tanpa Lian mengingat segala dosa-dosa Lian ke Mama, janji-janji yang belum Lian tepati, mimpi-mimpi yang belum Lian wujudkan untuk Mama. Segala sesuatu yang Lian lihat, mengingatkan Lian akan Mama. Ingatan-ingatan yang rasanya tidak pernah muncul saat Mama ada, menyeruak membanjiri.

Papa bilang ingin rasanya Papa bertemu Mama tiap hari dalam mimpi. Omar bilang Popoh lagi sakit, Popoh dibacain doa supaya sembuh. Tante Mia bilang tahun ini dia nggak sanggup menyiapkan apa-apa untuk Lebaran, karena cuma Mama lah koki tiap kali keluarga besar ada acara. Budi memang nggak banyak bicara, tapi Lian yakin dia punya kesedihannya sendiri. Erni berangkat kerja dengan perasaan sedih memakai tas Mama. Yuswo teringat saat dia batuk dan Mama menawarkan kerokan, padahal Mama waktu itu juga sedang sakit…

Ma, 40 hari telah berlalu dan Lian masih belajar ikhlas. Lian masih sering berandai-andai. Lian masih suka berharap semu kalau Mama nggak pergi. Mendatangi makam Mama, Lian masih nggak percaya kalau Mama terkubur di dalamnya. Rasanya Lian masih mau mempercayai kalau Mama ada di rumah, bermain dengan Omar, belanja bulanan bersama, memasak untuk kami semua.

Sungguh move on terberat adalah move on dari kepergian orangtua.

Sekarang Lian cuma bisa kirim doa untuk Mama. Semoga Allah memberikan tempat yang baik untuk Mama, melapangkan dan menerangkan kubur Mama. Lian nggak tau seperti apa tempat Mama tinggal sekarang, cuma Lian terkadang membayangkan Mama sebenarnya hanya pindah ke dunia paralel, dunia yang rupanya sama dengan dunia Lian, hanya saja di sana Mama tinggal dengan mereka yang sudah tiada.

Ma, Lian sayang Mama, dan Lian harap Mama tau itu…

P_20170503_133440_1

Processed with VSCO with  preset

Advertisements

14 thoughts on “40 Hari Tanpa Mama

  1. Kehilangan orangtua untuk selamanya pasti rasanya berbeda, ada rasa rindu yang tak pernah tersampaikan…I feel the same loss mba, sudah memasuki tahun ke-3 kehidupan tanpa mama.

  2. Aku kok mau nangis ya baca ini šŸ˜¦ ..langsung keinget mamaku di medan.. Ga tau lah seperti apa nantinya kalo aku sampe hrs ngerasain kehilangan orang tua ini mba šŸ˜¦

    Ikut berduka cita dengan meninggalnya mama ya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s