Lokananta: Museum Musik Satu-Satunya di Indonesia

Standard

Saya ingat, siang itu di Surakarta setelah makan Selat Solo, steak-nya orang Jawa, rasanya jadi pengen langsung balik ke hotel untuk rebahan karena kekenyangan. Tapi, berhubung tiket masuk ke Museum Lokananta sudah dibeli, saya pun tetap meluncur ke sana dan ternyata, itu adalah keputusan terbaik! Berdiri di atas lahan seluas 2 hektar, museum musik satu-satunya di Indonesia ini menyuguhkan ruang-ruang yang bikin saya seakan berada di masa ketika kakek nenek kita menikmati alunan lagu dari gramofon.

Lokananta dulunya merupakan pabrik piringan hitam milik negara. Pada saat itu piringan hitam diproduksi di sini untuk dikirim ke seluruh RRI (Radio Republik Indonesia). Lahir di tahun 1956, sebelum bernama Lokananta, awal mula namanya adalah Indra Vox. Indra, dari kata Indonesia Raya; namun karena Vox terdengar terlalu kebarat-baratan, diubah menjadi Lokananta, bahasa pewayangan Jawa yang bermakna gamelan dari khayangan yang dapat berbunyi sendiri tanpa ditabuh.

Ruang pertama yang saya masuki adalah Ruang Master. Saya melihat lemari-lemari besi berisi master piringan hitam yang usianya sudah tua. Bayangin aja gais, dari 1957! Stasiun TV dan radio kalo mau cari lagu-lagu daerah, koleksi terlengkapnya ya ada di Museum Lokananta. Kalo gak salah catat, ada sekitar 5,600-an master files dan 53,000 keping piringan hitam tersimpan di Lokananta. Saya sempat mendengar rekaman suara Presiden Soekarno berpidato di Surabaya tahun 1959, mengenai kedatangan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev. Merinding. Suara beliau memang magis. Oh iya, master files di Museum Lokananta tentu sekarang sudah didigitalisasi, jadi saya mendengarnya lewat komputer. Melewati puluhan tahun, tidak semua piringan hitam bisa dipasang terus-terusan.

Di Ruang Produksi, pemandu saya Mas Anggit berkisah kalau Lokananta stop memproduksi piringan hitam di tahun 1972. Mereka lalu beralih ke produksi pita kaset sampai sekarang, dan CD juga. Keren banget lho, Lokananta sempat memproduksi untuk Pandai Besi, Mocca, Gigi, hingga Slank. Nggak cuma band besar, band-band indie juga ikut memproduksi rilisan mereka di Lokananta. Bahkan, Lokananta juga sempat merilis banyak pemusik, namun sudah tidak lagi sejak awal tahun 2000-an.

Memasuki Ruang Rekaman, saya dibikin tercengang! Ukurannya se-lapangan futsal! Jadi bisa dibilang, Lokananta merupakan studio rekaman terbesar se-Indonesia. Kenapa bisa gede banget? Soalnya dulu dipake untuk rekaman gamelan dan keroncong. Alat musiknya kan gede juga. Peresmian Lokananta sebagai studio rekaman adalah di tahun kelahiran saya, yaitu 1985. Pak Harmoko yang meresmikan. Hingga kini, Lokananta masih bisa dipakai untuk rekaman, tapi bawa perangkat rekaman sendiri ya. Kayak Slank tuh, tahun 2019 mereka rekaman full album di Lokananta. Satu truk peralatan rekam mereka bawa untuk rekaman selama 5 hari.

Di ruang-ruang lain, saya menghabiskan waktu dengan memandangi pemutar dan alat produksi musik jaman dulu, beserta foto-foto lama. Gedung Museum Lokananta yang mempunyai kesan tua pun jadi tempat asik untuk foto-foto.

Pokoknya kalo kalian ke Surakarta, wajib mampir ke sini. Tiket masuk Rp. 20,000 sudah termasuk pemandu dan merchandise tote bag, stiker, serta kartupos lho. Saya sih, mau datang lagi. Karena Mas Anggit janji mau memperlihatkan master dan piringan hitam Proklamasi. Wuih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s