Menjadi Bagian FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023

Standard

Di penghujung Maret 2023, saya menulis di blog dengan judul Indonesia Batal Jadi Tuan Rumah FIFA U-20 World Cup 2023. Dan seperti yang kalian tau, tiga bulan setelahnya, media memberitakan kalau negara kita kembali ditunjuk untuk menjadi tuan rumah, namun untuk turnamen sepakbola Piala Dunia U-17, karena Peru mengundurkan diri. Di saat bersamaan, saya yang sempat jadi bagian Local Organizing Committee (LOC) untuk U-20, diajak bergabung lagi. Jujur, sempet mikir ketika membuat keputusan terlibat; pada saat itu saya sedang membangun kelas Bahasa Inggris untuk perusahaan karena demi U-20 saya sampe keluar dari tempat kerja. Tapi, karena ini adalah tentang FIFA Volunteer Program, hal yang saya punya minat besar terhadapnya, maka saya pun mengiyakan. Saya yakin saya bisa belajar banyak, dan ditambah lagi, rekan kerja saya dari pihak FIFA adalah Amra Kubat, gadis kelahiran Bosnia yang menjadi teman saya ketika kami sama-sama jadi FIFA volunteers di Piala Konfederasi Rusia 2017 dan Piala Dunia Rusia 2018. It must be fun!

Singkat cerita, sudah hampir 5 bulan saya bekerja sebagai Recruitment and Deployment Manager di divisi Volunteer Management. Bulan-bulan yang saya lewati memang terbukti penuh dengan hal-hal baru yang belum pernah saya alami. Sesederhana pakai Excel, itu hal baru untuk saya yang terakhir pake Excel beserta rumusnya 20 tahun lalu pas SMA. Haha. Belum lagi kultur kerja yang lumayan bikin saya terkejut. Ehe. Saya yang biasanya punya jadwal kerja teratur, namanya guru ye kan, sejak jadi anggota Local Organizing Committee (LOC), tiap hari laptop saya udah nyala dari jam 5 pagi dan baru mati tengah malam. Mau ke mana-mana aja laptop harus saya bawa karena bisa tiba-tiba ada yang harus langsung dikerjakan.

Sekarang, saya lagi di Bandung, mengurus FIFA volunteers di Kota Kembang yang jumlahnya lebih dari 200 orang. Stadion Si Jalak Harupat menjadi saksi kegiatan pemuda-pemudi Bandung yang merupakan denyut jantung turnamen FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023. Mereka yang memiliki jiwa sukarelawan tinggi, niat tinggi menyukseskan kejuaraan ini.

Kalau ditanya, enakan mana, jadi FIFA volunteers, atau jadi yang ngurus? Wah, saya rasa itu tidak bisa dibandingkan. Menjadi FIFA volunteers, tentu memberi pengalaman dan rasa bangga tersendiri. Bayangkan, waktu Piala Dunia Rusia, yang daftar itu lebih dari 170,000 kandidat, yang diterima dari luar Rusia cuma 7% aja. Waktu Qatar, yang daftar 500,000-an, volunteers internasionalnya cuma 5,000-an. Untuk Piala Dunia U-17, dari 100,000 lebih, yang diterima nggak sampe 900 orang! Belum lagi kalo udah pake seragam khusus FIFA volunteers, nggak kaleng-kaleng deh kualitas dan kerennya. Berasa paling kece. Ditambah dengan keuntungan-keuntungan lain, jadi FIFA volunteers emang beda. Awas ye nanya bayaran. Nggak ada bayaran dalam bentuk uang. Kalo kamu jadi FIFA volunteers, kamu bakal tau kalo pengalaman, kebanggaan, pertemanan, dan hadiah-hadiah yang didapat itu melebihi bayaran per hari “sukarelawan” di rata-rata event di Indonesia. (Kata sukarelawan di kalimat sebelumnya sengaja dikutip karena sesungguhnya buat saya, dari namanya aja, sukarelawan, itu harusnya emang nggak ngarep bayaran uang.)

Trus, kalo jadi yang ngurus sukarelawan, gimana? Hmm… Saya emang nggak dapet seragam seperti yang para FIFA volunteers dapet sih, yang disponsori penuh oleh Adidas dan konon untuk Piala Dunia U-17 ini harga satu set-nya aja lebih dari 500 dolar, dan saya juga nggak terlibat langsung dalam kerjaan yang mereka lakukan; tapi saya juga bener-bener belajar banyak. Kayak misalnya, di turnamen FIFA tuh, ada yang namanya Safeguarding. Salah satu tugasnya memastikan kalo perundungan, kata-kata tidak senonoh, tidak terjadi dalam lingkungan turnamen, dan juga memastikan anak-anak di bawah umur 16 tahun datang ke stadion bersama pendamping. Kalo nggak ada pendamping, disuruh pulang, atau kompromi dengan nonton ditemani sukarelawan. Kayaknya, di Indonesia belum ada Safeguarding deh dalam liganya.

Lain hal, cuaca. Bandung entah mengapa selalu dihampiri hujan badai di setiap pertandingan. Tapi, prediksi dari tim Match Operations menurut saya gokil sih. Kalo mereka bilang dalam 15 menit pertandingan udah bisa dimulai, itu bener gais, tau-tau 15 menit kelar ujannya. Dan mereka juga sangat memperhatikan keselamatan. Kalo diprediksi akan ada petir dan kilat, semua yang kerja di lapangan bakal langsung disuruh menyingkir tanpa liat-liat dulu.

Kualitas stadion dalam turnamen FIFA juga bukan cuma dinilai dari megahnya, atau bagusnya. Stadion yang jadi tempat main Liga Inggris atau Liga Italia pun bisa aja nggak memenuhi standar FIFA karena misal, jalur keluar masuk penonton nggak mumpuni, sehingga akan sulit menciptakan crowd management yang baik.

Apa lagi? Secara spesifik, saya jadi tau kalo FIFA seserius itu lho dengan program sukarelawan mereka. Ada banyak aturan yang menjamin kesejahteraan volunteers, seperti no labour job -sukarelawan tugasnya mendukung, maka tidak boleh diberi pekerjaan yang sama dengan staf berbayar, makanan yang disajikan harus sama dengan FIFA, harus ada asuransi, dan nggak boleh ada sukarelawan yang terlihat bosan pada saat bekerja. Ahaha. Ah banyak. Kepanjangan nanti tulisan ini kalo saya jabarkan semua. Oiya, saya juga seneng karena di-mention sama FIFA volunteers di kota-kota lain: Surabaya, Jakarta, dan Surakarta. Meski saya nggak di sana, saya bisa ikut merasakan keriaan dan semangat mereka.

Dan… nggak terasa, besok tinggal satu match day tersisa di Bandung. Setelah thank-you party untuk volunteers terlaksana, saya pun akan kembali ke Depok untuk melanjutkan kerja di GBK Arena sampe akhir Desember nanti. Dari kemarin, lagu-lagu yang diputar di Volunteer Center udah lagu perpisahan semua. It’s crazy how it ends just in a blink of an eye… Bandung, terima kasih untuk semua kenangannya…

One thought on “Menjadi Bagian FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023

Leave a comment