Westlife: The Farewell Concert

Standard

Akhirnya ada juga yang bisa ditulis di bulan Juli ini!! Bisa-bisa saya menyesal banget kalo sama sekali nggak ada cerita. Yah, sebenarnya sih liburan saya minggu lalu bisa jadi bahan, tapi entah kenapa saya lebih kepengen nulis tentang Westlife: The Farewell Concert alias konser terakhir dari boyband asal Irlandia ini.

HAH?? Terakhir?? Jadi mereka bubar??

Iya! Setelah 14 tahun berkarir menghasilkan banyak album, manggung bersama dan meraih penghargaan-penghargaan, akhirnya Shane, Mark, Nicky dan Kian (dulu ada Brian tapi dia hengkang) memutuskan untuk menyudahi semuanya. Konser perpisahan berlangsung di negara asal mereka sendiri 23 Juni 2012 yang lalu, dan ditayangkan di Blitz Megaplex dari Jumat, 27 Juli 2012 sampai Minggu, 29 Juli 2012. Tiket seharga Rp. 125,000 dan layar yang super lebar, menjadikan saya merasa seperti benar-benar berada di tengah lautan penggemar fanatik yang menyaksikan langsung.

Saya minta maaf kalau apa yang saya gambarkan mungkin tidak terlalu detail, terutama mengenai urutan-urutan lagu yang mereka bawakan. Saya begitu tersedot ke dalam konser mereka dan sama sekali tidak sempat menulis catatan. Maka satu-satunya yang bisa saya harapkan hanyalah kemampuan otak yang sudah menua ini.

Awalnya saya mengira kalau penonton konser Westlife harus berpakaian warna-warni, jika dilihat dari lautan penonton yang berwarna-warni cerah. Tapi rupanya sore itu di Croke Park (tempat konser berlangsung) hujan turun, dan warna-warni yang saya lihat adalah warna jas hujan para penonton. Walaupun langit menangis, lokasi konser terisi penuh. Luar biasa!

Lagu perdana yang Westlife nyanyikan adalah “What About Now?” dan disusul dengan “What Makes A Man“. Mungkin kuping saya salah, tapi lirik yang harusnya “This isn’t goodbye” diganti menjadi “This is a goodbye” oleh Shane. Begitu pula lirik “I swear I won’t cry” diganti menjadi “We swear we will cry“. 😦

Lalu berturut-turut mereka menyanyikan lagu-lagu yang pastinya sangat familiar di kuping penggemarnya: Uptown Girl, Queen of My Heart, If I Let You Go, My Love, World of Our Own, dan masih banyak lagi. Aransemen lagunya pun banyak yang berubah, menjadikan konser terakhir Westlife ini begitu spesial. Saya yang menonton sendirian, di tengah-tengah auditorium Blitz Megaplex Central Park, berkali-kali tidak dapat menahan air mata. Saya ikut bernyanyi, ikut terbawa perasaan saat kamera menyorot penggemar yang menangis, dan bahkan Kian dan Shane pun terlihat beberapa kali meneteskan air mata di tengah-tengah lagu yang mereka nyanyikan.

Konser juga diselingi oleh potongan wawancara dengan para personel Westlife tentang bagaimana perasaan mereka dan satu sesi khusus untuk pidato perpisahan dari masing-masing anggota. Shane, Mark, Nicky dan Kian terlihat begitu emosional, begitu bahagia, begitu tersentuh…

Alam pun bertingkah aneh di konser tersebut. Seperti yang saya bilang, di awal-awal hujan turun, seperti bersedih dengan perpisahan ini. Saya pun juga sedih dan menangis. Di tengah konser, hujan berhenti, seperti berkata, “Ya, saya ikhlas melepas kalian.” Tangis saya pun juga sudah berhenti di saat itu. Tapi kemudian, ketika Westlife selesai pidato selamat tinggal, langit kembali menangis seakan berujar, “Saya nggak bisa move on, tolong jangan pergi.” Dan air mata saya juga kembali menggenang.

2.5 jam konser terakhir Westlife ini sangat amat harus ditonton oleh para penggemarnya. Perpisahan yang manis, yang mengharu-biru, dan terutama untuk saya membawa kenangan lebih dalam lagi. Kenangan masa SMP, dimana mereka adalah satu-satunya boyband yang saya suka, sama dengan rasa fanatik saya ke Justin Bieber saat ini. Westlife adalah boyband yang bersih, rapi, baik, wangi, kece, nggak macam-macam, sopan, dan itu semua bukan pencitraan semata. Mereka memang seperti itu apa adanya. 🙂

Oh ya, kalian yang menonton pasti sangat menyukai tarian-tarian yang mereka bawakan. Terutama Mark yang kini menggendut dan terlihat lucu saat menggeal-geolkan pinggul. Ataupun saat Mark lompat, dia yang melompat paling pendek. Jangan khawatir Mark, saya juga begitu! Paling menarik pastinya saat Westlife menyanyi di penghujung acara dan Kian rupanya lupa menutup ritsleting celananya!!

Poster-poster yang ditulis para penonton konser pun menggelitik. Seperti: “I’m now 40, let’s get naughty!” atau “Our Mommy thinks you’re yummy!” Ahahahaha… Saya rasa kalau di tahun 2025 Justin Bieber konser di Indonesia, saya dan anak saya akan membawa poster-poster seperti itu.

Saya sebenarnya menyesal karena tidak pernah sekalipun menonton konser Westlife di Indonesia secara langsung. Saya saat itu masih kecil, saya juga bukan berasal dari keluarga yang mampu membelikan tiket konser. Ketika saya bekerja pun, pekerjaan saya tidak menghasilkan uang untuk bisa membeli tiket konser. Dan ketika akhirnya mereka konser terakhir di Indonesia, walaupun saya sudah cukup mapan, saya saat itu sudah berpaling ke Justin Bieber. 😀

Westlife besar berbarengan dengan besarnya saya dan jutaan penggemar lain… Kami tumbuh mendengarkan lagu-lagu mereka yang sarat pesan tentang cinta dan kehidupan. Mereka akan dirindukan…

Advertisements

3 thoughts on “Westlife: The Farewell Concert

  1. kartika junia sari

    WESTLIFE BALIKAN LAGI DONK…SEDIH N KECEWA WESTLIFE BUBAR…KAPAN YA ADA KONSER WESTLIFE LAGI DI INDONESIA?SEMACAM KONSER REUNI GITU? I HOPE SO…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s