Kasihan Bapak

Standard

Ada yang menyentuh dalam perjalanan menuju rumah kemarin. Sepulang mengajar di Cipayung, seperti biasa saya naik angkot dari Kampung Rambutan menuju Terminal Depok, lalu lanjut angkot arah ke rumah.

Seorang anak kecil, mungkin usianya 5 tahun, naik angkot tanpa bantuan. Dia bersusah payah naik bahkan sampai berpegangan pada pijakan kaki. Di belakang si anak, seorang ibu menggendong bayi menyusul. Lalu seorang bapak berpamitan pada mereka. Rupanya satu keluarga.

Angkot kembali melaju. Saya perhatikan, si anak lelaki 5 tahun itu terus menatap ke arah bapaknya. Terus ditatap, sampai bola matanya mencari-cari ketika si bapak sudah tidak kelihatan. Lalu katanya kepada si ibu, “Kasian Abi sendirian, Mi.”

Ucapan sederhana yang membuat saya tersenyum kecil kepada si anak. Ibunya diam saja. Si anak kembali mengulang ucapan dan dengan sedikit membentak ibunya membalas, “Kasian apa sih? Abi kan kerja.”

Respon yang mengejutkan. Si anak kembali berucap, “Ya kasian aja Mi, Abi sendirian. Kasian.”

Si ibu hilang sabar dan kembali membalas dengan nada lebih keras, raut wajahnya cemberut, “Bawel banget! Orang Abi kerja kok dikasihanin.”

Barulah si anak diam. Tidak lagi berkata-kata tentang Abi. Ibunya tidak menyadari bahwa sesungguhnya si anak merindukan bapaknya…

Semakin kita dewasa, semakin susah memang untuk memahami tingkah polah anak-anak. Akhir pekan lalu sepupu perempuan saya yang masih kecil mampir. Sepulangnya, Mama saya membuka kulkas dan menemukan sebuah magnet untuk hiasan kulkas tergeletak di dalam freezer.

“Aduh si Fira ya! Nakal betul,” kesal Mama. Mama langsung yakin itu perbuatan sepupu saya karena dia memang orangnya gratilan, alias suka bermain-main dengan barang di dalam rumah dan meletakkannya di mana-mana.

Saya awalnya juga sempat merasa apa-apaan anak ini kurang kerjaan banget. Barulah ketika saya melihat magnet yang dia letakkan di freezer, saya mengerti.

“Ma, itu magnet kulkas yang ada temperaturnya. Si Fira kayaknya pengen tau suhu di dalam kulkas berapa. Sayang keburu diajak pulang jadi dia lupa sama misinya.”

Mama saya pun manggut-manggut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s