Sepenggal Keresahan

Standard

Orang yang kamu utamakan, belum tentu ikut menjadikan kamu prioritasnya. Contoh: Ketika kamu pengen makan enak, kamu selalu mengajak si Fulan untuk menemani kamu. Ketika ada film baru yang kamu nantikan, kamu traktir si Fulan nonton bioskop. Dan ketika kamu punya voucher masuk Dufan gratis, lagi-lagi si Fulan yang kamu ingat. Yang kamu mau, ketika kamu bersenang-senang, si Fulan juga harus merasakan kesenangan denganmu.

Awalnya kamu nggak sadar, tapi kemudian seiring sejalan kamu merasa kok si Fulan nggak begitu ke kamu. Kamu pun mulai bertanya-tanya. Apakah si Fulan tidak menganggapmu teman baiknya? Apa si Fulan pikir kamu nggak cukup asik untuk jalan dengannya?

Lalu suara-suara mulai bercericip di dalam kepalamu.

“Kamu itu nggak penting buat si Fulan.”

“Jangan mengharap pamrih kalo kamu berbuat menyenangkan untuk orang.”

“Lho, bukan mengharap pamrih. Awal-awal kan kamu tidak kepikiran apa-apa. Hanya saja sekarang kamu sadar kalo si Fulan tampaknya lebih memilih bersenang-senang dengan orang lain.”

“Sistem tabur tuai pasti berlaku. Mungkin kamu akan menuai kebaikan dari orang lain, tidak harus dari si Fulan. Ikhlas.”

“Kasian sekali si Fulan membuatmu sedih dan kecewa.”

“Hey ingat! Kebahagiaanmu tidak tergantung dari orang lain! Kamu yang harus bisa membuat dirimu bahagia.”

Dan kamu pun tenggelam dalam suara-suara itu. Tenggelam dalam kebingungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s