Menjadi Penumpang Pesawat Yang Baik

Standard

Papa saya termasuk orang yang taat aturan. Hal kecil saja, adik saya nggak diizinkan punya motor dan SIM sebelum usianya cukup secara hukum. Belajar motor silakan, tapi jangan harap bisa ke jalanan, cukup di lapangan. Mungkin karena itu, saya sering terbawa ketaatan yang beliau lakukan, meski kadang malah jadi orang yang “digalakin” karena berusaha mengingatkan. Ada dua kejadian yang saya ingat betul, dan keduanya berhubungan dengan mematikan telepon genggam di dalam pesawat terbang.

Jpeg

1. Digalakin Pak Bule

Waktu itu pesawat AirAsia yang saya tumpangi sedang bersiap menuju Jakarta dari Kuala Lumpur. Di sebelah saya, ada seorang bule yang sibuk mengirim pesan dan membalas email. Saya emang sempet intip dikit, abis penasaran, ini pesawat udah dalam keadaan jalan kok dia masih aja mainin handphone. Dan pinternya, tiap ada pramugari mendekat, dia umpetin itu HP, jadi pramugarinya nggak liat. Karena waswas, saya pun mengingatkan si Pak Bule.

Sir, can you please turn your phone off?” kata saya.

Si bule cuma mengibaskan tangan, tapi teteeep dia kirim pesan.

Sir, we’re about to take off,” kata saya lagi.

Akhirnya dia matiin, trus dia ngomong ke saya, “Are you happy now?” dengan nada tidak menyenangkan. DUH!

2. Digalakin Mbak-Mbak

Ini baru aja kejadian kemarin di pesawat Batik Air. Liburan saya dan suami di Balikpapan usai dan kami bersiap menuju Jakarta. Si Mbak satu ini duduk di samping kanan saya dan masih asik main 2 HP, besar dan kecil, bahkan ketika pesawat juga sudah jalan. Saya sempat kecewa dengan pramugari Batik Air, karena dia cuma sibuk mondar-mandir hitung penumpang, tapi nggak bener-bener perhatiin yang penumpang lakuin. Si Mbak ini nggak sembunyi-sembunyi lho mainin HPnya, jelas blas keliatan itu HP gede bersampul kulit merah.

“Mbak, maaf, telponnya matiin dulu,” kata saya.

“Iya, iya, tau!”

Hahaha… Langsung diketusin.

“Ini kan belum terbang jadi masih boleh,” sambungnya.

Heh?? Lumayan bikin terkesima jawaban si Mbak ini. Padahal kalo dia memperhatikan, sejak dari pesawat dalam kondisi diam pun kita sudah diminta mematikan peralatan elektronik, apalagi ini kondisi pesawat udah jalan. Saya pun hanya geleng-geleng kepala dan melanjutkan main “Word Search” di layar hiburan Batik Air.

“Mbak, saya kasih tau aja ya, Mbak nggak bisa mainin apa-apa di situ kalo dalam posisi pesawat mau terbang,” celetuk si Mbak tiba-tiba.

“Masa?” balas saya ogah-ogahan. Padahal dari tadi saya udah asik ngumpulin poin, paling beberapa kali aja terpotong pengumuman yang muncul di layar. Mungkin si Mbak ini tidak terima diingatkan, jadi dia cari-cari cara untuk ngingetin balik.

“Iya, saya kasih tau aja. Saya juga tau kok HP harus dimatiin, nggak usah dibilangin. Kan pesawat masih jalan Mbak, belum terbang. Ya nggak apa-apa.”

YAELAH MASIH DIBAHAS! Gatel saya mau menekan tombol bantuan, biar si pramugari aja deh yang kasih nasehat, namun urung saya lakukan.

===

Ah, serba salah memang. Kalo diam, berarti kita membiarkan sesuatu yang salah, yang nantinya jadi kebiasaan. Kalo menegur, kadangkala malah kita yang kena “semprot”. Padahal kan kita harus saling menjaga keamanan ya, jangan sampai orang celaka karena perbuatan yang kita lakukan. Semoga temen-temen saya semuanya taat aturan. Have a safe flight!

Advertisements

7 thoughts on “Menjadi Penumpang Pesawat Yang Baik

  1. Sama mbak. Kalo pas lagi mau take off masih ada yg nyalain alat telekomunikasi suka sebel aja liatnya. Mau negur tp dianya udah gede dan ‘harusnya” tau aturan, jd ogah negurnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s