Menginap di Bandara Changi Singapura

Standard

Keluar kocek Rp. 500,000 cuma untuk tidur beberapa jam? Ogah lah kalo untuk pejalan seadanya macem saya. Maka dari itu, di kunjungan terakhir saya ke Singapura, yang mana saya cuma satu hari aja di sana dengan penerbangan balik keesokan pagi jam 7.30, saya pun tidak memesan kamar hotel sama sekali. Beda cerita kalau saya jadi bepergian dengan Mama, saya pasti akan pesan kamar yang nyaman supaya Mama bisa istirahat enak.

Ada dua pilihan sebenarnya, tidur di rumah teman saya Jia Min, atau di rumah Om Wicky. Cuma nih, berhubung pesawatnya aja pagi, dan rupanya jadwal MRT paling pagi ada di atas jam 5, saya nggak mau ambil resiko terlambat. Taksi juga bukan pilihan karena ongkos bisa mencapai Rp. 300,000. Whew!

Ide cukup gila pun muncul. Kenapa nggak tidur di bandara aja? Jadi nanti saya main di kota sampai malam, naik MRT jam 11 ke Changi, lalu tidur sekitar 5-6 jam sampai akhirnya naik pesawat. Sounds like a plan, huh?

Nyatanya, lebih mudah bayangin daripada melakukannya.

Iya, saya jadi keliling Singapura sampai jam 11 malam. Iya, saya tiba di Changi tengah malam. Tapi rupanya… saya nggak bisa early check-in! Petugas bilang karena pesawat saya jam 7.30, saya baru bisa check-in sekitar jam 4.30. Buyar sudah angan saya untuk masuk ke dalam ruang tunggu dan tidur di hamparan karpet lembut yang tebal. Jalan-jalan sebentar, saya pun singgah ke Aviation Gallery di lantai paling atas, saya pikir di sana akan lebih sepi. Eh nggak taunya, mereka lagi ada semacam renovasi jadi berisik banget, belum lagi… ada suara anak-anak tertawa cekikikan yang terdengar sangat jelas saat saya sedang mencoba tidur di kursi tunggu panjang. Duh, jam 1 pagi masa rame suara anak di lantai 3 yang isinya cuma saya dan 4 orang lain? Wujud mereka nggak terlihat pula. Karena nggak nyaman, saya pun turun ke bawah. Memutuskan untuk meringkuk di samping toilet, mencoba memejamkan mata dengan tas gemblok sebagai bantal.

Processed with VSCO with e3 preset

Processed with VSCO with e3 preset

AC di Changi dingin banget! Dari hasil observasi, ternyata model AC mereka itu semacam blower dengan bukaan lebar besar, wajar aja anginnya menusuk tulang. Sweater dan kaos kaki nggak berhasil bikin saya hangat. Tiap setengah jam saya terbangun dalam kondisi menggigil. Catatan buat yang mau tidur di Changi nih, bawa sleeping bag. Haha!

Processed with VSCO with e3 preset

Sekitar jam 4 Subuh, saya udah nggak tahan lagi. Perut kembung, dan memaksakan tidur malah bikin pusing. Saya pun mampir ke kafe terdekat yang buka 24 jam. Sepoci teh peppermint dan salmon sandwich saya pesan untuk menghangatkan lambung. Benar aja kan, setelah satu gelas teh peppermint diteguk, saya pun mulai buang gas. Untung aja sepi, saya bisa puas melepaskan segala kekembungan ini. Lega! Keringat mulai muncul dan badan saya hangat kembali.

Setelah segar, dan kebetulan check-in counter sudah buka, saya pun meninggalkan kafe. Terbayang sudah tidur lelap di pesawat, di bis menuju Depok dan pastinya… dalam kenyamanan tempat tidur di kamar rumah.

Advertisements

24 thoughts on “Menginap di Bandara Changi Singapura

  1. kok serem mba suara anak tp ga keliatan wujudnya hahaha..
    kebayang ih mba pegelnya aku pas mau ke KL nginep di Soeta itu pegelnya minta ampun duduk dibangku besi itu makanya pas nek pesawat subuh lgsg terlelap 😂🤣😂

    • Itu diaaa aku pun jadinya horor. Hahaha… Walah kayaknya kalo di Soetta bakal lebih nggak nyaman deh. Karena gak berkarpet. Di Changi masih mending berkarpet meski bukan yang setebal dan seempuk di ruang tunggu.

  2. Aku pernah ounya rencana tfr di changi, tp rencananya tidur di mcD. Kan ada sofa2. Tinggal pesen apple pie aja, udh deh bisa stay smpe pagi. Pengalaman bnyak org bgitilu. Haha. Gajadi krn pertimbangan hamil ranu wkt itu.

    • McD di terminal berapa yak? Aku di Terminal 3, dan gak bisa early check in jadi terpaksa dah nunggu di luar. Haha… Padahal kalo di dalem bisa meringkuk di belakang kursi panjang, karpetnya tebel.

  3. WAAAH! Biarpun bacanya sambil ngenes2 kasihan, tapi tetep aja ada seru2nya buat cerita pulang nanti hahaha.

    Jadi…. Akan ada nginep di bandara ‘lagi’ nggak, Mbak, setelah ini?

    Senggaknya, ada planning nginep gini gitu ya, Mbak. Bukannya kaya penumpang2 yang nunggu berjam2 tanpa kepastian gara2 pesawatnya delay 😦

  4. iyes AC di Changi ini dinginnya kebangetan wkwkwk malah untuk mengusir dingin duduk di luar yang tempat ngedrop mobil-mobil yang menurunkan penumpang jadi lebih hangat

  5. laksitaagr

    For me sleep in Airport is one of the best experiences hehehehe, I hope Airport in Indonesia give the better facilities like that:”

  6. Agus

    Maaf ni mbak katanya di fasilitas toilet mereka di beri sebuah aplikasi feedback bgtu ya buat penilaian toilet mereka?? Apa bener

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s