Jalan-Jalan di Sumatra Utara

Standard

Papa saya orang Cina Medan. Pertama kali pergi ke Pulau Sumatra, saat itu saya masih kelas empat atau lima SD. Kami sekeluarga: Papa, Mama, saya, dan Budhy naik kapal laut selama 2-3 hari, lalu tiba di Pelabuhan Bakauheni. Saya mengingatnya seakan-akan momen tersebut baru terjadi kemarin. Kami tidur bersama penumpang lain di atas matras biru, tiap sore kami duduk-duduk di luar sambil berharap munculnya lumba-lumba, dan di tiap kesempatan Mama selalu memfoto saya dan Budhy.

Tahun 2007 adalah kali terakhir saya ke Medan. Ada pernikahan saudara kala itu. Setelahnya, selama 10 tahun saya belum pernah lagi datang. Papa pun hanya pernah sekali saja ketika Om saya meninggal 2 tahun lalu. Kadang suka terbersit perasaan malu, negara-negara lain saya datangi, tiket promo liburan saya pantengin, kok untuk mengunjungi saudara jauh jarang sekali?

Maka, ketika adik Papa yang tinggal di Amerika bilang kalo beliau akan datang ke Medan untuk berlibur bersama anak perempuannya, Papa bersemangat ke sana juga. Pun saya dan Yuswo, ditambah adik Mama turut serta. Sabtu, 9 Desember 2017, kami berempat menuju Bandara Kuala Namu dari Soekarno Hatta dengan menggunakan Citilink. Perjalanan 2 jam tanpa kendala, setiba di sana kami menunggu sekitar satu jam sampai Tante Sumey dan Christina sampai dari penerbangan transit Singapura mereka.

P_20171209_143421_BF

P_20171209_150456_vHDR_On

Harta yang paling  berharga adalah keluarga

Akhirnya setelah sejam lebih menunggu, Tante Sumey dan Christina tiba juga. Melihat Papa bisa berpelukan kembali dengan adik dan keponakannya, menjadi adegan yang cukup menyentuh.  Kami langsung meluncur ke rumah Kungkung dan Popoh. Rumah yang dulunya cuma satu petak, dindingnya bilik tipis, dan kesembilan anak mereka tidur bersama-sama. Sepupu-sepupu saya tinggal di sana sekarang karena Kungkung dan Popoh sudah meninggal.

Kaget juga, ternyata keponakan saya di Medan ada banyak! Para sepupu yang dulu terakhir ketemu masih remaja, sudah menikah dan beranak pinak. Haha! Tante Sumey mengadakan pesta makan siang. Tetangga lama datang, dan kami juga mampir ke rumah kerabat yang sudah menua.

Processed with VSCO with  preset

Dari kumpul-kumpul tersebut mengalir kisah masa lalu. Salah satunya tentang pembunuhan yang terjadi di depan gang masuk rumah. Seorang tukang becak ditikam, bersimbah darah, dan selama beberapa lama tante saya nggak berani lewat gang itu lagi. Gang Ubi namanya.

Processed with VSCO with  preset

Lagu tentang sayur kol dan makan anjing

Sehari setelah makan siang bersama, dengan berkendara dua mobil, kami sekeluarga (meski nggak full tim) berangkat menuju Pulau Samosir. Iya dong, wajib melihat Danau Toba kalo lagi ada di Sumatra Utara. Ini adalah perjalanan yang cukup panjang, melelahkan, tapi menyenangkan. Beberapa kali kami berhenti untuk makan Lemang (beras ketan yang dimasak di dalam gulungan daun pisang dan bambu, trus dicocol ke selai srikaya), icip-icip martabak telur Aceh (bedanya dengan martabak telur biasa, martabak telur Aceh ini garing di dalam, telur di luar), dan menikmati burung goreng. Karena sudah masuk wilayah orang Batak, maka banyak restoran yang menyajikan hidangan babi dan anjing. Saya bahkan sempat melihat kepala babi dijual di pinggir jalan.

Berhubung kami meninggalkan Medan ketika matahari sudah tinggi, kami pun ketinggalan kapal feri sore menuju Pulau Samosir. Terpaksa deh, cuma berkeliaran di sekitar dermaga aja. Anak-anak pengamen mondar-mandir minta izin nyanyi. Serius! Mereka sopan banget nanya boleh nyanyi atau nggak. Kalo dibolehin, lagu yang mereka nyanyiin pasti rata-rata tentang diajak makan sayur kol dan daging anjing. Cukup bikin emosi si Christina yang emang pencinta anjing.

Oiya, tempat makan di dermaga menuju Samosir ternyata cukup ramah kantong lho. Awalnya sempet ngira bakal harga patok asal-asalan, eh tapi waktu kami makan Indomie rebus dan es jeruk, per orang nggak sampe Rp. 20,000.

Processed with VSCO with  preset

Dari pulau bertolak ke gunung

Kalo dipikir-pikir, sebenarnya perjalanan kami ini banyakan di mobil daripada wisatanya. Tapi, nggak sedikit pun saya menyesal dengan waktu yang terbuang di jalan karena ini adalah liburan yang mendekatkan kami. Selain bernostalgia, kami juga banyak bertukar cerita tentang kabar masing-masing.

Ketika akhirnya tiba di Pulau Samosir, hari sudah gelap dan hujan turun lebat. Tergopoh-gopoh kami lari ke lobi Samosir Villa Resort, penginapan yang akan jadi tempat kami bermalam. Segala penat segera kami timbun di balik selimut tebal kamar, berujung bangun cukup siang. Puas berenang, sarapan, dan menikmati Danau Toba, buru-buru kami memasukkan koper dan tas ke mobil. Sebelum bertolak ke Brastagi, kami harus segera ambil antrian kapal feri di dermaga, dan jalan-jalan ke beberapa lokasi wisata di Pulau Samosir. Salah satu yang berkesan adalah rumah Bolon (rumah tradisional Batak yang besar menjulang) dan tarian Si Gale-Gale.

P_20171212_075116_vHDR_On

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Konon, jaman dahulu kala ada anak raja bernama Simanggale yang mati dalam perjalanannya memperluas kerajaan. Ayah Simanggale sangat bersedih sampai sakit. Maka, dibuatlah patung yang mirip Simanggale, diisi roh yang menjadikan patung dapat bergerak. Melihat ini, sang raja kembali bahagia dan sembuh. Nama Si Gale-Gale didapat dari nama Simanggale, yang artinya lembut.

Processed with VSCO with  preset

Kelar dari Pulau Samosir, gunung menjadi tujuan berikut. Kami tiba di Brastagi menjelang tengah malam, ada hotel yang akan jadi tempat kami beristirahat malam itu. Meski kamar hotelnya agak serem (awalnya saya dapet kamar di ujung yang begitu masuk langsung bulu kuduk merinding), saya bisa juga tidur. Pagi hari buru-buru mandi, sarapan, dan menikmati bagian belakang hotel yang ternyata cantik banget!!

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Oh iya, di Brastagi kami menyempatkan diri untuk ke Puncak Gundaling dan menatap Gunung Sinabung. Gunung berapi aktif yang disebut-sebut sebagai anak Krakatau. Krakatau sendiri pernah meletus di tahun 1800an, membunuh 35,000 orang, menyebabkan tsunami di Hawai dan abunya terbawa jauh sampai ke negara-negara Eropa. Spekulasi bermunculan, jika Sinabung meletus di kekuatan tertingginya, mungkin itulah akhir dunia…

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

25437427_1777235002307475_504894725_n

Pulang untuk kembali

Perjalanan singkat dan padat Medan-Samosir-Brastagi berakhir di Rabu sore. Saya, Yuswo, dan Om Iwan pulang lebih dulu ke Depok. Setelah memuaskan diri makan duren Medan, kami langsung diantar ke stasiun di kota Medan untuk nanti melanjutkan dengan kereta ke Bandara Kuala Namu. Berkotak-kotak kardus berisi oleh-oleh kami bawa. Melihat para saudara berkumpul mengantar kami pulang, hati saya agak sesak. Saya pasti kembali, janji saya dalam hati.

Advertisements

One thought on “Jalan-Jalan di Sumatra Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s