#CeritaJamKosong #15 Dua Bulan Karantina

Standard

Kayaknya selama Covid19 belum ada obat atau vaksinnya, selama kerja di rumah masih diberlakukan, selama masih ada pembatasan sana sini yang bikin saya gak bisa ke mana-mana, blog TerongGemuk bakal cuma diisi sama curhatan-curhatan di #CeritaJamKosong. Ya abis gimana dong, gak bisa jalan-jalan, gak bisa ke restoran, saya harus nulis apa? Ahaha. Rencana liburan ke Makassar di ulang tahun saya Juli nanti pun nampaknya juga gak terwujud walaupun tiket pesawatnya udah dibeli dari jauh-jauh hari.

Gak terasa ya, udah dua bulan kita harus terbiasa dengan kehidupan baru. Kehidupan yang memaksa kita berkegiatan di ruang itu-itu saja, gak ketemu orang-orang, bentar-bentar cuci tangan, tiap hari bertanya-tanya kapan pandemi ini akan berakhir… Buat saya sendiri kerja di rumah memang terasa seperti liburan gratis di dua minggu pertama; setelahnya? Betapa saya merindukan kehidupan saya yang lama. Sesaknya kereta di perjalanan pulang pergi kerja pun jadi hal yang rasanya saya rela untuk jalani kembali.

Akhir-akhir ini saya mulai resah, gimana kalo ini gak pernah berakhir? Ada banyak ilustrasi atau bahkan film yang menunjukkan kalau masa depan itu bakal tidak menyenangkan, dan saya selalu berpikir “Gak di masa gue.”. Tapi nyatanya? Damn you Covid19. Mungkin ini yang dulu dirasa oleh orang-orang di masa perang. Tiap harinya penuh ketidakpastian, tiap harinya dilanda rasa waswas. Saya si tukang mikir berlebihan ini bisa lho cuma rebahan di tempat tidur sambil kepala disesaki pertanyaan dan dugaan tentang kondisi sekarang, yang semakin diladenin bakal bikin saya makin ketakutan.

Anyway, terlepas dari itu semua, ada banyak hal yang sudah sepatutnya saya syukuri. Bersyukur sampe saat ini masih punya kerjaan, masih punya murid yang diajar, bisa masak tiap hari nyobain beragam resep, bisa putih lagi karena gak kena paparan sinar matahari terik, bisa punya waktu lebih untuk baca, dengerin musik, main video game, bisa tidur lebih cepat, bisa seharian dasteran doang tanpa pake bra; meskipun gak tau juga nanti gimana kalo kondisi gak membaik…

Saya belajar untuk bersyukur juga karena saya ngeliat banyak teman-teman yang harus berjuang lebih keras karena usaha mereka harus terhenti, kehilangan pekerjaan, sampai harus meniti usaha baru dari awal demi bisa ada pemasukan. Makanya selama kerja di rumah saya pasti menyempatkan untuk beli dagangan mereka (terutama makanan) sebagai bentuk dukungan. Pembelian saya mungkin cuma membawa keuntungan beberapa ribu aja, tapi little things matter kan?

Kalian gimana? Apa kabar? Saya tau, kita menghadapi pandemi yang sama, tapi kondisi kita berbeda. Sebagian masih bisa hidup dalam kenyamanan, sebagian harus bersusah payah. Sebagian masih bisa bersama dengan keluarga, sebagian harus sendirian di dalam kamar kos sempit. Dan sangat klise kalo saya berucap we’re in this together. Tapi saya doakan, kita semua, saya, kamu, dia, kalian, mereka, bisa berkumpul kembali. Sehat-sehat juga ya. Ini, saya sisipin video dari Borneo Pride yang berjudul “Berkumpul Kembali”. Biar semangat. 🙂

2 thoughts on “#CeritaJamKosong #15 Dua Bulan Karantina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s