Bukit Bangkirai dan Hutan Mangrove Balikpapan

Standard

Balikpapan, kota di Kalimantan Timur yang telah begitu akrab di telinga saya sejak tahun 2006. Kota Minyak yang banyak memberikan kenangan karena sang pujaan hati (dulu kekasih kini suami) lahir dan besar di sini. Kalau diingat-ingat, sudah sekitar selusin kali saya berkunjung ke Bumi Beruang Madu. Dan bisa dibilang, Balikpapan adalah tempat berlibur favorit saya. Tak hanya keakraban dengan keluarga suami yang saya rasakan, tapi juga keindahan alam Borneo pun saya nikmati tiap kali berkunjung ke sana. Keramahan penduduknya, ketentraman lingkungannya, kemudahan menikmati pantai dan hijaunya pepohonan, ditambah jalur-jalur panjang yang membawa saya ke beberapa wilayah tetangga, menikmati permainya Indonesia.

Semenjak suami tinggal di Depok, kota kelahiran saya, tiap tahun kami selalu mudik ke Balikpapan. Mengunjungi handai taulan, sekaligus berlibur pastinya. Seperti Lebaran yang lalu, tatkala orang lain masih sibuk bertamu ke rumah sanak saudara, saya dan suami malah berkendara ke jembatan kanopi dan daerah konservasi Bakau.

Benar adanya jika Kalimantan identik dengan sungai dan hutan. Begitu pesawat siap mendarat di Bandara Sepinggan saja, kita sudah bisa lihat perbedaan warnanya dengan Jakarta. Kalau dari udara Jakarta tampak coklat dan kotak-kotak, maka Balikpapan tampak hijau dan bergerumbul. Bukit Bangkirai adalah salah satu tujuan wisata kesukaan saya di Borneo. Pertama kali berkunjung di tahun 2007, saya langsung jatuh cinta dengan pemandangannya. Pemandangan hutan dan pepohonan yang saya tatap dari ketinggian 30 meter di atas tanah, lengkap dengan birunya langit dan putihnya awan. Jembatan-jembatan kanopi kokoh menghubungkan satu pohon dengan pohon lain, membiarkan kita menikmati alam dari beragam sisi. Ada total 4 jembatan yang jika digabung maka panjangnya mencapai 64 meter. Cantik, sekaligus menegangkan.

Lalu, siapa sangka kalau di dalam kota Balikpapan sendiri ada pilihan liburan yang bukan hanya menyegarkan mata tapi juga sarat pendidikan?

Mangrove Center, terletak di bagian belakang Perumahan Graha Indah Balikpapan, merupakan pusat perlindungan hutan Bakau yang dijalankan secara swadaya oleh masyarakat sekitar tanpa campur tangan pemerintah. Mangrove Center lebih mengedepankan misi mengenalkan manfaat pohon Bakau ke sekolah-sekolah. Jadi jangan heran kalo warga Balikpapan banyak yang belum tau keberadaan tempat ini.

Menaiki perahu bermuatan sembilan orang, selama satu jam saya dan keluarga suami menyisiri sungai sambil melayangkan pandang ke pepohonan Bakau di wilayah seluas 150 hektar. Dengan suara lantang, berusaha mengalahkan berisiknya mesin, pemandu kami bercerita panjang lebar tentang fakta-fakta menarik seputar Bakau.

Tau nggak sih kalo hutan Bakau menghambat pengikisan pantai dan berfungsi sebagai penahan puting beliung? Selain itu, pohon Bakau juga menyerap karbon 10 kali lebih banyak daripada pohon biasa. Bekantan, ikan, kepiting, buaya suka banget tinggal di hutan Bakau. Maka jangan heran kalau ditebangnya lahan Bakau akan mengakibatkan nelayan sulit mencari ikan di sungai. Ikan-ikan mati karena habitatnya punah, dan mau nggak mau nelayan harus ke tengah lautan, mencari ikan di wilayah terumbu karang. Padahal, terumbu karang juga udah banyak yang rusak! Jangan salahin juga kalo mendadak buaya mampir ke sungai dekat pemukiman warga. Buaya juga perlu tempat tinggal, tapi dia mau ke mana lagi kalo hutan Bakau nggak ada? Jangan kesal pula kalau nanti kita cuma bisa liat Bekantan dalam bentuk badutnya Dunia Fantasi Ancol.

Sedihnya, Bakau kalau ditebang nggak bisa tumbuh lagi. Dia akan membusuk, mati sampai akar. Satu-satunya cara Bakau tumbuh kembali adalah ketika buahnya jatuh dari pohon, dan buah itulah yang akan menjadi pohon Bakau baru. Lah kalo penebangan Bakau makin merajalela, maka habis juga buahnya. Dan hilang sudah kesempatan Bakau untuk “beranak pinak”. Kasian memang jadi Bakau, karena air di hutan Bakau sangat bagus untuk perikanan, maka banyak tangan manusia yang berusaha untuk memilikinya demi kepentingan pribadi.

Huvt! Kesadaran saya melestarikan lingkungan makin besar karena liburan ini. Bukan hanya bersenang-senang, saya pun jadi tambah pintar. Sungguh, pelesir tidak boleh cuma sekedar melepas lelah, tapi harus juga bermanfaat. #Sikap

Advertisements

One thought on “Bukit Bangkirai dan Hutan Mangrove Balikpapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s