The Sperms: Bomb of Silence. Pandemic Just Doesn’t Stop Them.

Standard

Satu hari di bulan November 2019, menjadi momen di mana The Sperms mulai dikenalkan ke publik lewat Instagram stories drummer mereka yang menyajikan potongan-potongan latihan band asal Balikpapan ini. Sampai kemudian di awal pandemi single Menghilang muncul sebagai lagu perdana mereka, diikuti rilisnya album Silent Answers di musim panas 2020 (yang mana beberapa lagunya wara-wiri nangkring di klasemen 3 besar DCDC Djarum Coklat dan masuk kompilasi Revolt-o-Rama volume 2). Disambung Summer Rocking Darling, kini dua tahun sudah The Sperms eksis dalam kondisi pandemi, yang ternyata nggak bikin band ini stop produksi materi lagu. 2 minggu lalu mereka kembali menelurkan satu single berjudul Bomb of Silence.

Kalo kalian inget pelajaran Bahasa Indonesia jaman sekolah dulu, ada bab tentang majas bernama Oksimoron; gaya bahasa yang menggabungkan dua kata dengan makna berlawanan. Contohnya: rahasia publik, kerumunan kecil, serupa namun tak sama… Nggak inget ya? Ahaha. Anyway, judul lagu terbaru The Sperms ini jujurly langsung mengingatkan saya sama Oksimoron. Bomb of Silence; seperti mengandung makna “keheningan yang memekakkan”, bukan? Iya-in aja sudah.

Entah kenapa, single ini ngasih feel enak yang beda di telinga. Saya pikir mungkin karena dengerinnya pake headphones terbaik yang saya punya (tsaaah!), tapi disetel ulang dengan earphones dan speaker lain, nggak berubah tuh. Dipastikan, Bomb of Silence emang sound-nya empuk banget. Comfortable like a warm burrito. Dan, meski si bassist Ochan rekaman di kota yang berbeda, perpaduannya dengan gitar Dede dan Rendy, serta drum Wicky, tetep berkualitas.

Buat saya, mendengarkan Bomb of Silence dari awal sampai akhir terasa seperti menyaksikan anthesis. It’s not an aggressive punk, but you just want to listen to it until it ends. Cek menit 1:45 sampai 2:09. Betapa sisipan nada ritmik di 24 detik itu sangat danceable.

Liriknya sendiri gimana? Well, saya bukan ahli di bidang mengkaji gini-ginian. Di satu bait menyebut “kita”, di bait lain menyebut “mereka”. Di satu bait terkesan seperti bicara tentang meruntuhkan suatu sistem, hilangnya kepercayaan, tapi trus ditutup dengan sebaris kalimat “not too late to say I’m sorry“. Jadi ini tentang siapa? I’m confused too. Biarlah si pencipta lagunya aja yang tau tafsirnya.

Ngomong-ngomong, single Bomb of Silence sebenernya agak telat rilis di Spotify, tapi ya udah lah ya. Finally, here it is! Punk riang gembira khas The Sperms yang kembali sukses menyerang indera pendengaran kita, bahkan rasanya sampai ingin juga berdansa. It’s like punk meets funk. I can imagine how this song will whomp up the crowd once they have a gig. Cheers to The Sperms!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s