Tadi siang di tengah angin dan rintik musim hujan, saya mendekati seorang laki-laki di halte Komdak Semanggi.
“Mas, maaf mau nanya. Tapi mohon jangan tersinggung ya,” kata saya memelas.
“Iya, ada apa?” Raut mukanya tegas, matanya juga.
“Mas ini pengamen atau kebetulan lagi bawa gitar aja?” Saya bertanya demikian karena gayanya nggak seperti pengamen kebanyakan. Rambutnya gondrong, tapi terawat dan potongannya rapi. Kaos hitam John Lennon dan jeans robek-robeknya bersih, tidak ada aroma keringat menyengat yang biasanya saya hirup dari pengamen jalanan.