[Review] Harry Potter and The Cursed Child

Standard

Bam!

Baru halaman 18, saya sudah menutup kisah terbaru Harry Potter yang sedang saya baca. 18 halaman yang membawa imajinasi terbang, menjadikan saya tersenyum-senyum dan dada disesaki kerinduan. Lalu tersadar, semakin saya membaca, artinya kan semakin mendekati akhir cerita. Masih ada ratusan halaman tersisa, tapi saya nggak pengen buru-buru selesai. Ibarat makan kue Nastar enak, pengen diirit-irit biar lama abis.

Continue reading

Advertisements

Mengenalkan “Busy Book” Kepada Omar

Standard

Si Omar mulai susah dipisahkan dari gadget. Selalu minta nonton video Barongsai. Untuk bikin dia lupa sama handphone atau tablet, susah-susah gampang. Mesti saya yang niat mengalihkan, misalnya “Main balon air aaah…” sambil saya beneran melangkah ke dapur dan bikin campuran air dan sampo. Atau, “Eh, main baca-bacaan yuk!!” sambil saya baca buku keras-keras supaya dia penasaran.

Continue reading

[Review] Ransel Mini Keliling Dunia

Standard

Salah satu hal yang suka saya lakukan untuk memperbaiki kualitas menulis adalah dengan blogwalking alias mampir ke blog-blog dan membaca kisah yang para bloggers bagikan. Dari situ saya banyak belajar, karena saya suka menelaah *bahasanya!* gaya menulis dan penuturan mereka, sekaligus dapet banyak informasi menarik.

Backpackology Family Traveller menjadi blog yang beberapa kali saya intip. Mbak Olenka, si pemilik blog, banyak menulis tentang liburan bersama anak-anak dan suami. Kebetulan meski belum dikaruniai anak, saya punya keponakan yang rencananya akan saya ajak berlibur ke Singapura di bulan Oktober mendatang. Blog ini pun jadi referensi supaya Omar yang berusia 3 tahun bisa tetap nyaman selama perjalanan.

Continue reading

[Reply 1988] My First Korean Drama

Standard

Kalau nyokap malas masak karena sesorean nonton serial India Uttaran, maka  drama Korea patut disalahkan karena memalaskan jiwa menulis saya selama dua minggu. Reply 1988 sukses membuat saya terpaku depan layar, membiarkan emosi diobrak-abrik lewat jalan ceritanya.

Saya nggak inget kapan demam Korea mulai masuk Nusantara. Yang jelas, muka-muka bule yang biasa jadi idola, mulai tersisih oleh wajah oriental bermata sipit. Negeri Gingseng jadi omongan; lagu-lagunya terdengar di segala penjuru, DVD film dan serial TV bajakannya laku keras, resep Kimchi-Kimbab-Ramyeon bertebaran, kosmetiknya jadi incaran, les Bahasa Korea dibanjiri pendaftar dan Korea Selatan sendiri pun jadi tujuan wisata hits. Semua mendadak Korea.

Termasuk saya!

Continue reading

SuperDidi: Karena Jadi Ayah Itu, Seru!

Standard

Vino G. Bastian, aktor yang selalu terlihat mempesona tanpa perlu berusaha keras alias memang sudah ganteng dari sononya, terbukti memiliki kemampuan akting serba bisa. Mulai dari peran lelaki penyuka salon di film 30 Hari Mencari Cinta, berlanjut jadi remaja begajulan di Catatan Akhir Sekolah, pria pemberontak di Toba Dreams, dan yang terakhir dan sedang tayang, Vino ditantang bermain sebagai bapak dari 2 anak perempuan.

*****

Continue reading

ARCH Guitar: Bengkel Gitar #1 Balikpapan

Standard

Dunia itu sempit.

“Lo orang Depok??” tanya saya kaget. Saya sedang di Kalimantan Timur. Ngumpul bareng suami dan kawan-kawannya. Yang bernama Arif bilang dia lahir di Balikpapan, tapi besar di Depok dan baru delapan tahun lalu kembali ke Kota Minyak.

“Iya, Pondok Terong sono.”

Makin melotot mata saya. Terkezut. “Nggak jauh dari rumah gue dong! Lo tau jembatan Ratujaya nggak, yang ada TK?”

Continue reading

The Rock Campus Ke-51 Jakarta

Standard

Selepas Maghrib geliat mulai terasa di kafe Rolling Stone Jakarta. Beberapa pemuda datang menenteng alat-alat musik serupa gitar, bas dan simbal drum. Berbalut jaket jins hitam, saya melangkah masuk bersama Wo, vokalis merangkap gitaris band asal Balikpapan, Superego. Kamis, 31 Maret 2016 adalah The Rock Campus ke-51, yang menurut Ezra Simanjuntak merupakan acara di mana kesongongan bermusik itu sah.

Continue reading