Kalau boleh memilih kemampuan super power, saya ingin bisa berkelana ke masa lampau. Waktu kecil saya sangat menikmati karangan Enid Blyton, kisah-kisah tentang para bocah Inggris yang mainnya ke hutan, ladang bunga, sungai dan danau. Kebanyakan kisah beliau ditulis tahun 1920-an sampai 1970-an, bikin saya berangan bisa berada di masa tersebut, berpetualang bersama anak-anak di buku cerita.
Portraits of a Town: Jejak Islam di Bolgar
StandardBerbicara tentang jalan-jalan, ada beberapa negara yang ingin saya kunjungi karena alasan remeh temeh. Irlandia misalnya, selain karena ini adalah negara asal Westlife (band favorit saya waktu SMP), saya juga pengen menatap lapangan rumput hijau nan luas di pedesaan Irlandia. Kanada, obviously where Justin Bieber was born, tapi saya juga ingin bermobil jauh selama beberapa hari, sambil menikmati jalan panjang tak berujung. Lalu Amerika, tepatnya Georgia, bukan hanya karena di sana tempat syuting serial zombies The Walking Dead, saya pun kepincut sisi-sisi jalan sepinya yang ditumbuhi bunga liar.
Pesona Kremlin Kazan
StandardTujuan wisata paling utama di Kazan adalah satu kompleks berisi bangunan-bangunan bersejarah yang dikelilingi dinding tinggi, tebal dan putih. Kremlin namanya. Nama yang tidak asing bukan? Dulu saya pikir Kremlin hanya ada di Moskow, karena nonton film Mission Impossible yang Ghost Protocol. Ternyata kata “kremlin” itu sendiri artinya “benteng” dan ada banyak benteng di Rusia, salah satunya Kremlin di Kazan, tempat yang paling sering saya kunjungi selama tiga minggu menjadi relawan Piala Konfederasi FIFA di sana, selain stadion tentunya.
Kazan Yang Kurindukan
Standard“Why did you choose Kazan?” adalah pertanyaan yang lumayan sering dilontarkan ke saya oleh para relawan asal Rusia. Dan jawaban saya biasanya cukup simple, “Google.”
Dari awal saya memang tidak mau memilih Moskow atau Saint Petersburg. Dua nama yang padahal begitu populer, tapi saya yang memang bukan city girl sama sekali tidak tertarik. Rasanya ingin mencoba kota berbeda.
Terima Kasih FIFA, Terima Kasih Rusia
StandardTidak terasa petualangan tiga minggu menjadi relawan di Piala Konfederasi FIFA 2017 harus berakhir. Portugal melawan Chili jadi pertandingan penutup di stadion Arena, Kazan. Hari itu menjadi hari di mana perasaan saya campur aduk. Tidak rela berpisah dengan teman-teman, tentu saja. Kangen keluarga di Indonesia, iya juga.
Mengejar Cristiano Ronaldo
StandardSiapa coba yang nggak kenal Cristiano Ronaldo? Pemain asal Portugal yang bermain untuk klub Real Madrid. Bukan penyuka bola pun pasti tau nama dan wajahnya.
Beberapa hari sebelum pertandingan Portugal lawan Meksiko diadakan di Piala Konfederasi FIFA 2017, saya pergi ke stadion tempat latihan tim Rubin Kazan Football Club. Dengan petantang-petenteng saya melewati barisan keamanan dan mendadak seorang petugas menyuruh saya berhenti dan melarang saya masuk.
Rupa-Rupa Penonton Sepakbola di Rusia
StandardDi dua tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pekerjaan yang saya lakukan selama Piala Konfederasi FIFA 2017. Ada saat saya bertugas di luar stadion di hari pertandingan, dan itu cukup membosankan karena kurang menantang; saya cuma berdiri saja sambil menunggu kalau ada masalah dengan tiket penonton. Untuk menyiasati supaya lebih ceria, saya dan teman-teman yang bertugas biasanya bergoyang mengikuti irama lagu yang diputar, atau menyapa para penggemar sepakbola yang berdatangan menyemuti stadion.
Antara Kuritza Kartoshkoi, Sandwich Babi dan Minuman Beralkohol
StandardTiga minggu di Rusia, empat kilo lemak badan hilang. Secara ya, di sana nggak bisa stop angkutan umum sembarangan dan nggak ada ojek online, maka saya pun banyak jalan. Lebih dari 10,000 langkah tiap harinya! Makanan berlemak favorit saya macam gorengan juga sama sekali nggak tersedia, kecuali ayam goreng atau burger yang ada di restoran cepat saji seperti McDonald’s, KFC dan Burger King.
Bekerja di Bagian Ticketing Piala Konfederasi FIFA 2017
StandardTiga minggu kabur dari rutinitas mengajar (yang merupakan mata pencarian saya) dan melakukan pekerjaan yang benar-benar baru ternyata sangat menyenangkan! Untuk yang satu ini saya nampaknya harus berterima kasih banget ke English First for Adults, kantor tempat saya bekerja yang telah mengizinkan cuti tak dibayar selama tiga minggu. Saya jadi mendapat satu pengalaman tak ternilai yang akan terus terkenang.
Satu Dunia Sejuta Kawan
StandardMenyambung cerita sebelumnya; tinggal di asrama berarti kita nggak tinggal sendiri. Menjadi relawan untuk acara level internasional seperti Piala Konfederasi FIFA 2017 berarti kita akan mendapat kenalan baru dari berbagai latar belakang. Tiga minggu berada di Kazan Rusia, itu adalah pertama kali saya bertemu banyak orang dari berbagai negara. Mereka yang hanya sekedar papasan lalu bertukar senyum dan salam, sampai mereka yang akhirnya benar-benar menjadi kawan baik.