Hotel Santika Depok: Dekat dan Hemat

Standard

Saya nggak banyak berharap apa-apa ketika akan menginap di Hotel Santika Depok. Beberapa kali saya melewati hotel tersebut ketika pulang belanja dari D’Mall (dulunya bernama Depok Mall). Kecil, tidak terlihat megah. Paling cuma sekedar hotel transit biasa, yang rame kalo orangtua mahasiswa Universitas Indonesia sedang menengok anak mereka yang kuliah, pikir saya.

Continue reading

Pengalaman Menggunakan Jasa Bistip (Bisa Titip)

Standard

Kalo kamu teman saya, kamu pasti tau dong siapa pria idola saya? Yes! Justin Bieber, yang hari ini ulang tahun ke-22, memang penyanyi kesayangan saya.

Sebagai fans, keki berat pas tau album Justin Bieber Purpose edisi Jepang ada 21 lagu, sedangkan Indonesia cuma dapet 18. Pilih kasih banget deh ah! Emang sih sisa lagu lainnya bisa beli di iTunes, tapi sebagai Belieber wajib punya CD fisik. Ye nggak?

Continue reading

Sisa Cerita dari Cilegon

Standard

Hari itu saya memang membawa-bawa kamera. Niatnya mau mampir ke lokasi wisata, mencari bahan menulis. Tapi pelesiran saya ke Cilegon terlalu singkat, kemana-mana tak sempat, bahkan saya sampai telat bertemu suami yang kebetulan ada pelatihan karena asik bersua dengan teman sesama blogger. Jadi, apa yang tersisa dari kunjungan saya ke daerah di wilayah Banten tersebut?

Continue reading

Si Kakek dan Bonekanya

Standard

Ada sepercik cerita tertinggal dari liburan saya di Bali awal Februari lalu. Saat itu saya dan Dini sedang menunggu datangnya pesanan kami di Umah Pizza. Karena dilanda bosan, saya celingak-celinguk memperhatikan sekeliling sampai pandangan saya tertumbuk ke pengisi meja arah jam 4.

Seorang tua renta, bule, berpakaian seperti polisi hutan duduk dengan ditemani boneka. Boneka kucing kata Dini; dari tempatnya dia bisa melihat jelas. Si kakek tersebut berbicara ke si boneka. Seperti mendiskusikan sesuatu. Seperti sepasang sahabat berbincang-bincang. Hanya saja yang saya dan Dini lihat, boneka tersebut tidak membalas, tapi entah di dunia si kakek. Bisa jadi mereka asik ngobrol.

Continue reading

Lapar di Pesawat AirAsia? Ada Santan!

Standard

Mendadak terbangun dari tidur biasanya bikin saya KZL. Lagi enak-enak mimpi, tau-tau ada yang bikin istirahat terganggu. Entah karena nama saya diteriakin, pintu diketuk tamu, atau mendengar suara hujan deras sedangkan jemuran masih di luar (ngacir langsung!). Ada lagi yang ngeselin, yaitu bangun karena mencium aroma masakan di pesawat. Harumnya menguar ke segala penjuru, begitu menggoda… lalu teringat kalo pas beli tiket nggak sekalian pesan makan! Maklum, saya biasanya naik maskapai berbiaya rendah yang nggak menyajikan pengganjal perut secara gratis. Kalo udah begitu, terpaksa deh sabar menunggu sampe troli jajanan melewati kursi saya, dan siap-siap bayar lebih mahal daripada harga sebelum terbang.

Continue reading

Wajah Baru Bandara I Gusti Ngurah Rai

Standard

Apa sih yang kalian rasakan kalo ada di bandara? Nggak sabar mau segera tiba di tempat tujuan? Waswas dan khawatir karena akan berpesawat menengok anggota keluarga yang sakit? Senang akan segera bertemu seseorang yang lama dinantikan? Sedih karena melepas kepergian? Atau merasa dongkol gegara pesawat ditunda? Ah, beragam momen terekam di tempat burung besi mendarat dan lepas landas.

Continue reading

3 Jam di Kuta? Ya Makan dan Belanja!

Standard

Hai! Masih seputar liburan di Bali nih. Kemarin saya udah cerita tentang hal-hal yang saya lakukan selama di Ubud. Nah, sekarang saya mau berbagi sedikit info tempat makan dan oleh-oleh di Kuta. Berhubung jadwal penerbangan pulangnya ada perubahan dari AirAsia, yang tadinya jam 1 siang jadi jam 4 sore, maka tersisalah waktu kosong 3 jam untuk saya dan Dini. Enaknya ngapain? Yuk lanjut baca!

Continue reading

Ngapain di Ubud Bali?

Standard

Kalian tipe pelancong seperti apa? Kalo saya termasuk tipe yang jor-joran di kunjungan perdana, dan santai di kunjungan berikutnya. Sebanyak mungkin tempat akan saya datangi jika itu pertama kali saya berlibur ke daerah tersebut. Selanjutnya jika ada kesempatan datang kembali, maka saya nggak banyak merencanakan mau ini mau itu.

Cucok lah ketika sohib saya Dini mau terbang ke Ubud Bali hanya karena alasan “Gue pengen rileks aja sih.” Iya, saya sendiri udah pernah ke Ubud, udah puas main di Hutan Monyet dan beberapa tempat wisata sekitar. Ajakan Dini untuk liburan kalem pun saya sambut baik.

Continue reading

The Moksha Ubud: Temukan Tenangmu

Standard

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan saya dan Dini di Ubud. Tergopoh-gopoh kami melewati sungai dan gang kecil, menepis butiran air yang turun dari langit. Di depan, koper kami ditenteng oleh seorang Bli dari penginapan yang kami pesan dua bulan lalu. Deras… Dan ketika langkah kami berhenti di pelataran The Moksha, hujan turun makin deras.

Saya dan Dini terdiam. Sedikit menggigil diterpa angin sore. Lalu decakan kagum keluar dari mulut kami berdua. Villa mungil yang dikelilingi sawah dan pepohonan itu dihiasi guratan warna-warni bunga, dan hujan yang mendera makin menyegarkan suasana. Moksha. Bermakna damai dan pencerahan. Di sinilah kami akan beristirahat selama dua hari ke depan.

Continue reading

[Terima Kasih Mass Market] Keranjang Dagang Nenek Muhaya

Standard

Ada taman kanak-kanak di halaman rumah Mami. Namanya TK Darma Bakti. Berdiri sejak tahun 1970-an, Darma Bakti menjadi sekolah anak pertama di lingkungan kami. Dan seperti sekolah pada umumnya, TK milik keluarga Mami ini juga punya “kantin”. Kenapa kantinnya berkutip? Karena memang tidak ada bangunan khusus, pelataran rumah lah yang menjadi lapaknya. Satu syarat utama, makanan yang dijual harus mengenyangkan. Bukan jajanan yang isinya angin doang.
Continue reading