AirAsia’s Ten Awesome Years

Standard

Kejar setoran! Hahaha… Baru inget udah mau penghujung Desember dan belum ada ngetik apapun di blog ini. Pekerjaan baru yang sungguh-sungguh membuat saya sulit melakukan hal-hal yang saya sukai seperti menulis atau bahkan sekedar membaca. Tiba di rumah biasanya jam 11 malam dan bawaannya langsung mau tidur. 😀

Saya cerita tentang buku AirAsia aja ya. Lanjutan dari ini dan ini. Alhamdulillah, di awal Desember kemarin AirAsia mengadakan peluncuran buku mereka yang berjudul “Ten Awesome Years” dan yang mengejutkan adalah saya diundang karena tulisan saya yang menang lomba dimuat di dalamnya. Terharu! Beberapa karangan saya memang pernah dimuat di majalah Bobo dan Gadis, tapi untuk melihat kisah nyata saya ada di sebuah buku (ditambah lagi hadiah menang jalan-jalan ke Nepal), maka nikmat Allah mana yang saya dustakan?

Continue reading

Lapangan

Standard

Apa saja tempat bermain yang masih kamu ingat dari masa kecilmu?

Lapangan. Di tahun 1990-an bisa dibilang rata-rata anak di masa itu pasti banyak menghabiskan sore harinya di lapangan. Seusai tidur siang, atau sepulang sekolah. Saat matahari pelan-pelan turun dan sinarnya tak lagi terik. Saat angin menyiulkan semilirnya.

Continue reading

Seafood 45 Fatmawati: Sensasi Nikmat Pinggir Jalan

Standard

Kesukaan saya makan di warung pinggir jalan sedikit banyaknya dipengaruhi oleh suami. Sejak jaman pacaran, dia sering membawa saya makan di luar; sesekali di restoran, tapi seringkali di tenda-tenda yang menyajikan masakan pinggir jalan. Suami saya agak pemilih, dia punya standar sendiri untuk hidangan yang dibilang enak, menjadikan kami sering mencoba beragam tempat sampai akhirnya dia puas dengan rasanya.

Tadi malam setelah nonton film John Wick (lumayan seru walaupun kurang greget sih latar ceritanya), saya dan suami meluncur ke Jalan Fatmawati. Warung Seafood 45 jadi pilihan suami. 45 adalah nomer bangunan yang pelatarannya jadi lokasi makan. Entah karena kebetulan belaka, atau karena suami saya pernah makan di sana sebelumnya, sajian yang kami pesan rasanya enak banget.

Continue reading

Sepenggal Keresahan

Standard

Orang yang kamu utamakan, belum tentu ikut menjadikan kamu prioritasnya. Contoh: Ketika kamu pengen makan enak, kamu selalu mengajak si Fulan untuk menemani kamu. Ketika ada film baru yang kamu nantikan, kamu traktir si Fulan nonton bioskop. Dan ketika kamu punya voucher masuk Dufan gratis, lagi-lagi si Fulan yang kamu ingat. Yang kamu mau, ketika kamu bersenang-senang, si Fulan juga harus merasakan kesenangan denganmu.

Continue reading

Baru Dan Lama

Standard

Sudah seminggu saya kembali bekerja di Wall Street English, salah satu tempat les Bahasa Inggris ternama di Jakarta dan Bandung. Nggak nyangka, 2 tahun lalu saya meninggalkan tempat ini, dan akhirnya karena tergiur posisi baru dan penghasilan baru #asek saya pun memutuskan untuk berhenti dari sekolah pariwisata dan perusahaan Belanda yang sedang saya ajar, untuk ber-hai kembali, mencari nafkah di wilayah Pondok Indah ini.

Continue reading

Kunjungan Ke Kantor AirAsia

Standard

Mit, apa kabar? Cieee… Gimana rasanya jadi Ratu sehari? Itu lo menang apaan sih?” cecar murid saya, Riko, saat menelpon beberapa malam yang lalu. Ah… Jadi diingatkan lagi saya pada Kamis siang yang terik di Tangerang. Walaupun sudah hampir dua minggu berlalu, tapi ingatan tersebut masih segar dalam benak saya.

Continue reading

Kerasnya Hidup?

Standard

Saya termenung. Barusan saya melihat dua orang remaja cantik berpakaian lumayan seksi dan menarik berseliweran di pintu masuk terminal. Menjajakan rokok. “Merayu” agar dagangan mereka dibeli. Rela “digoda” oleh calon pembeli yang tampaknya kenek dan “preman” terminal situ. Saya jadi bertanya-tanya, apa mereka sungguh-sungguh senang melakukan itu? Demi tambahan uang jajan? Nggak takut diapa-apain kah? Kok tumben promo rokok di terminal begitu? Bukan biasanya di dalam mall?

Continue reading

AirAsia Jadikan Mimpi Dan Cinta Nyata

Standard

Setiap manusia ada untuk mewujudkan mimpi-mimpi manusia yang lain. Seorang guru sekolah dasar mewujudkan mimpi murid-muridnya untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Seorang kakek pensiunan mewujudkan keinginan cucu kecilnya untuk jalan-jalan keliling kota dengan mobil tua yang dikendarainya. Seorang tukang sampah mewujudkan harapan satu kompleks perumahan akan lingkungan yang bersih. Begitu pun dengan Orville dan Wilbur, ketika lebih dari seratus tahun yang lalu mereka membangun pesawat terbang pertama, kedua kakak beradik ini menjadi pionir terwujudnya mimpi manusia untuk bisa mengunjungi tiap belahan dunia.

Continue reading

Madu Mongso Dari Mbah

Standard

Suami saya masih mempunyai seorang Mbah. Walaupun di usia rentanya beliau sudah tidak sanggup berjalan dan harus dipapah, sudah sedikit pikun; Mbah masih bisa diajak berbincang-bincang seperti biasa. Saya mengenal beliau sejak jaman masih pacaran dengan suami, sekitar tahun 2007. Saya pikir, beliau tidaklah terlalu memperhatikan saya. Dalam arti, saya kan memang bukan orang Balikpapan (kampung halaman suami), bertemu beliau pun paling hanya setahun sekali. Tapi ternyata, saya dibuatnya terharu.

Continue reading

Kalah

Standard

Sejak pertama mengenal bola, tim nasional yang selalu saya dukung adalah Argentina. Hanya itu. Tidak ada tim favorit kedua. Jika mereka keluar dari kompetisi, ya sudah, saya tidak mencari tim lain untuk saya bela. Sisa pertandingan saya tonton hanya sekedar untuk memanjakan mata.

Tahun ini adalah Piala Dunia ke-6 yang saya kenal. Sejak awal kompetisi, tidak sekalipun saya berharap tinggi untuk Argentina mengingat selama 5 Piala Dunia terakhir, rekor tertinggi mereka hanya sampai perempat final. Namun begitu mereka lolos dari penyisihan grup dan saya melihat-lihat sisa lawan yang ada, muncul keyakinan cukup besar mereka bisa menjadi juara. Swiss, Belgia, Belanda pun berhasil dikalahkan sampai akhirnya dini hari tadi mereka berhadapan dengan Jerman di final.

Continue reading