Liburan kenaikan kelas bulan Juni dan Juli 1998. Hari-hari saya sebagai anak SMP diisi dengan bergadang nonton pertandingan-pertandingan di Piala Dunia Prancis lewat layar TV, Piala Dunia yang saya ikuti dari awal hingga akhir; berbeda dengan Piala Dunia Amerika Serikat 1994, yang mana ingatan saya sekedar diisi oleh gagalnya penalti Roberto Baggio di final melawan Brazil, tertunduk lesu tatkala tendangannya terlalu tinggi di atas mistar gawang Claudio Taffarel.
Di Piala Dunia Prancis 1998 itulah pertama kalinya saya melihat sekumpulan anak dengan bangga membawa bendera tim nasional masuk ke lapangan sesaat sebelum lagu kebangsaan dikumandangkan. Saya membatin, suatu saat saya mau ada di sana. Harapan yang secara ajaib terkabul 20 tahun kemudian, ketika saya terpilih jadi relawan Piala Dunia Rusia 2018. Saya menjadi salah satu yang beruntung menggenggam bendera raksasa Argentina saat laga melawan Prancis di 16 Besar. Meski tim favorit saya harus gagal melaju ke babak selanjutnya, dan saya hanya bertugas sampai perempat final saja, pengalaman menjadi relawan FIFA sungguh akan selalu saya kenang dan ceritakan.
Continue reading